Feeds:
Posts
Comments

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu : Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-2 di mana dalam artikel ini diungkap kelemahan hujjah Syi’ah dalam usaha mereka menghubungkan ayat Al-Maidah : 67 dan Al-Maidah : 3 dengan peristiwa Ghadir Khum. Continue Reading »

Artikel ini adalah tulisan ke dua yang merupakan sambungan dari artikel sebelumnya di blog ini yaitu  Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-1 , pada tulisan bagian ke dua ini akan banyak dibicarakan mengenai definisi dari kata Maula dan apa makna yang tepat untuk kata Maula yang terdapat pada hadits Ghadir Khum. Continue Reading »

Diantara syubhat-syubhat yang dilancarkan oleh kaum Syi’ah dalam rangka mendiskreditkan generasi awal Islam adalah dengan menampilkan hadits-hadits dari literatur Ahlus Sunnah yang matannya menurut pemahaman mereka tertuju kepada para “sahabat sejati” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Diantara hadits-hadits yang seringkali mereka tampilkan adalah hadits-hadits mengenai dihalaunya sekumpulan orang Islam dari telaga Haudh-nya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pada hari akhir kelak, yang beliau menyebut sekumpulan orang tersebut dengan sebutan “Sahabat” beliau. Hadits-hadits mengenai hal ini telah tercatat di shahih Bukhari dan Muslim dan juga kitab hadits yang lainnya, diantaranya adalah seperti berikut ini: Continue Reading »

SHAHABAT BUKAN MUNAFIK

Di antara Syubhat dari kaum Syi’ah dan kaum mutasyayi’in (kaum yang terpe-ngaruh dengan syubhat Syi’ah) adalah ucapan mereka: “Shahabat nabi itu tidak semuanya mukmin, ada pula di antara mereka yang munafik”, “Masalah iman itu kan masalah ha-ti, bisa jadi pada lahirnya mereka seperti mukmin akan tetapi hatinya kafir”, atau ucapan: “Siapa tahu Abu Bakar dan Umar ternyata munafik”. Ucapan-ucapan syubhat dan tasykik (membikin keraguan) ini sering diucapkan oleh mereka untuk meragukan kemuliaan dan keimanan para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada akhirnya menjatuhkan kedudukan mereka. Continue Reading »

Oleh : Abu Hanan Sabil Arrasyad

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya. Continue Reading »

Rasulullah yang mulia Shallallahu ‘alahi wa ‘ala Ali wa Salam pernah bersabda :

من كنت مولاه فعلي مولاه, اللهمّ والى من واله وعادى من عاداه

Barangsiapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka Ali sebagai walinya, Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.

Dari hadits di atas, kaum Syi’ah mengklaim bahwa Ali-lah yang berhak atas wilayah (kekuasaan khilafah) setelah wafatnya Rasulullah yang mulia ’alaihi ash-Sholatu was Salam, benarkah demikian? Continue Reading »

Dewasa ini kaum Syi’ah semakin gencar mendakwahkan keyakinan mereka kepada umat Islam, tak tanggung-tanggung diantara mereka mau berkorban waktu dan tenaga untuk menekuni kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah dalam rangka untk mencari pembenaran terhadap mazhab mereka dan kemudian mendakwahkannya kepada kaum muslimin Ahlus Sunnah. Continue Reading »

Keunikan dari kisah masuk Islamnya bocah ini adalah bahwa ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari semua agama. Setelah membaca dengan penuh teliti, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang muslim sebelum dia bertemu dengan seorang muslimpun. Continue Reading »

Oleh: Muhammad Ikhsan

PENDAHULUAN

Al-Sunnah adalah salah satu sumber tasyri’ penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Qur’an, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Qur’an sendiri. Itulah sebabnya, di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untuk menjaga dan “mengawal” pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka –misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupun hasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh –misalnya-. Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Continue Reading »

Mengenai pernikahan ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu dengan Ummu Kultsum rahimahallaah, ada beberapa sumber/keterangan yang menyebutkannya. Continue Reading »

Older Posts »