<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>AlFanarKu</title>
	<atom:link href="http://alfanarku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alfanarku.wordpress.com</link>
	<description>Catatan Kecilku Tentang Sang Mercusuar Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 18:39:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alfanarku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/63dc811f8e4f56c39f3d2bf07e317d46?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>AlFanarKu</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alfanarku.wordpress.com/osd.xml" title="AlFanarKu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alfanarku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bara Api di Dasar Laut</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/23/kobaran-api-di-dasar-laut/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/23/kobaran-api-di-dasar-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 12:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'jizat Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[api di dalam laut]]></category>
		<category><![CDATA[tanah berapi di dasar laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin Anda bertanya… : Mengapa Microsoft Corporation begitu Mengetahui tentang Seluk beluk  Windows OS nya ? bahkan mereka mengetahui dengan begitu Detail ! Dan begitu juga dengan Pihak Google,mengapa mereka benar-benar sangat paham mengenai Android ? Selain itu ,Mengapa juga Pihak RIM sangat Mengerti tentang BlackBerry ? Anda sangat Cerdas untuk Menjawabnya ,bukan : “; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=729&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mungkin Anda bertanya… :</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa Microsoft Corporation begitu Mengetahui tentang Seluk beluk  Windows OS nya ? bahkan mereka mengetahui dengan begitu Detail !</p>
<p style="text-align:justify;">Dan begitu juga dengan Pihak Google,mengapa mereka benar-benar sangat paham mengenai Android ?<br />
Selain itu ,Mengapa juga Pihak RIM sangat Mengerti tentang BlackBerry ?</p>
<p style="text-align:justify;">Anda sangat Cerdas untuk Menjawabnya ,bukan : “; ya, sudah tentu mereka tahu…Karena Merekalah yang benar-benar membuatnya !”</p>
<p style="text-align:justify;">Timbul pertanyaan, Lalu Siapakah yang Mampu Mengetahui Seluruh dimensi ALAM SEMESTA ini ?<br />
ya Apapun Alasannya…kita sepakat !</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hanya Sang Penciptalah yang Mampu &amp; Benar-Benar Mengetahui Tentang Ciptaan-Nya !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> <em>“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ”</em> (QS Fushshilat :53)<span id="more-729"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Subhanallah! Baru-baru ini muncul sebuah fenomena retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-luah, ia tidak bisa memadamkan api.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://alfanarku.files.wordpress.com/2012/01/underwater-volcano1-300x211.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-730" title="underwater-volcano1-300x211" src="http://alfanarku.files.wordpress.com/2012/01/underwater-volcano1-300x211.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya: &#8220;Dan laut yang di dalam tanahnya ada api&#8221;</em> (Qs. Ath-Thur 6).</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi SAW bersabda: <em>&#8220;Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.&#8221;</em>(HR Abu Dawud)</p>
<p><strong>Ulasan Hadits Nabi</strong><br />
Hadits ini sangat sesuai dg sumpah Allah SWT yang  dilansir oleh Al-Qur’an pada permulaan Surah Ath-Thur, di mana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yang tidak membutuhkan sumpah apapun demi lautan yang  di dalam tanahnya ada api &#8220;al-bahrul masjur.&#8221; Sumpahnya:</p>
<p><em>&#8220;Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma&#8217;mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya.&#8221;</em> (Qs. Ath-Thur: 1-8)</p>
<p>Bangsa Arab, pada waktu diturunkannya Al-Qur’an tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang  di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna “sajara” sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yang  bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang  rusak salah satunya?</p>
<p style="text-align:justify;">Persepsi demikian mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT: <em>&#8220;Dan apabila lautan dipanaskan&#8221;</em> (QS. At-Takwir 6).</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, hadits Rasulullah SAW yang sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai &#8216;gunung-gunung tengah samudera&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan. sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan &#8220;fenomena perluasan dasar laut dan samudera.&#8221; Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.</p>
<p style="text-align:justify;">Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja “sajara” selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata &#8220;sajara,&#8221; yaitu “mala&#8217;a” dan “kaffa” (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda: &#8220;Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.&#8221;<br />
Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir &amp; cuma dengan peralatan modern abad 20.</p>
<p style="text-align:justify;">Gunung laut terdekat dari Saudi Arabia, tempat diturunkan Qur’an 1400 tahun yg lalu, ialah berada di Laut Arab, iaitu sekitar 800 Km di Timur Selatan negara Oman, tak mungkin Rasulullah Muhammad SAW pergi &amp; menyelam sejauh itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur&#8217;an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”</em> (QS. An-Najm 3-10)</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak seorang pun di muka bumi ini yang mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran fakta ini dalam hadis Rasulullah SAW benar-benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang menegaskan kenabian Muhammad SAW dan kesempurnaan kerasulannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Pembuktian Sains dalam Sunnah buku 1, karya Dr. Zaghlul An-Najjar.<br />
2.    Video http://www.facebook.com/home.php?#!/video/video.php?v=370011087607&amp;ref=mf<br />
3.  http://myth4.student.umm.ac.id/2011/08/11/subhanallah%E2%80%A6-di-bawah-lautan-ada-api-dan-di-bawah-api-ada-lautan/</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/23/kobaran-api-di-dasar-laut/"><img src="http://img.youtube.com/vi/tpy4eNFrC4g/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/729/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=729&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/23/kobaran-api-di-dasar-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alfanarku.files.wordpress.com/2012/01/underwater-volcano1-300x211.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">underwater-volcano1-300x211</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tarif Nikah Mut&#8217;ah di Iran</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/16/tarif-nikah-mutah-di-iran/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/16/tarif-nikah-mutah-di-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 08:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[mut'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Sejak lama, Yayasan Astan Quds al-Ridhawy –yang merupakan sebuah yayasan yang mengurus wakaf dan urusan agama serta beberapa perusahaan bisnis besar di dalam dan di luar kawasan Khurasan- telah mengumumkan permintaan untuk mendatangkan para gadis yang umurnya berkisar antara 12 hingga 35 tahun untuk melakoni profesi Mut’ah (sejenis pelacuran yang “halal”!!) Pengumumun ini muncul setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=724&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sejak lama, Yayasan <em>Astan Quds al-Ridhawy</em> –yang merupakan sebuah yayasan yang mengurus wakaf dan urusan agama serta beberapa perusahaan bisnis besar di dalam dan di luar kawasan Khurasan- telah mengumumkan permintaan untuk mendatangkan para gadis yang umurnya berkisar antara 12 hingga 35 tahun untuk melakoni profesi Mut’ah (sejenis pelacuran yang “halal”!!)</p>
<p style="text-align:justify;">Pengumumun ini muncul setelah semakin bertambahnya permintaan terhadap servis Mut’ah dari para turis yang datang ke Kota Masyhad, demi menciptakan iklim spiritual yang nyaman bagi para turis (tentu saja untuk kalangan pria dari mereka!!), serta untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui pelaksanaan ritual ini.<span id="more-724"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Berikut terjemahan dokumen pengumuman tersebut:</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p style="text-align:justify;">Nikah itu adalah sunnahku</p>
<p style="text-align:justify;">Yayasan <em>Astan Quds Ridhawy </em>(Propinsi Masyhad, Kota al-Ridha, Iran) mengumumkan tentang maksudnya untuk mendirikan sebuah markas tempat melangsungkan akad nikah untuk waktu pendek (<em>short time</em>!) di dekat kuburan Imam al-Ridha alaihissalam, demi meningkatkan iklim spiritual dalam masyarakat dan demi menciptakan iklim ruhani dan ketenangan bagi kawan-kawan peziarah yang mengunjungi kawasan makam Imam sementara mereka jauh dari keluarga mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu, maka pihak Yayasan meminta kepada seluruh akhawat mukminah yang masih perawan, yang usianya belum melampaui 12 sampai 35 tahun, pihak Yayasan mengajak mereka untuk memberikan bantuan dan terlibat dalam proyek ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Masa kontrak bagi akhawat yang mau terlibat dalam pekerjaan ini adalah 2 tahun, dan yang menjadi kewajiban bagi akhawat yang terikat kontrak dengan Yayasan al-Ridhawy adalah melakukan Nikah Mut’ah selama 25 hari setiap bulan selama masa kontrak kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan masa kontrak akan dihitung dari bagian masa kerja, dan masa kerja untuk setiap akad (Mut’ah) berkisar antara 5 jam hingga 10 hari dengan setiap pria.</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai bayaran yang ditetapkan untuk setiap akad Mut’ah dalam penjelasan berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;" start="1">
<li>Mut’ah 5 jam : 50.000 Tuman (50 Dolar)</li>
<li>Mut’ah 1 hari: 75.000 Tuman (75 Dolar)</li>
<li>Mut’ah 2 hari: 100.000 Tuman (100 Dolar)</li>
<li>Mut’ah 3 hari: 150.000 Tuman (150 Dolar)</li>
<li>Mut’ah 4 s/d 10 hari: 300.000 Tuman (300 Dolar)</li>
<li>Sementara para perempuan yang baru pertama kali melakukan nikah Mut’ah akan mendapatkan bayaran 150.000 Tuman sebagai pengganti penghilangan keperawanannya!</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pent: Muhammad Ihsan Zainuddin,</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : <a href="http://www.aansar.com/news.php?action=show&amp;id=1775">http://www.aansar.com/news.php?action=show&amp;id=1775</a></p>
<p style="text-align:justify;">www.syiahindonesia.com</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel terkait di blog ini :</p>
<p><a href="http://alfanarku.wordpress.com/2011/03/04/menjawab-syubhat-syi%E2%80%99ah-tentang-mut%E2%80%99ah/">Menjawab Syubhat Syi’ah Tentang Mut’ah</a></p>
<p><a href="http://alfanarku.wordpress.com/2010/12/04/praktek-mut%E2%80%99ah-kaum-syi%E2%80%99ah-khusus-dewasa/#more-407">Praktek Mut’ah Kaum Syi’ah (Khusus Dewasa)</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/724/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=724&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/16/tarif-nikah-mutah-di-iran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Benar Abu Hurairah telah Lupa Hadits “Tidak Ada Penyakit Menular”?: Membantah Syubhat Rafidhi Nashibi</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/08/apakah-benar-abu-hurairah-telah-lupa-hadits-tidak-ada-penyakit-menular-membantah-syubhat-rafidhi-nashibi/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/08/apakah-benar-abu-hurairah-telah-lupa-hadits-tidak-ada-penyakit-menular-membantah-syubhat-rafidhi-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 14:15:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[abu hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan abu hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[membantah syubhat syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Seorang syi’i rafidhi nashibi mempermasalahkan hadits riwayat Abu Hurairah yang menceritakan tentang do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam untuknya agar dia tidak lupa dalam menghapal hadits-hadits beliau. Sangat jelas dapat ditangkap apa maksud dari si rafidhi nashibi ini mempermasalahkan hal tersebut, tidak lain adalah dalam rangka mendiskreditkan Abu Hurairah sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=716&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seorang syi’i rafidhi nashibi mempermasalahkan hadits riwayat Abu Hurairah yang menceritakan tentang do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam untuknya agar dia tidak lupa dalam menghapal hadits-hadits beliau. Sangat jelas dapat ditangkap apa maksud dari si rafidhi nashibi ini mempermasalahkan hal tersebut, tidak lain adalah dalam rangka mendiskreditkan Abu Hurairah sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.<span id="more-716"></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْفُدَيْكِ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا فَأَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُ فَغَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ حَدِيثًا بَعْدُ</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik dari Ibnu Abi Dziib dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu yang berkata aku berkata “wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa, Rasulullah berkata “hamparkan selendangmu” maka aku menghamparkan kemudian Beliau menciduk sesuatu dengan tangannya dan berkata “ambillah” aku mengambilnya. <span style="text-decoration:underline;">Maka setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis</span> <strong>[Shahih Bukhari 4/208 no 3648]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">حدثنا قتيبة بن سعيد وأبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب جميعا عن سفيان قال زهير حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن الأعرج قال سمعت أبا هريرة يقول إنكم تزعمون أن أبا هريرة يكثر الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم والله الموعد كنت رجلا مسكينا أخدم رسول الله صلى الله عليه و سلم على ملء بطني وكان المهاجرون يشغلهم الصفق بالأسواق وكانت الأنصار يشغلهم القيام على أموالهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه ثم ضممته إلي فما نسيت شيئا سمعته منه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya dari Sufyan [Zuhair berkata] telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Zuhriy dari Al A’raj yang berkata aku mendengar Abu Hurairah berkata sesungguhnya kalian mengira bahwa Abu Hurairah sangat banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Allah Maha memenuhi Janji. Aku dahulu adalah orang miskin yang menyertai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] demi makanan untuk mengisi perutku. Sedangkan orang-orang Muhajirin disibukkan oleh perniagaan mereka di pasar pasar dan orang orang Anshar disibukkan dengan harta harta mereka. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda <span style="text-decoration:underline;">“barang siapa yang membentangkan pakaiannya maka ia tidak akan lupa sedikitpun apa yang ia dengar dariku”</span>. Maka aku pun membantangkan pakaianku hingga Beliau selesai bersabda kemudian aku tangkupkan pada diriku, sejak itu aku tidak pernah lupa sedikitpun apa yang aku dengar dari Beliau </em><strong><em>[Shahih Muslim 4/1939 no 2492]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَقَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ يَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَدْ أَكْثَرَ وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ وَيَقُولُونَ مَا بَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يَتَحَدَّثُونَ مِثْلَ أَحَادِيثِهِ وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ إِنَّ إِخْوَانِي مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ عَمَلُ أَرَضِيهِمْ وَإِنَّ إِخْوَانِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا وَلَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَيُّكُمْ يَبْسُطُ ثَوْبَهُ فَيَأْخُذُ مِنْ حَدِيثِي هَذَا ثُمَّ يَجْمَعُهُ إِلَى صَدْرِهِ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْسَ شَيْئًا سَمِعَهُ فَبَسَطْتُ بُرْدَةً عَلَيَّ حَتَّى فَرَغَ مِنْ حَدِيثِهِ ثُمَّ جَمَعْتُهَا إِلَى صَدْرِي فَمَا نَسِيتُ بَعْدَ ذَلِكَ الْيَوْمِ شَيْئًا حَدَّثَنِي بِهِ وَلَوْلَا آيَتَانِ أَنْزَلَهُمَا اللَّهُ فِي كِتَابِهِ مَا حَدَّثْتُ شَيْئًا أَبَدًا { إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى } إِلَى آخِرِ الْآيَتَيْنِ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ عَنْ شُعَيْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّكُمْ تَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Muslim, 45.161/4549. Berkata Ibnu Syihab; dan berkata Ibnu Al Musayyab bahwa Abu Hurairah pernah berkata; &#8216;Orang-orang mengatakan bahwasanya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberinya kesempatan bersama Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihiwasallam.&#8217; Orang-orang berkata; &#8216;Mengapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meniwayatkan hadits sebanyak riwayat Abu Hurairah? Saya (Abu Hurairah) akan memberitahu kalian tentang hal ini: Saudara-saudara saya dan kaum Anshar sibuk bertani dan saudara-saudara saya dan kaum Muhajirin sibuk berjual beli di pasar. Sementara saya senantiasa menyertai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, hingga saya lebih banyak mendengar sabda beliau. Saya hadir ketika mereka, para sahabat dari kaum Anshar dan Muhajirin, tidak hadir dan saya hapal ketika mereka lupa. Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: Siapakah di antara kalian yang sudi membentangkan bajunya untuk menampung sabdaku ini? Setelah itu, ia tempelkan bajunya itu ke dadanya, karena dengan begitu ia tidak akan pernah melupakan satu hadits pun yang pernah ia dengar dariku. Mendengar pernyataan Rasulullah itu, maka saya bentangkan kain selendang saya hingga Rasulullah selesai bersabda, Kemudian saya tempelkan selendang tersebut ke dada saya. Semenjak itu, saya tidak pernah melupakan satu hadits pun yang beliau sabdakan kepada saya. Seandainya tidak ada dua ayat Al Qur an yang diturunkan Allah, tentu saya tidak akan pernah menyampaikan satu hadits pun yang pernah saya dengar. Kedua ayat tersebut adalah: &#8216;Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Qur&#8217;an, maka, mereka itu akan dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang bisa melaknat, kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itulah aku menerima taubatnya dan Aku Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang&#8217; (QS. Albaqarah 159). Dan telah menceritakan kepada kami &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdur Rahman Ad Darimi; Telah mengabarkan kepada kami Abu Yaman dari Syu&#8217;aib dari Az Zuhri; Telah mengabarkan kepadaku Sa&#8217;id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin &#8216;Abdur Rahman bahwa Abu Hurairah berkata; Sesungguhnya kalian mengatakan, mengapa Abu Hurairah banyak mengafal Hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam..dan seterusnya dengan Hadits yang serupa.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits di atas adalah shahih, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam telah mendo’akan Abu Hurairah agar dia tidak lupa hadits-hadits dari beliau. Ini adalah keutamaan Abu Hurairah yang tidak diberikan kepada sahabat yang lain yaitu agar tidak lupa akan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang dia dengar. Tetapi perlu dicatat bukan berarti Abu Hurairah adalah seorang yang ma’shum, dia mendapatkan keutamaan dalam hal tidak lupa terhadap hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam saja tetapi tidak dalam masalah-masalah yang lain. Selain terhadap hadits-hadits yang dia riwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dia bisa saja lupa karena memang tidak ada jaminan atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian si rafidhi nashibi ini menukil sebuah riwayat di bawah ini, yang dengan riwayat ini dia ingin mementahkan hadits-hadits Abu Hurairah di atas, yang dia ingin katakan adalah bahwa hadits-hadits di atas adalah keliru atau Abu Hurairah sebenarnya telah berdusta, karena Abu Hurairah ternyata  pernah lupa mengenai hadits.</p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">حدثني أبي قال حدثنا عبد الأعلى عن معمر عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا عدوى ولا صفر ولا هامة فقال أعرابي يا رسول الله ما بال الإبل تكون في الرمال كأنها الظباء فيخالطها البعير الأجرب فتجرب كلها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فمن أعدى الأول قال أبو سلمة ثم سميت أبا هريرة بعد ذلك بزمان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يوردن ممرض على مصح فقال رجل أما حدثتنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال لا عدوى فقال لا قال أبو سلمة فما سمعته نسي حديثا قط قبله وأشهد بالله لقد سمعته منه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Tidak ada ‘adwa [penyakit menular], tidak ada shafar dan tidak ada hamah”. Seorang arab badui berkata “wahai Rasulullah bagaimana dengan sekelompok unta yang sehat di padang pasir kemudian didatangi oleh unta yang terkena kudis maka unta-unta itu terkena kudis semuanya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “lalu siapa yang menulari unta pertama?”. Abu Salamah berkata “kemudian aku mendengar Abu Hurairah setelah itu mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” seorang laki-laki berkata <span style="text-decoration:underline;">“bukankah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau bersabda “tidak ada ‘adwa [penyakit menular]”</span>. Abu Hurairah berkata <span style="text-decoration:underline;">“tidak”</span> Abu Salamah berkata “<span style="text-decoration:underline;">aku tidak pernah mendengar ia [Abu Hurairah] lupa soal hadis sebelumnya dan aku bersaksi demi Allah sungguh aku telah mendengar hadis itu darinya</span>” </em><strong><em>[Al Ilal Ma’rifat Ar Rijal Ahmad bin Hanbal juz 3 no 4865 &amp; 4866]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin jika kita tidak berusaha meneliti riwayat yang berkaitan dengan apa yang dinukil oleh si rafidhi nashibi di atas, kita akan mudah termakan oleh syubhat si rafidhi nashibi tersebut, mari kita perhatikan hadits riwayat Muslim berikut ini yang menjelaskan riwayat Ahmad di atas dengan lebih lengkap.</p>
<p style="text-align:justify;">و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُهُمَا كِلْتَيْهِمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ صَمَتَ أَبُو هُرَيْرَةَ بَعْدَ ذَلِكَ عَنْ قَوْلِهِ لَا عَدْوَى وَأَقَامَ عَلَى أَنْ لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ قَالَ فَقَالَ الْحَارِثُ بْنُ أَبِي ذُبَابٍ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ أَبِي هُرَيْرَةَ قَدْ كُنْتُ أَسْمَعُكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تُحَدِّثُنَا مَعَ هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثًا آخَرَ قَدْ سَكَتَّ عَنْهُ كُنْتَ تَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى فَأَبَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنْ يَعْرِفَ ذَلِكَ وَقَالَ لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ فَمَا رَآهُ الْحَارِثُ فِي ذَلِكَ حَتَّى غَضِبَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَرَطَنَ بِالْحَبَشِيَّةِ فَقَالَ لِلْحَارِثِ أَتَدْرِي مَاذَا قُلْتُ قَالَ لَا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قُلْتُ أَبَيْتُ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ وَلَعَمْرِي لَقَدْ كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى فَلَا أَدْرِي أَنَسِيَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَوْ نَسَخَ أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ الْآخَرَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَحَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنُونَ ابْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَيُحَدِّثُ مَعَ ذَلِكَ لَا يُورِدُ الْمُمْرِضُ عَلَى الْمُصِحِّ بِمِثْلِ حَدِيثِ يُونُسَ حَدَّثَنَاه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Muslim, 40.99/4117. Dan telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir dan Harmalah dan lafazh keduanya tidak jauh berbeda. Keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab bahwa Abu Salamah bin &#8216;Abdur Rahman bin &#8216;Auf Telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8216;Tidak ada penyakit menular .&#8217; Dan dia juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda juga: &#8216;Yang sakit jangan mendekat kepada yang sehat! &#8216; Abu Salamah berkata; &#8216; Abu Hurairah menceritakan kedua Hadits tersebut dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">Kemudian setelah itu Abu Hurairah diam dari sabda Rasulullah tentang; &#8216;Tidak ada penyakit menular.&#8217; Dia memegang Hadits; &#8216;Yang sakit tidak boleh mendekat kepada yang sehat.</span>&#8216;</span></strong> Perawi berkata; Al Harits bin Abu Dzubab yaitu sepupu Abu Hurairah berkata; &#8216;Aku mendengar darimu wahai Abu Hurairah anda menyampaikan Hadits ini dengan Hadits yang lain, <span style="color:#000080;"><strong><span style="text-decoration:underline;">namun kemudian anda diam tentang Hadits tersebut</span></strong></span>. Anda telah berkata; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8216;Tidak ada penyakit menular.&#8217; Namun Abu Hurairah menolak hal itu, dan dia berkata; &#8216;Yang sakit tidak boleh mendekati yang sehat.&#8217; Tapi Al Harits tetap tidak menerima hal itu hingga Abu Hurairah marah dan berkata dengan logat Habasy, dia berkata kepada Al Harits; &#8216;Apakah kamu tidak tahu apa yang telah ku katakan? &#8216; Al Harits menjawab; &#8216;Tidak.&#8217; Abu Hurairah berkata; <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">&#8216;Aku tidak mau (enggan) menjawab</span>.</span></strong>&#8216; Abu Salamah berkata; &#8216;Sungguh Abu Hurairah telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8216;Tidak ada penyakit  menular .&#8217; <span style="color:#000080;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Namun aku tidak tahu apakah Abu Hurairah lupa atau dia telah menasakh (menghapus) salah satu perkataannya</span></strong></span>. Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim dan Hasan Al Hulwani serta Abad bin Humaid. Abad berkata; Telah menceritakan kepadaku. Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ya&#8217;qub yakni Ibnu Ibrahim Sa&#8217;d; Telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab; Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin &#8216;Abdur Rahman dia mendengar Abu Hurairah berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8216;Tidak ada penyakit menular.&#8217; Juga bersabda; &#8216;Yang sehat janganlah mendekati yang sakit.&#8217; Sebagaimana Hadits Yunus. Dan telah menceritakannya kepada kami &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdur Rahman Ad Darimi; Telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman; Telah menceritakan kepada kami Syu&#8217;aib dari Az Zuhri melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari riwayat di atas dijelaskan bahwa Abu Hurairah telah meriwayatkan dua hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang seolah-olah matan-nya saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, awalnya Abu Hurairah meriwayatkan hadits : “Tidak ada ‘adwa (penyakit menular)” setelah beberapa waktu kemudian Abu Hurairah meriwayatkan hadits yang lain : “Yang sakit jangan mendekat (dicampurkan) kepada yang sehat”. Matan hadits-hadits tersebut seolah-olah bertentangan antara yang pertama dengan yang kedua, hal ini yang menyebabkan perawi yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah menjadi bingung dan tidak mengerti, salah satunya yang sangat antusias menanyakan mengenai riwayat tersebut adalah sepupu-nya sendiri Al-Harits bin Abu Dzubab dan percakapan mereka didengar dan dicatat oleh Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata Abu Hurairah memegang hadits terakhir (“Yang sakit jangan mendekat (dicampurkan) kepada yang sehat”) dan mendiamkan hadits yang pertama (“Tidak ada ‘adwa (penyakit menular)”). Hal ini membuat Al-Harits terus mendesak menanyakan hal tersebut yang membuat Abu Hurairah marah dan dia tidak mau lagi menjawab pertanyaan Al-Harits. Abu Salamah menduga bahwa Abu Hurairah telah lupa pada hadits yang pertama atau mungkin Abu Hurairah telah me-nasakh (menghapus) perkataan-nya sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama perlu kita garisbawahi dari riwayat di atas adalah ternyata <span style="color:#000080;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Abu Salamah hanya menduga-duga saja bahwa Abu Hurairah telah lupa terhadap hadits “Tidak ada penyakit menular” karena dengan jelas Abu Salamah mengatakan : “Namun aku tidak tahu apakah Abu Hurairah lupa atau dia telah menasakh (menghapus) salah satu perkataannya”</span></em></strong></span>, jadi bukan suatu kepastian yang disampaikan oleh Abu Salamah bahwa Abu Hurairah telah lupa akan hadits tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah kalau Abu Hurairah tidak lupa terhadap hadits “Tidak ada ‘adwa (penyakit menular)” tersebut mengapa dia bersikap seperti itu? Menurut pendapat kami pribadi, karena matan dua hadits tersebut seolah-olah saling bertentangan, dan tampaknya Abu Hurairah saat itu tidak bisa menjelaskan kepada si penanya mengenai kontradiksi antara dua hadits tersebut, sehingga dia memilih mendiamkan hadits yang pertama dan berpegang kepada hadits yang terakhir, makanya Abu Salamah mengira Abu Hurairah telah me-nasakh perkataan-nya sebelumnya. Dikarenakan saat itu Abu Hurairah tidak bisa menjelaskan kontradiksi kedua hadits tersebut sementara Al-Harits terus mendesaknya sehingga akhirnya dia menjadi marah dan berkata kepada Al-Harits <strong>قُلْتُ </strong><strong>أَبَيْتُ</strong> (Aku tidak mau menjawab). Kata-kata seperti ini pernah terucap oleh Abu Hurairah pada hadits yang lain yang dia riwayatkan dimana kata-kata itu dia ucapkan ketika dia merasa tidak mengerti atau tidak tau tentang suatu hal, contohnya adalah riwayat berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>مَا بَيِنَ النَّفْخَتُيْنِ أَرْبَعُوْنَ، قَالُوْا: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ) أَرْبَعُوْنَ يَوْمَا؟ قَالَ: <span style="text-decoration:underline;">أَبَيْتُ</span>، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا؟ قَالَ: <span style="text-decoration:underline;">أَبَيْتَ</span>، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ سَنَةًَ؟ قَالَ: <span style="text-decoration:underline;">أَبَيْتُ</span>: ثُمَّ يُنْزِلُ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءًَ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، وَلَيْسَ مِنَ اْلإِنْسَانِ شَيْءٌُ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Jarak antara tiupan sangkakala empat puluh.&#8221; Mereka bertanya, &#8220;Wahai Abu Hurairah, (apakah) empat puluh hari?&#8221; Dia menjawab, &#8220;<span style="text-decoration:underline;">Saya tidak mau</span> (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).&#8221; Mereka bertanya, &#8220;(Apakah) empat puluh bulan?&#8221; Dia menjawab, &#8220;<span style="text-decoration:underline;">Saya tidak mau</span> (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).&#8221; Mereka bertanya, &#8220;(Apakah) empat puluh tahun?&#8221; Dia menjawab, &#8220;<span style="text-decoration:underline;">Saya tidak mau</span> (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).&#8221; Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya sayur mayur. Tidak ada sesuatu pun dari tubuh manusia melainkan pasti hancur, kecuali satu tulang, yaitu ajbu adz adz-dzanab (tulang ekor). Dari ajbu dzanab ini manusia disusun kembali pada Hari Kiamat.&#8221; (HR, Bukhari Muslim)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di atas terlihat Abu Hurairah begitu hati-hati dalam meriwayatkan hadits, sehingga jika ada hal yang dia tidak mengerti atau tidak tahu dia memilih tidak mau menjawab. Demikian perkataan yang sama dia ucapkan kepada Al-Harits saat dia merasa tidak mengerti tentang suatu hal, yaitu pertentangan yang terlihat antara dua hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang dia riwayatkan. Allahu A&#8217;lam.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai dua hadits yang sama-sama dibawakan oleh Abu Hurairah tersebut di atas yang seolah-olah bertentangan, para ulama telah mengkompromikannya dan sebenarnya tidak ada pertentangan antara ke dua hadits tersebut, penjelasan yang cukup bagus mengenai hal ini, bisa anda baca di sini :</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/">http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://al-atsariyyah.com/tidak-ada-penyakit-menular.html">http://al-atsariyyah.com/tidak-ada-penyakit-menular.html</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi jelas, bahwa riwayat Abu Salamah di atas tidak menunjukkan bahwa Abu Hurairah lupa akan hadits-hadits yang dia riwayatkan, karena itu hanyalah dugaan dari Abu Salamah belaka. Justru dalam riwayat Ahmad, Abu Salamah berkata : “<span style="color:#000080;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">aku tidak pernah mendengar ia [Abu Hurairah] lupa soal hadis sebelumnya dan aku bersaksi demi Allah sungguh aku telah mendengar hadis itu darinya</span></em></strong></span> “. Perkataan Abu Salamah ini menunjukkan dan memperkuat bahwa memang benar Abu Hurairah tidak pernah lupa soal hadits dan ini adalah keutamaan Abu Hurairah berkat do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam kepada Allah Azza wa Jalla.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka syubhat rafidhi nashibi tersebut adalah lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/716/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=716&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/08/apakah-benar-abu-hurairah-telah-lupa-hadits-tidak-ada-penyakit-menular-membantah-syubhat-rafidhi-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Ali dan Zubair Mengakui Abu Bakar Berhak Menjadi Khalifah?</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/08/apakah-ali-dan-zubair-mengakui-abu-bakar-berhak-menjadi-khalifah/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/08/apakah-ali-dan-zubair-mengakui-abu-bakar-berhak-menjadi-khalifah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 01:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[bai'at Ali dan Zubair kepada Abu Bakar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban yang pasti untuk pertanyaan pada judul di atas adalah YA, mereka mengakui Abu Bakar berhak menjadi khalifah, buktinya adalah sangat mudah yaitu mereka berdua telah membai’at Abu Bakar, sedangkan bai’at adalah lebih dari sekedar pengakuan. Kami mulai pembahasan ini dengan definisi baiat secara etimologi maupun terminologi. Baiat secara bahasa ialah berjabat tangan atas terjadinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=709&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Jawaban yang pasti untuk pertanyaan pada judul di atas adalah YA, mereka mengakui Abu Bakar berhak menjadi khalifah, buktinya adalah sangat mudah yaitu mereka berdua telah membai’at Abu Bakar, sedangkan bai’at adalah lebih dari sekedar pengakuan.<span id="more-709"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kami mulai pembahasan ini dengan definisi baiat secara etimologi maupun terminologi. Baiat secara bahasa ialah berjabat tangan atas terjadinya jual beli, dan untuk berjanji setia dan taat. Baiat juga mempunyai arti : janji setia dan taat. Dan kalimat “qad tabaa ya’uu ‘ala al-amri” seperti ucapanmu (mereka saling berjanji atas sesuatu perkara). Dan mempunyai arti : “shofaquu ‘alaihi” (membuat perjanjian dengannya). Kata-kata “baaya’tahu” berasal dari kata “al-baiy’u” dan “al-baiy’atu” demikian pula kata “al-tabaaya’u”. Dalam suatu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Ala tubaa yi’uunii ‘ala al-islami’<br />
“Maukah kalian membaiatku di atas Islam”</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas seperti suatu ungkapan dari suatu perjanjian. seakan-akan masing-masing dari keduanya menjual apa yang ada padanya dari saudaranya dengan memberikan ketulusan jiwa, ketaatan dan rahasianya kepada orang tersebut. Dan telah berulang-ulang penyebutan kata baiat di dalam hadits. [Lisanul Arab al-Muhith (I/299) dan an-Nihayah (I/174)]</p>
<p style="text-align:justify;">Bai’at Secara Istilah (Terminologi).</p>
<p style="text-align:justify;">“Berjanji untuk taat”. Seakan-akan orang yang berbaiat memberikan perjanjian kepada amir (pimpinan)nya untuk menerima pandangan tentang masalah dirinya dan urusan-urusan kaum muslimin, tidak akan menentang sedikitpun dan selalu mentaatinya untuk melaksanakan perintah yang dibebankan atasnya baik dalam keadaan suka atau terpaksa.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika membaiat seorang amir dan mengikat tali perjanjian, maka manusia meletakkan tangan-tangan mereka pada tangannya (amir) sebagai penguat perjanjian, sehingga menyerupai perbuatan penjual dan pembeli, maka dinamakanlah baiat yaitu isim masdar dari kata baa ‘a, dan jadilah baiat secara bahasa dan secara ketetapan syari’at.[Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal.299]</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ</strong></p>
<p><strong><em>&#8220;Barangsiapa berbai’at kepada seorang imam (penguasa), ia memberikan telapak tangannya dan buah hatinya, maka hendaklan ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, jika kemudian ada orang lain yang menentangnya, maka penggallah leher orang itu&#8221;</em></strong>. [<em>Shahih Muslim </em>3/1472 hadis no 1844].</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dari definisi mengenai bai’at dan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam di atas, maka seorang yang berbai’at kepada imam adalah seorang yang berjanji setia dengan sepenuh hatinya untuk mendengar dan ta’at sesuai kemampuannya kepada imam atau pemimpin tersebut. Jelas bai’at adalah lebih dari sekedar pengakuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali dan Zubair telah berbai’at kepada Abu Bakar, maka secara otomatis bereka telah mengakui bahwa Abu Bakar adalah imam mereka. Ini adalah suatu hal yang sangat jelas dan nyata, hanya orang-orang yang lemah akalnya saja yang mengingkarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainyapun di awal-awal mereka (Ali dan Zubair) tidak mengakui terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah karena mereka merasa tidak diikutkan dalam musyawarah, tetapi dengan kemudian mereka melakukan bai’at kepada Abu Bakar maka mereka telah mengubah sikap mereka sebelumnya dan tentunya tidak ada gunanya lagi mempermasalahkan hal-hal  yang terjadi di awal-awal sebelum mereka mengubahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan-nya adalah apakah para Syi’ah Rafidhah sampai hari ini masih menuduh bahwa Imam Ali berbai’at kepada Abu Bakar dalam keadaan tidak tulus? Jika memang demikian, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merendahkan Imam Ahlul Bait dan mereka-lah yang lebih pantas di gelari An-Nashibi!</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/709/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=709&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2012/01/08/apakah-ali-dan-zubair-mengakui-abu-bakar-berhak-menjadi-khalifah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Misteri Natal Menurut Seorang Pastur Yang Kritis Pemikirannya</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/26/misteri-natal-menurut-seorang-pastur-yang-kritis-pemikirannya/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/26/misteri-natal-menurut-seorang-pastur-yang-kritis-pemikirannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 00:54:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kristologi]]></category>
		<category><![CDATA[misteri natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986) Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen “Plain Truth” yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan. Majalah ini didirikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=705&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen “Plain Truth” yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.<span id="more-705"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College yang sekarang memiliki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas . Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan kehormatan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di Jepang , India , Afrika Selatan , China , Israel dan Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan di depan publik. Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in Prophecy.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kenangan Natal Dimasa Kecilku</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal , saya biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian. Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus kita … terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengapa kita bersikap demikian?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk … dipotong sekalipun. Tetapi sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal sehat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan … larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya … dan seterusnya …</p>
<p style="text-align:justify;">Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SEJARAH NATAL</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata Christmas ( Natal ) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>” Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>” Natal bukanlah upacar – upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion,” which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “…A feast was established in memory of this event (Christ’s birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ’s birth existed.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) “…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yesus tidak lahir pada 25 Desember</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Adam Clarke mengatakan:<br />
<em>“It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain.” (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York ).<br />
“Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama).” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Adam Clarke melanjutkan:<br />
<em>“During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab “Ringan Kaki”. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Proses Natal Masuk Gereja</strong></p>
<p style="text-align:justify;">New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the year and the ‘new sun’… can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence…The pagan festival with its riot and merrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa Matahari.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu — pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – Yesus).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah asal usul “Christmas – Natal ” yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal , pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.</p>
<p style="text-align:justify;">Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December, which was then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered SUN … The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun worship and idolatry, contending… that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus…” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Asal Usul Natal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan (kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud – di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel , membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajan di dunia. Nama “Nimrod” dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya “dia membangkang atau murtad” (Karena bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata “Marad” dengan kata Arab “Ridda” atau “murtad”. Pen)</p>
<p style="text-align:justify;">Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal .</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja sebagai “Anak Suci dari Sorga”. Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, “Ibu dan anak” (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani , China , Jepang , Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut “Kristen,” dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal . Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: “Silent Night” atau “Holy Night” yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal usul adat seperti itu – Apakah ia berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang sesat?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang setia:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Katakan dengan lantang,<br />
dan jangan menghiraukan penghinaan mereka!<br />
Kumandangkan suaramu seperti terompet!<br />
Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bibel (Alkitab). </em></p>
<p style="text-align:justify;">Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Mesir , ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun ( Natal ) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal , meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda!</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan “Chaldean Mysteries” (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Asal Usul Pohon Natal </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut “Mistletoe” yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian “Matahari Tua” dan kelahiran “Matahari Baru” di musim panas.</p>
<p style="text-align:justify;">Rangkaian bunga suci yang disebut “Holly Berries” juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siapa Santa Claus /Sinterklas itu?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama “Santo Nicolas” yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">“St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…”</p>
<p style="text-align:justify;">“St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…”</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal , mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!” Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan.” Oleh karena itu, upacara “Si Santa Tua” itu juga merupakan Setan. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” (II Korintus 11:14) </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kata Bible Tentang Natal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal , atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? </em></p>
<p style="text-align:justify;">Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal . Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri.”<br />
“Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal . Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadiah Natal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah “The Christmas Shopping Season – Musim Belanja Natal” yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows.”<br />
“Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati “sebuah hari” – yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus – dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.</p>
<p style="text-align:justify;">Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal . Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia.” Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel . Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadiah Untuk Yesus</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya adalah “Tidak.” Sebab mereka memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari kelahirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada Yesus. Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau kerabatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai berikut:<br />
<em><br />
“Verse 11. (They presented unto him gifts.) The people of the east never approach the presence of kings and great personages, without a present in their hands. The custom is often noticed in the Old Testament, and still prevails in the east, and in some of the newly discored South Sea Islands.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.) Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau orang-orang terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat ditemuka di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan).” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita, bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman atau dikaitkan dengan kebiasaan Kristen baru dengan menukar hadiah kepada temannya untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya, mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang memberi hadiah ketika mengharap raja. Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi. Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini, para tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera mata apabila datang ke White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah berhala). Di saat menjelang Natal atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Natal Memuliakan Tuhan ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang yang menyelenggarakan Natal , sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui bahwa perayaan itu warisan kepercayaan Paganisme:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Banyak yang mengajukan alasan: “Walaupun kita tidak mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang tahunnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kami akan menjawab dengan pasti “Tidak bisa”. Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah dijelaskan:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sinners alone, not saints, celebrate their birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Ada pula yang beralasan: “Walaupun Natal itu kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah dewa matahari, tetapi kita tidak menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati Yesus Kristus.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan berkata: “Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun mau berlaku begitu.” Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka.” (Ulangan 12:30-31) </em></p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya, bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan yang menyerupai atau meniru cara penyembahan orang-orang kafir kepada tuhannya. Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak untukNya, melainkan hanya pantas untuk memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan melarang kita menyembahNya hanya dengan “menurut kata hati kita sendiri.” Yesus telah bersabda:<br />
<em><br />
“Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4:24) </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17) </em></p>
<p style="text-align:justify;">Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala. Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarangnya. Selanjutnya Yesus bersabda lagi:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan yang meniru adat kaum kafir penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya. Tuhan berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Janganlah kamu berbuat demikian terhadap Tuhanmu.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata hampir semua orang menganggap ringan larangan itu. Atau karena tidak memiliki dasar agama yang kuat, akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang untuk merayakan Natal .</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga telah memerintahkan kita tentang datangnya hari perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam, niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan diadili sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : “THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS “ By Herbert W. Armstrong Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Masyhud SM dalam buku “Misteri Natal” Tentang Seluk beluk perayaan Natal dikupas secara lengkap oleh Herbert W. Armstrong kepala editor majalah Kristen “Plain Truth” yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan. Sumber ini diperoleh dari <a href="http://www.pakdenono.com/">www.pakdenono.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/705/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=705&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/26/misteri-natal-menurut-seorang-pastur-yang-kritis-pemikirannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syiah Serang Ma’had Sunni Darul Hadits Dammaj Yaman, 30 Gugur, 2 dari Indonesia</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/05/syiah-serang-mahad-sunni-darul-hadits-dammaj-yaman-30-gugur-2-dari-indonesia/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/05/syiah-serang-mahad-sunni-darul-hadits-dammaj-yaman-30-gugur-2-dari-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 12:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[darul hadits dammaj]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah al-houthi]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah serang Sunni di Yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ma’had Darul Hadits Yaman Serukan Jihad Lawan Pemberontak Syiah إصابة عدد كبير من الطلاب والوضع ينذر بكارثة اليمن : الحوثيون يحاصرون السلفيين في دماج منذ أكثر من شهر لا ماء ولاغذاء ولادواء السلفيون بدماج يرفضون مساعدات تاجر السلاح مناع ومقتل 28 من طلاب معهد دار الحديث Serangan roket dan penembak jitu yang dilakukan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=700&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Imam Ma’had Darul Hadits Yaman Serukan Jihad Lawan Pemberontak Syiah</strong></p>
<p style="text-align:center;" dir="RTL" align="center"><strong>إصابة عدد كبير من الطلاب والوضع ينذر بكارثة</strong></p>
<p style="text-align:center;" dir="RTL" align="center"><strong>اليمن : الحوثيون يحاصرون السلفيين في دماج منذ أكثر من شهر لا ماء ولاغذاء ولادواء</strong></p>
<p style="text-align:center;" dir="RTL" align="center"><strong>السلفيون بدماج يرفضون مساعدات تاجر السلاح مناع ومقتل 28 من طلاب معهد دار الحديث</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Serangan roket dan penembak jitu yang dilakukan oleh pemberontak Syiah Houti ke sekolah Darul Hadist dan lingkungan Sunni di distrik Dammaj pada Sabtu dan Ahad lalu menewaskan lebih dari 30 orang, termasuk mahasiswa asing. Di antara korban ada dua mahasiswa asal Indonesia, dari Medan dan Aceh.<span id="more-700"></span><a href="http://alfanarku.files.wordpress.com/2011/12/syiah-serang-sunni-300x150.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-701" title="Syiah-Serang-Sunni-300x150" src="http://alfanarku.files.wordpress.com/2011/12/syiah-serang-sunni-300x150.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Darul Hadits Dammaj Yaman<strong> </strong>didirikan pada tahun 1980 oleh almarhum Sheikh Muqbil Bin Hadi Al Wadie, seorang ulama Sunni. Saat ini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa, 10 persen dari mereka berasal dari Arab, Uni Eropa, dan negara lainnya. Markaz ini dikepung kaum Syiah Hauthi <strong>(الحوثيون) </strong>pemberontak, sejak awal Dzulhijjah 1432H. Serangan kaum sesat Syi’ah telah menewaskan 30 mahasiswa Sunni di antaranya dua orang dari Indonesia berasal dari Medan dan Aceh. Kompleks Ahlus Sunnah Salafi ini diblokade hingga kini kehabisan air, makanan, obat-obatan dan bahan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beritanya:</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">*** <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemlu: 2 Mahasiswa Indonesia di Yaman Tewas Akibat Roket kaum Syiah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>JAKARTA</strong><strong> </strong>- Kementerian Luar Negeri memastikan ada dua korban mahasiswa asal Indonesia yang tewas akibat serangan pemberontak Syiah Houti di Yaman. Keduanya tewas dihantam roket.</p>
<p style="text-align:justify;">“Betul ada yang terkena roket dan di antara korban ada 2 WNI,” kata Juru Bicara Kemlu, Michael Tene, sebagaimana dilansir detikcom, Selasa (30/11/2011).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Michael, mahasiswa tersebut berasal dari Medan dan Aceh. Namun, siapa identitas dan alamat jelas keduanya masih belum ada informasi lebih jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">“KBRI dan Kemlu sudah menghubungi keluarga,” ucapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana diberitakan oleh voa-islam.com sebelumnya, serangan roket dan penembak jitu yang dilakukan oleh pemberontak Syiah Houti ke sekolah Darul Hadist dan lingkungan Sunni di distrik Dammaj pada Sabtu dan Ahad lalu menewaskan lebih dari 30 orang, termasuk mahasiswa asing. Di antara korban diduga mahasiswa asal Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">..Menurut Michael, mahasiswa tersebut berasal dari Medan dan Aceh..</p>
<p style="text-align:justify;">Darul Hadits yang terletak di daerah yang dikuasai oleh pemberontak Syiah Houti, didirikan pada tahun 1980 oleh almarhum Sheikh Muqbil Bin Hadi Al Wadie, seorang ulama Sunni. Saat ini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa, 10 persen dari mereka berasal dari Arab, Uni Eropa, Kami dan negara lainnya. Pemberontak Syiah, memandang sekolah ini sebagai ancaman lantaran mengisi wilayah utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang guru sekolah Darull Hadits mengatakan, pihak pemberontak yang berasal dari suku Houthi meminta sekolah ditutup selama 2 minggu dan memblok pengiriman makanan untuk 10.000 orang. Akibat blokade itu mereka kehabisan bahan bakar, makanan dan air minum.  (an/dtk,voi) Rabu, 30 Nov 2011(voa-islam.com)</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>*** </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Ma’had Darul Hadits Yaman Serukan Jihad Lawan Pemberontak Syiah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SANA’A, YAMAN (voa-islam.com)</strong> -  Kepala sekolah Muslim Sunni di provinsi Sa’ada, Yaman utara menyatakan Jihad terhadap kelompok pemberontak Syiah Houti karena mereka terus mengepung sekolah tersebut selama lebih dari sebulan, Radad Al Hashimi, seorang mahasiswa di sekolah itu mengatakan kepada Gulf News .</p>
<p style="text-align:justify;">“Imam Darul Hadits di distrik Dammaj, Sheikh Yahya Al Hajouri, telah menyatakan perang terhadap para pemberontak Syiah Houthi yang telah menyerang dan menolak untuk membuka blokade mereka di sekolah itu,” kata mahasiswa tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hashimi, yang telah belajar pendidikan agama di sekolah itu selama 10 tahun, mengatakan bahwa pemberontak Syiah menyerang sekolah dan tempat-tempat Muslim Sunni lainnya di Distrik Dammaj pada hari Sabtu dan Ahad dengan tembakan mortir dan penembak jitu sehingga menewaskan lebih dari 30 mahasiswa, termasuk mahasiswa asing.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber-sumber mengatakan bahwa beberapa mahasiswa yang berasal negara Amerika, Perancis dan Indonesia termasuk di antara mereka yang terbunuh di distrik Dammaj.</p>
<p style="text-align:justify;">Terletak di daerah yang dikuasai oleh pemberontak Houti, Darul Hadits didirikan pada tahun 1980 oleh almarhum Sheikh Muqbil Bin Hadi Al Wadie, seorang ulama Sunni dan saat ini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa, 10 persen dari mereka berasal dari Arab, Uni Eropa, Kami dan negara lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kehabisan makanan dan air</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Saya telah menerima banyak telepon dari saudara-saudara kami dari UEA, Arab Saudi, Kanada dan negara lain yang penuh semangat, siap untuk bergabung masuk. Kami belum perlu bantuan mereka saat ini karena banyak suku yang bergegas untuk mendukung. Tapi jika kita tidak bisa mengalahkan mereka, kami akan meminta bantuan kepada saudara-saudara kita dari luar,” tambah Radad Al Hashimi.</p>
<p style="text-align:justify;">..Sumber-sumber mengatakan bahwa beberapa mahasiswa yang berasal negara Amerika, Perancis dan Indonesia termasuk di antara mereka yang terbunuh di distrik Dammaj..</p>
<p style="text-align:justify;">“Karena blokade itu, para keluarga terpaksa tinggal di subsisten. Mereka kehabisan bahan bakar, makanan dan air minum..”</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberontak Syiah Houthi, yang memberontak kepada pemerintah Yaman setelah enam perang sporadis sejak 2004, membantah tuduhan pembunuhan siswa di distrik Dammaj dan menuduh media menerbitkan cerita-cerita palsu dan tidak berdasar. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis kepada pers, kelompok pemberontak Syiah Houthi mengatakan bahwa kaum Salafi di sekolah tersebut mengangkat slogan yang melabeli mereka sebagai orang kafir yang menyesatkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak ada obat-obatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mendengar tentang penyerangan itu, sekelompok warga Yaman berjumlah 13 orang yang terdiri dari aktivis kemanusiaan dan wartawan menuju ke daerah itu untuk meneliti situasi. Para pemberontak Syiah Houthi menghentikan mereka di luar sekolah dan hanya diizinkan tiga aktivis untuk mengunjungi sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Orang-orang di sekolah yang dikepung hidup dalam situasi yang sangat tidak berperikemanusiaan. Tidak ada obat dan makanan dan orang-orang terluka yang mati kehabisan darah karena kurangnya dokter dan obat-obatan” Mohammad Al Ahmadi, anggota kelompok mengatakan kepada Gulf News.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lebih dari 26 orang tewas dalam dua hari penembakan. Keluarga yang kelaparan dan banyak anak yang bisa segera mati. para pemberontak Syiah memperlakukan para aktivis secara kasar dan menyita memori kamera saya. Mereka takut bahwa kami akan mempublikasikan foto-foto tentang kebiadaban mereka yang kita dapatkan dari sekolah tersebut.” (by/gn,yob) Selasa, 29 Nov 2011</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>إصابة عدد كبير من الطلاب والوضع ينذر بكارثة</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>الحوثيون يحاصرون السلفيين في «دماج» ويستعدون لاقتحام دار الحديث السنية</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">08:48 م 17/11/2011</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>كتب أحمد زكريا:</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>@ahmad_78</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>فيما يستعد الحوثيون لاقتحام مبنى دار الحديث السنية في منطقة دماج بمحافظة صعدة اليمنية بحسب ما ذكرت وكالة أنباء مأرب برس، قال عضو جبهة علماء الأزهر الدكتور محمد البري في تصريحات خاصة لـ «الوطن» ان ما يحدث في دماج كارثة يجب منعها، مشددا على أنه لا يجب ترك طلاب دار الحديث يواجهون البلطجة الحوثية.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>واضاف البري في تصريحات خاصة لـ «الوطن» ان طهران تقف وراء ما يحدث في منطقة «دماج»، مشددا على ان جميع المسلمين يأثمون ان لم يحمو طلاب دار الحديث.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>واعتبر البري ان ما يقوم به حزب الله من دعم لنظام الرئيس السوري بشار الأسد خير دليل على ما تقوم به ايران من الوقوف بجانب الديكتاتوريات.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>ويضرب الحوثيون حصارا على منطقة دماج مع شن عدد من الهجمات على السلفيين المقيمين بتلك المنطقة مما أدى الى اصابة عدد كبير من طلاب دار الحديث بحسب ما ذكرت تقارير اخبارية قالت ان الحوثيين مصممون على مواصلة الهجوم حتى تهجير آخر سلفى من المنطقة.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>الى ذلك ترأس محافظ محافظة صعدة، الشيخ فارس مناع، لجنة وساطة تضم قادة عسكريين، وعددا من مشايخ صعدة، حيث زارت اللجنة مديرية دماج، والتقت بعدد من قادة السلفيين في دار الحديث بدماج، وناقشت معهم بنود اتفاق جديد يقضي بانهاء الحصار على دماج، ونزع فتيل التوتر في المنطقة بين السلفيين والحوثيين.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وضمت لجنة الوساطة كلا من الشيخ فارس مناع، وقائد لواء المدفعية في صعدة، حسين خيران، والشيخ محمد مشبب من قبيلة وايلة، وأبو علي الحاكم، مندوب الحوثيين، والشيخ صالح هربان الطويلي، والشيخ محمد الطحامي، وعدد آخر من المشايخ.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وأضافت وكالة أنباء مآرب برس «بعد ان تم الاتفاق، غادر فارس مناع ولجنة الوساطة دماج، على ان يتم التوقيع في منزل المحافظ، وعندما تحرك وفد السلفيين من دماج باتجاه منزل المحافظ في صعدة، تعرض الموكب لكمين من قبل الحوثيين، بالتزامن مع هجوم على دماج، أسفر عن سقوط جريح من طلبة دار الحديث، وهو الأمر الذي دفع بوفد السلفيين الى العودة الى دماج، وابلاغ لجنة الوساطة بما حدث».</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وذكر موقع حشد الالكتروني ان «الوضع الانساني ينذر بكارثة انسانية وغذائية في منطقة دماج مع استمرار الحصار المطبق الذي يفرضه الحوثيون على المنطقة ومنع القافلة الغذائية من الوصول الى المنطقة المحاصرة».</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://alwatan.kuwait.tt/articledetails.aspx?Id=152080">http://alwatan.kuwait.tt/articledetails.aspx?Id=152080</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL" align="center"><strong>***</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>اليمن : الحوثيون يحاصرون السلفيين في دماج منذ أكثر من شهر لا ماء ولاغذاء ولادواء</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">2/1/1433هـ – الساعة 01:20 م</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">ملتقى الخطباء: لحصار مضروب على المنطقة بشكل كامل منذ شهر وخمسة أيام، ولا يدخل لا ماء ولا غذاء ولا دواء’.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">هكذا قال عن حسين الحجوري الناطق باسم مركز دماج في النداء الذي وجهه لمنظمات حقوق الإنسان ومنظمات الإغاثة العربية والإسلامية والدولية، وذلك لتقديم يد العون للمحاصرين في دماج الذين يمنع عنهم الحوثيون الإمدادات الغذائية والطبية منذ أكثر من شهر.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">والمنطقة التي يتحدث عنها الحجوري هي منطقة ينتشر فيها التيار السلفي الذي يعاقبه الحوثيون بسبب العداء المعروف بين الطائفيين الصفويين وجموع المسلمين لاسيما التيار السلفي الذي يعد غصة في حلق المشروع الصفوي.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">استغل الحوثيون الفراغ الذي أحدثته الأزمة اليمنية وطول تعليق حلها لما يقترب من العام في بناء دولتهم الجديدة في الشمال اليمني، حيث معاقل الحوثيين، وباشروا عملهم بشكل دؤوب لإيجاد موطئ قدم لإيران على البحر الأحمر، حيث تؤكد التقارير الواردة من هناك عن أن الحوثيين قد ‘اختزلوا بسرعة خطوات نحو إقامة دويلة جنوب المملكة العربية السعودية وشمال اليمن تمتد بين محافظتي الجوف ومأرب النفطية شرقا وميناء ميدي على البحر الأحمر غربا’، مثلما يفيد بذلك تقرير مركز أبعاد الاستراتيجي.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">ودويلة الحوثيين تعني بأن واقعاً جديداً سيفرض على يمن ما بعد الرئيس علي عبد الله صالح، وموازين القوى ستختل بين المناهضين والسلطة الجديدة في صعدة، التي يعني وصولها إلى البحر الأحمر عبر القتال وتستولي على ميدي أنها ستنجح في إيجاد قناة إمداد في غاية الخطورة على الأمن الخليجي من جهة الغرب، وستغير من معادلة البحر الأحمر الاستراتيجية كلها، كونها ستعني مباشرة أن ما أحدثته ‘إسرائيل’ يوماً باستيلائها على ميناء إيلات أواخر أربعينات القرن الماضي، وأطلت بذلك على البحر الأحمر الذي كان بحيرة إسلامية عربية خالصة فتم بذلك ‘تدويله’، ستواصله إيران الآن بإطلالاتها على البحر الأحمر وتواصلها مع القوات الإيرانية المحدودة الموجودة في ميناء مصوع الإرتري وبعض القطع البحرية الإيرانية المتواجدة بذريعة مكافحة القرصنة بالقرب من الحدود اليمنية.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">كما أن هذه الدويلة ستهدد التسامح اليمني الموجود، وتنذر بارتكاب مذابح قادمة على أسس طائفية، وهو ما يشدد عليه القيادي السلفي حسين الحجوري حين يقول لصحيفة الشرق الأوسط: ‘يحاربنا الحوثيون لأننا لسنا على مذهبهم، ويريدون فرض مذهبهم بالقوة علينا بعد أن سقطت محافظة صعدة في أيديهم، وفوق ذلك فهم يسعون إلى أن تكون لهم قوة موازية لقوة الدولة على الأرض حتى يكونوا مثل تنظيم حزب الله اللبناني الذي يعمل كدولة داخل الدولة’.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">فما بين غفلة من العرب، وتلكؤ الرئيس صالح وأنانيته المفرطة، وتباطؤ القوى اليمنية المعارضة؛ فرض الحوثيون واقعهم الجديد، ونجحت إيران في وضع ورقة استراتيجية هامة على طاولة صراعها مع الدول الخليجية.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">والأخطر فيما ترتب على ذلك، هي استدعاء القرامطة إلى اليمن السعيد، حيث صار الألم شديداً والمصيبة فادحة عندما فرض الحوثيون حصاراً خانقاً على معقل السلفيين أفضى إلى منع الحجاج من السفر لأداء فريضة الحج</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">المصدر: المسلم</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://khutabaa.com/index.cfm?method=home.con&amp;ContentID=7080">http://khutabaa.com/index.cfm?method=home.con&amp;ContentID=7080</a></p>
<h2 style="text-align:justify;" align="center">***</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">سقوط 24 قتيلاً بهجوم للحوثيين على السلفيين في دماج</p>
<h5 style="text-align:justify;">11/27/2011 5:07:28 PM أخر تحديث للصفحة في</h5>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>براقش نت-متابعات</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">أكدت مصادر أمنية يمنية أن المسلحين التابعة لجماعة الحوثيين قامت بقتل 24 شخصاً في هجوم على بلدة سنية في محافظة صعدة، في محاولة لبسط سيطرتهم عليها، مشيرة إلى أن العملية تركزت على مركز ديني سني في دماج، ما أدى أيضاً إلى سقوط 61 جريحاً.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وقالت مصادر طبية إن العناصر الحوثية قامت بقصف المنازل في البلدة المحاصرة منذ فترة، في حين فشلت جهود الوساطة في وقف المواجهات.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">ويستغل الحوثيون حالة الاضطراب التي تعيشها اليمن منذ عشرة أشهر بسبب الاحتجاجات المنادية بتنحي الرئيس علي عبدالله صالح من أجل توسيع رقعة سيطرتهم.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وسبق أن عبرت جهات في المعارضة عن قلقها حيال القوة المتصاعدة للحوثيين، وقال علي معماري، القيادي المعارض في صنعاء: “لا يمكننا الدخول في اتفاقيات سياسية مع جماعة مسلحة، لا يمكننا الطلب منهم الدخول في عملية سياسية إذا كانوا غير مؤمنين بها.”</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">واعتبر معماري أن اليمن لا يمكن لها أن تقبل وجود جماعات ترغب في التوسع بقوة السلاح وفرض رأيها على المجتمع، وقال إن الحوثيين “يشبهون تنظيم القاعدة لجهة أنهم يحملون السلاح ويعمدون إلى استخدام القوة لفرض مواقفهم.”</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">أما أحمد بحري، المتخصص في شؤون الحركة الحوثية، فيقول إنها مكونة من أكثر من مائة ألف مقاتل يخضعون بالكامل لأوامر زعيمهم عبدالملك الحوثي</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وأضاف بحري أن الحركة منظمة بشكل جيد، وقد باتت تسيطر بالكامل على محافظة صعدة، وعلى مناطق واسعة في محافظات الجوف وعمران ومأرب وصنعاء والحجة.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وكان الجيش اليمني قد خاض ستة حروب مع الحوثيين، دون أن يتمكن من القضاء عليهم، ووقعت المواجهات الأخيرة عام 2009 عندما امتد الصراع إلى المملكة العربية السعودية التي قامت بعمليات عسكرية ضد الحركة. (CNN)</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://www.barakish.net/news.aspx?cat=12&amp;sub=11&amp;id=23297">http://www.barakish.net/news.aspx?cat=12&amp;sub=11&amp;id=23297</a></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><a href="http://www.barakish.net/newscategory.aspx?cat=12"><strong>الاخبار</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>السلفيون بدماج يرفضون مساعدات تاجر السلاح مناع ومقتل 28 من طلاب معهد دار الحديث</strong></p>
<h5 style="text-align:justify;"> 11/29/2011 4:22:50 PM أخر تحديث للصفحة في</h5>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">براقش نت - رفض السلفيون في منطقة دماج بمحافظة صعده مساعدات غذائية مقدمة من تاجر السلاح فارس مناع , وقال مصدر قبلي في دماج إن السلفيين طلبوا ممن ووصلوا بمساعدات مناع العودة بها من حيث أتوا بها , مشيرا الى ان رفض السلفيين تلك المساعدات جاء بعد ما قام به تاجر السلاح مناع من دور مشبوه ومتواطئ والتآمر مع الحوثيين عليهم من خلال الوساطات التي قادها والتي كانت تزيد الامور اشتعالا .</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"> وقد واصل  الحوثيون قصفهم لمنطقة “دماج” ، ما أدى إلى ارتفاع عدد القتلى من الطلاب في مركز دماج إلى 28 قتيل وفقا للمتحدث باسم السلفيين بصعده .</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وحسب أبو اسماعيل وهو المتحدث باسم السلفيين إن عدد القتلى الأجانب الدارسين في معهد دار الحديث بمنطقة دماج وصلوا إلى 11 قتيل ، أخرهم مقتل ليبي ومواطن مغربي يحمل الجنسية الفرنسية مساء أمس الاثنين .</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">ووصل عدد الجرحى إلى أكثر من 70جريحاَ، بينهم 5جراحهم خطيرة ، ولم يتلقون أية علاجات جراء الحصار المفروض عليهم.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">يعاني آلالاف من سكان منطقة دماج من حصار خانق في محاولة للضغط على هؤلاء المحاصرين لتهجيرهم قسرياً كما أفاد ناشطون حقوقيون.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.barakish.net/news.aspx?cat=12&amp;sub=11&amp;id=23375">http://www.barakish.net/news.aspx?cat=12&amp;sub=11&amp;id=23375</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(nahimunkar.com)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/700/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=700&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/05/syiah-serang-mahad-sunni-darul-hadits-dammaj-yaman-30-gugur-2-dari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alfanarku.files.wordpress.com/2011/12/syiah-serang-sunni-300x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Syiah-Serang-Sunni-300x150</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima sedekah? : Anomali Bantahan Rafidhi Nashibi [2]</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/05/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi-2/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/05/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 08:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan syubhat rafidhi nashibi]]></category>
		<category><![CDATA[istri nabi diharamkan menerima sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Rafidhi Nashibi tersebut telah merespon kembali artikel kami sebelumnya, yah beginilah jadinya diskusi dengan makhluk yang akalnya tertutup, sedikitpun ia tidak bisa mengambil pelajaran tetapi malah nafsu membantah. Seolah olah dengan membuat bantahan ia dapat menunjukkan kebenaran hujjahnya padahal malah justru lebih menguatkan kelemahan akalnya. Langsung saja [bantahannya adalah tulisan yang kami blockquote] Kami ajarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=693&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Rafidhi Nashibi tersebut telah merespon kembali artikel kami sebelumnya, yah beginilah jadinya diskusi dengan makhluk yang akalnya tertutup, sedikitpun ia tidak bisa mengambil pelajaran tetapi malah nafsu membantah. Seolah olah dengan membuat bantahan ia dapat menunjukkan kebenaran hujjahnya padahal malah justru lebih menguatkan kelemahan akalnya. Langsung saja [bantahannya adalah tulisan yang kami blockquote]<span id="more-693"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kami ajarkan caranya berhujjah wahai nashibi. Antara perkataan Zaid bin Arqam dan Aisyah manakah yang shahih?. Jawabannya perkataan Zaid bin Arqam. Kami setuju pendapat Zaid bisa benar bisa salah tetapi itu namanya menyebarkan syubhat bukan berhujjah. Kalau memang salah silakan tunjukkan dalil yang menunjukkan kesalahannya. Kalau tidak ada dalil shahihnya maka perkataan Zaid bin Arqam itu benar apalagi telah dikuatkan oleh dalil yang telah kami sebutkan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wahai rafidhi nashibi tidak perlu mengajarkan kepada kami cara berhujjah, sudah kami sampaikan, bahwa Aisyah lebih kuat dalam hal ini, karena dialah istri Nabi dan lebih mengetahui kedudukan beliau di sisi Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan kenyataannya perkataan Zaid tidak menunjukkan bahwa istri-istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah, sebagaimana sudah kami jelaskan di awal.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Alangkah anehnya nashibi ini, yang dipermasalahkan disini bukan <em><span style="text-decoration:underline;">istilah Ahlul Bait</span></em> tetapi pernyataan Zaid dimana ia membagi ahlul bait sebagai ada yang diharamkan sedekah atasnya dan ada yang tidak. Kami mengakui kalau Zaid menyatakan istri Nabi sebagai ahlul bait tetapi dalam pandangan Zaid, <em><span style="text-decoration:underline;">istri Nabi adalah Ahlul Bait yang tidak diharamkan sedekah atasnya</span></em> sedangkan ahlul bait yang diharamkan sedekah atasnya adalah keluarga Ali, keluarga Ja’far, Keluarga Aqil dan Keluarga Abbas, semuanya dari bani hasyim.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena Zaid memahami apa yang ditanyakan oleh Hushain adalah makna ahlul bait secara khusus sesuai bahasa yaitu penghuni rumah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam,</p>
<p style="text-align:justify;">Ini cuma ucapan basa basi dan seperti biasa lahir dari orang yang kebanyakan ngeyel. Berhujjah itu tunduk pada hadis yang dijadikan hujjah bukannya hadis diturutkan dengan hawa nafsu. Hushain justru paham bahwa ahlul bait itu bermakna luas dan ia ingin tahu siapa ahlul bait yang dibicarakan Zaid. Lafaz “bukankah istri Nabi termasuk ahlul baitnya” adalah lafaz yang diucapkan oleh orang yang paham bahwa ahlul bait itu bermakna luas. Hushain ingin tahu siapa saja ahlul bait yang dibicarakan Zaid dan apakah istri Nabi termasuk di dalamnya. Jadi dari lafaz hadisnya jelas bertentangan dengan klaim basa basi nashibi yang ingkar sunnah itu</p>
<p style="text-align:justify;">dan jelas penghuni rumah beliau adalah istri-istri beliau itulah yang dimaksud oleh Hushain, tetapi ahlul bait dalam pengertian tersebut bukan yang dimaksud oleh Zaid, yang dimaksud Zaid dalam riwayat di atas adalah ahlul bait dalam pengertian secara lebih luas yaitu mereka yang diharamkan menerima shadaqah. Sampai di sini kalau si rafidhi nashibi ini tidak memahami juga, kita hanya bisa bilang kebangetan nih orang…</p>
<p style="text-align:justify;">Menjawab komentar basa basi bin ngeyel tidak bisa dengan basa basi juga. Mengapa? Karena yang namanya basa basi tidak akan ada habisnya. Apapun hujjah dan dalil yang anda bawakan, nashibi yang suka basa basi ini akan selalu bisa melontarkan jawaban ngeyel. Ia memang tidak sedang berhujjah dengan hadis tetapi berhujjah dengan ngeyelisme yang jadi penyakitnya. Sebaik baik jawaban adalah lafaz perkataan Zaid bin Arqam dalam hadisnya</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>قَالَ</strong><strong> </strong><strong>نِسَاؤُهُ</strong><strong> </strong><strong>مِنْ</strong><strong> </strong><strong>أَهْلِ</strong><strong> </strong><strong>بَيْتِهِ</strong><strong> </strong><strong>وَلَكِنْ</strong><strong> </strong><strong>أَهْلُ</strong><strong> </strong><strong>بَيْتِهِ</strong><strong> </strong><strong>مَنْ</strong><strong> </strong><strong>حُرِمَ</strong><strong> </strong><strong>الصَّدَقَةَ</strong><strong> </strong><strong>بَعْدَهُ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika diterjemahkan artinya adalah Zaid berkata “istri istri Nabi adalah ahlul baitnya akan tetapi ahlul baitnya adalah yang diharamkan menerima sedekah setelahnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa diantara frase “istri istri Nabi adalah ahlul baitnya” dan frase “ahlul baitnya adalah yang diharamkan menerima sedekah” terdapat kata <span style="text-decoration:underline;">“walakin”</span> yang artinya<span style="text-decoration:underline;"> “akan tetapi”</span>. Jawabannya karena ahlul bait yang sedang dibicarakan Zaid bukanlah istri istri Nabi. Zaid ingin mengatakan kepada Hushain bahwa istri Nabi memang termasuk ahlul bait tetapi ahlul bait yang ia maksudkan dalam pembicaraannya adalah orang yang diharamkan menerima sedekah. Nah ini menunjukkan dalam pandangan Zaid, istri Nabi bukan ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Dalam riwayat lain yang juga shahih, ucapan Zaid adalah berikut</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>قال</strong><strong> </strong><strong>لا</strong><strong> </strong><strong>ولكن</strong><strong> </strong><strong>أهل</strong><strong> </strong><strong>بيته</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>حرم</strong><strong> </strong><strong>الصدقة</strong><strong> </strong><strong>عليه</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Zaid berkata “tidak akan tetapi ahlul baitnya adalah yang diharamkan menerima sedekah atasnya”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Nah maksud perkataan Zaid “tidak” disini adalah istri Nabi bukan ahlul bait yang ia maksudkan akan tetapi yang ia maksudkan adalah ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah atasnya. Jawaban Zaid jelas menunjukkan bahwa istri Nabi bukan termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Sekedar info saja penjelasan kami ini sama halnya dengan apa yang dijelaskan oleh An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan  hadis ini. Justru nashibi itu yang tidak mengerti bahasa arab dan berkeras dengan kengeyelannya. Alangkah kasihannya orang itu.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bukankah si rafidhi nashibi ini yang sedang berbasa basi, seolah-olah penjelasannya ilmiah, padahal  dia hanya berusaha memaksakan hadits di atas sesuai nafsunya saja, seolah-olah dia yang mempunyai hak dalam memahami hadits tersebut, padahal tidak, itu hanya basa-basi dan ngeyelisme dia saja. Bagi kami pengertiannya sama saja sebagaimana yang kami telah jelaskan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Zaid bin Arqam dalam riwayat Muslim adalah sebagai berikut :</p>
<h2 style="text-align:justify;">وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya. (</em>Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali)</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan Hushain di atas mengapa langsung mengarah ke istri-istri Nabi , jelas kita bisa memahaminya karena Hushain memahami Ahlul Bait adalah orang-orang yang menghuni rumah Nabi dan mereka adalah istri-istri Nabi, maka kemudian Zaid membenarkan memang istri-istri Nabi adalah termasuk ahlul bait beliau, tetapi ahlul bait yang dimaksud oleh Zaid adalah bukan hanya istri-istri Nabi tetapi ahlul bait dalam pengertian yang lebih luas yaitu mereka yang diharamkan menerima sedekah, yang termasuk di dalamnya adalah Keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas. Jika keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas adalah keluarga yang tidak boleh menerima sedekah, apalagi keluarga Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam harus tidak boleh menerima sedekah dan keluarga beliau adalah termasuk di dalamnya istri-istri beliau. Itulah pengertian yang dapat kami ambil dari hadits di atas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan riwayat Muslim no. 2408, kami mengira kekeliruan pada hafalan si perawi walaupun sanad hadits tersebut shahih, karena jelas bertentangan dengan riwayat Zaid di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Silakan lihat wahai pembaca yang terhormat, jika hadis tersebut tidak sesuai dengan hawa nafsunya ia akan gampang melemahkannya. Di lain waktu ia akan membangga banggakan kitab hadis shahih Bukhari dan Muslim serta melecehkan kitab yang asing ditelinganya. Kedua lafaz tersebut shahih bahkan lafaz riwayat Muslim ini telah dikuatkan oleh lafaz riwayat Ibnu Abi Syaibah. Dinilai dari kuatnya, lafaz ini jelas lebih kuat sanadnya dibanding lafaz riwayat Muslim sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban Zaid bin Arqam ada dua versi riwayat dan keduanya shahih  tidak bertentangan sedangkan ucapan nashibi bahwa salah satu versi lemah karena hafalan perawinya adalah ucapan dusta yang tidak ada dasarnya. Kami telah buktikan shahihnya riwayat Ibnu Abi Syaibah ditambah lagi juga dikuatkan oleh riwayat Muslim yang kami kutip. Ucapan basa basi tidak ada gunanya wahai nashibi</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Halah, silahkan bercermin wahai rafidhi nashibi, betapa banyak anda telah mencari-cari illat dan melemahkan hadits hanya untuk mencari pembenaran terhadap akidah rafidhah anda? Too much, tidak usah anda berbasa-basi di depan kami, kemunafikan anda telah jelas terekam di artikel-artikel blog anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu hanya perkiraan kami mengenai riwayat muslim tersebut, karena memang bertentangan dengan riwayat Zaid yang lain, padahal hal itu diucapkan oleh Zaid juga dalam peristiwa yang sama. OK lah kita rujuk terhadap hadits tersebut, mari kita perhatikan</p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami bertanya “siapakah ahlul baitnya?” apakah istri istrinya?. Zaid menjawab “tidak, demi Allah seorang istri bisa saja ia terus bersama suaminya kemudian bisa juga ditalaknya hingga akhirnya ia kembali kepada ayahnya dan kaumnya. Yang dimaksud Ahlul baitnya adalah keturunan dan keluarga Beliau yang diharamkan menerima sedekah sepeninggalnya </em><strong><em>[Shahih Muslim 4/1873 no 2408]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Zaid menjawab tidak , karena menurut pendapatnya seorang istri bisa saja ia terus bersama suaminya kemudian bisa juga ditalaknya hingga akhirnya ia kembali kepada ayahnya dan kaumnya. Tetapi pada kenyataannya hal itu tidak berlaku terhadap istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, Nabi tidak pernah mentalak istri-istri beliau selama beliau masih hidup, demikian juga sepeninggal Nabi mereka tidak menikah dengan lelaki lain karena memang dilarang oleh Allah dan kedudukan mereka adalah ummahatul mukminin, Bahkan salah satu istri beliau yaitu Aisyah adalah istri beliau di dunia ini dan di akhirat nanti. Sehingga dengan demikian istri-istri Nabi tetap terus bersama Nabi dan termasuk yang diharamkan menerima sedekah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan saya sekali lagi, apakah yang dimaksud keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas itu tidak termasuk istri-istri mereka jika istri-istri mereka bukan dari kalangan Bani Hasyim?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja yang dimaksud diharamkan sedekah itu adalah bani Hasyim. Jadi keluarga Ali, Ja’far, Aqil dan Abbas yang dimaksud adalah bani hasyim. Kalau memang ada istri mereka bukan dari kalangan bani hasyim maka kami belum menemukan dalil bahwa istrinya diharamkan menerima sedekah. Silakan wahai nashibi kalau anda menemukan dalil bahwa istri mereka bukan dari bani hasyim juga dilarang menerima sedekah. Maka bagaimana pula status dengan anak dari istri tersebut juga orang tuanya dan kerabatnya yang bukan bani hasyim?. Apakah diharamkan menerima sedekah juga?. Sudah kami katakan sebelumnya perkara siapa yang diharamkan menerima sedekah bukan perkara yang bisa dipikirkan dengan logika. Dasar nashibi, sok berlogika seolah mereka punya saja.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya anda terlalu terburu-buru dalam mendalil wahai rafidhi nashibi, ibaratnya masih mentah sudah anda paksa untuk matang, padahal memang masih mentah. Jadi gak usah sok menyimpulkan sesuatu kalau ternyata masih mentah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wahai nashibi berhentilah dari ucapan dusta. Sikap anda hanya menunjukkan kalau anda semakin ingkar terhadap sunnah. Siapapun yang bisa sedikit bahasa arab akan paham maksud ucapan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut bahwa maula ahlul bait atau maula keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan atas mereka sedekah. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri yang menyatakan demikian.</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>انا</strong><strong> </strong><strong>أهل</strong><strong> </strong><strong>بيت</strong><strong> </strong><strong>نهينا</strong><strong> </strong><strong>عن</strong><strong> </strong><strong>الصدقة</strong><strong> </strong><strong>وان</strong><strong> </strong><strong>موالينا</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>أنفسنا</strong><strong> </strong><strong>ولا</strong><strong> </strong><strong>نأكل</strong><strong> </strong><strong>الصدقة</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan maula kami adalah bagian dari kami dan tidak boleh menerima sedekah</em></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>أنا</strong><strong> </strong><strong>آل</strong><strong> </strong><strong>محمد</strong><strong> </strong><strong>لا</strong><strong> </strong><strong>تحل</strong><strong> </strong><strong>لنا</strong><strong> </strong><strong>الصدقة</strong><strong> </strong><strong>وان</strong><strong> </strong><strong>مولى</strong><strong> </strong><strong>القوم</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>أنفسهم</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami keluarga Muhammad tidak halal bagi kami menerima sedekah dan maula suatu kaum termasuk kedalam kaum tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lafaz <em>“kami ahlul bait”</em> serupa dengan lafaz <em>“kami keluarga Muhammad”</em> yaitu diharamkan menerima sedekah. Dan lafaz <em>“maula kami adalah bagian dari kami”</em> sama halnya dengan lafaz <em>“maula suatu kaum bagian dari kaum tersebut”</em>. Jadi siapakah maula yang diharamkan menerima sedekah?. Apakah khusus maula Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja?. Jelas tidak, orang yang menyatakan demikian berarti ia sudah mendustakan hadis yang begitu jelasnya dan terang benderang. Maula yang dimaksud disitu adalah maula ahlul bait atau maula keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apakah lafaz “kaum” yang dimaksud itu hanya merujuk pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja?. Cuma orang yang lemah akalnya yang bilang begitu. Dan jika orang tersebut sok merasa kasihan atas orang lain maka keadaannya jauh lebih menyedihkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yah kalau nashibi itu bisa membaca [itu pun kalau bisa] sebagian ulama menyatakan bahwa maula bani hasyim diharamkan menerima sedekah. Apa dalilnya? Yaitu hadis yang telah kami kutip. Jadi sangat berbeda dengan ucapan dusta nashibi tersebut.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wahai rafidhi nashibi anda-lah yang berdusta dan inkar terhadap sunnah, bukankah yang bersabda dalam hadits-hadits tersebut adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, beliau bersabda kepada mawla beliau sendiri yaitu Abu Rafi’ (Aslam) dan Maimun atau Mihran. Mereka adalah orang-orang yang dimerdekakan oleh beliau bukan dimerdekakan oleh selain beliau, makanya hak perwalian mereka ada pada beliau sehingga mereka pun tidak boleh menerima sedekah, jelas banget itu, sedangkan mawla selain beliau tidak terkena hukum tersebut. Mari kita perhatikan hadits-hadits yang dinukil oleh si rafidhi nashibi yang ingin merendahkan kedudukan ahlul bait (istri-istri Nabi) ini :</p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">عن بن أبى رافع عن أبيه ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث رجلا من بني مخزوم على الصدقة فقال الا تصحبني تصيب قال قلت حتى أذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه و سلم فذكرت ذلك فقال أنا آل محمد لا تحل لنا الصدقة وان مولى القوم من أنفسهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Abi Rafi’ dari ayahnya bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus seorang laki-laki dari bani Makhzum untuk mengambil sedekah. Maka ia berkata “temanilah aku dan engkau akan mendapat bagian”. Aku berkata “tunggu sampai aku menanyakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” dan aku menanyakannya maka Beliau berkata <span style="text-decoration:underline;">“kami keluarga Muhammad tidak dihalalkan bagi kami sedekah dan mawla suatu kaum termasuk kaum itu sendiri</span> </em><strong><em>[Musnad Ahmad 6/390 no 27226 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang dapat diambil dari perkataan beliau adalah : 1. Keluarga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam dan beliau sendiri tidak dihalalkan menerima sedekah (termasuk istri-istri beliau karena mereka adalah keluarga beliau juga), 2. Mawla Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam juga tidak dihalalkan menerima sedekah karena kedudukan mawla-mawla tersebut seperti keluarga beliau sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian diriwayatkan pula dari Ummu Kultsum binti Ali bahwa mawla Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bernama Maimun atau Mihran mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah bersabda</p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">فقال له يا ميمون أو يا مهران انا أهل بيت نهينا عن الصدقة وان موالينا من أنفسنا ولا نأكل الصدقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya <span style="text-decoration:underline;">“wahai Maimun atau wahai Mihraan kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan mawla kami termasuk bagian dari kami dan tidak boleh memakan sedekah”</span> </em><strong><em>[Musnad Ahmad 4/34 no 16446 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang dapat diambil dari hadits di atas : 1. Rasulullah (sayyidul bait) dan ahlul bait (termasuk istri-istri beliau) dilarang menerima sedekah dan 2. mawla beliau bagian dari ahlul bait beliau sehingga juga dilarang menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa kata-kata “Mawla Kami” kembali kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bukan kepada ahlul bait? karena :</p>
<p style="text-align:justify;">1.       Ahlul bait (termasuk istri-istri) tidak boleh menerima sedekah karena mereka ahlul bait Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, kalau bukan ahlul bait beliau mereka dibolehkan menerima sedekah. jadi obyeknya di sini adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam.</p>
<p style="text-align:justify;">2.       Beliau adalah sayyidul bait, sehingga mawla beliau adalah juga mawla ahlul bait beliau, tetapi mawla ahlul bait beliau kedudukannya berbeda dengan mawla beliau sendiri, tidak bisa disamakan dalam hukum.</p>
<p style="text-align:justify;">3.       Hadits-hadits mengenai Barirah dan Mawla istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang boleh menerima sedekah menunjukkan bahwa mawla ahlul bait boleh menerima sedekah, dan hadits Barirah dan Mawla Juwairiyah ini sebagai penjelas hadits-hadits di atas. Bukannya malah menganggap istri-istri Nabi dihalalkan menerima sedekah hanya karena mawla mereka dibolehkan menerima sedekah. Ini adalah sisi pendalilan yang keliru.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi si rafidhi nashibi ini tidak bisa menjawab, bagaimana mungkin maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) beliau, diharamkan menerima sedekah yang merupakan salah satu kekhususan beliau, sedangkan Aisyah sebagai istri/ahlul bait beliau di dunia dan di akhirat tidak diharamkan menerima sedekah? Suatu logika yang sangat anomaly dan lemah. Ini bukan perkara bahwa ini adalah ketentuan Nabi atau apa, tetapi pendalilan si rafidhi nashibi ini yang keliru, pepesan kosong seperti biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Lha kalau memang pakai logika, ya silakan pakai maka bagaimana dengan sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang katanya sahabat di dunia dan akhirat seperti Abu Bakar dan Umar. Apakah masuk di logika anda kalau mereka juga diharamkan menerima sedekah?. Dan mereka tidak hanya sahabat tetapi juga mertua Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Andalah yang pakai logika dalam masalah ini maka itu adalah masalah bagi anda sendiri. Sedangkan kami berhujjah dengan dalil shahih bukan logika ngawur. So mengapa kami harus menjawab pertanyaan ngawur anda.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho ya jelas beda, istri-istri adalah ahlul bait beliau berdasarkan hadits shahih, maka mereka juga adalah orang-orang yang diharamkan menerima sedekah, kalau mawla (budak yang dimerdekakan) beliau haram menerima sedekah apalagi istri-istri beliau yang jelas-jelas adalah ahlul bait beliau. Bukankah wali dari istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah Nabi sendiri, mengapa mereka dikecualikan? Maka sadarilah bahwa kesimpulan anda yang keliru wahai rafidhi nashibi.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan tunjukkan dalil jelas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa istri Nabi diharamkan menerima sedekah?. Jangan cuma klaim tanpa bukti. Jika memang sedemikian masyhurnya bahwa istri Nabi diharamkan menerima sedekah maka mengapa sahabat Zaid bin Arqam radiallahu ‘anhu tidak mengetahuinya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hoho dari kemarin kemana aja? Bukankah sudah diberikan beberapa hadits shahih mengenai hal ini, paling-paling anda plintir-plintir seperti biasa, kayak gitu kok ngatain orang, bercerminlah sana wahai rafidhi nashibi. Mengenai perkataan Zaid sudah kami berikan penjelasannya di atas, jika dia tidak mengetahui apakah itu suatu cela? Tidak wahai Rafidhi Nashibi, kadang ada sahabat yang tidak mengetahui suatu hal, dan itu wajar-wajar saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho kalau begitu siapa yang memasaknya?. Sangat jelas dari hadis Shahih Bukhari tersebut bahwa ketika Beliau masuk ke rumah Aisyah, periuk itu sedang di atas api. Artinya “daging itu sedang dimasak”. Siapa yang memasaknya? Barirah? Mana buktinya, itu namanya berandai andai. Hadisnya tidak menyebutkan demikian. Bahkan dari hadis Shahih Bukhari tersebut jelas Barirah tidak berada disana karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “baginya sedekah” kalau memang ketika itu Barirah ada disana maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan berkata “bagimu adalah sedekah”.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nah ini yang namanya tekstual, dalam rumah tangga Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, disamping istri-istri Nabi terdapat mawla-mawla dan pembantu mereka contohnya adalah Barirah, juga ada pelayan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yaitu Anas bin Malik yang juga meriwayatkan hadits tentang Barirah ini, jadi bisa saja yang memasak adalah mereka yang membantu istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan dimasak untuk mereka. Apa masalahnya jika Nabi mengatakan “baginya adalah Sedekah” ketika Barirah ada di situ? Bukankah Nabi sedang bercakap-cakap dengan Aisyah? Jadi Barirah adalah orang ketiga tunggal. Aneh-aneh aja nich Rafidhi Nashibi.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan riwayat-riwayat berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْقَاسِمِ قَالَ سَمِعْتُ الْقَاسِمَ يُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا أَرَادَتْ أَنْ تَشْتَرِيَ بَرِيرَةَ لِلْعِتْقِ فَاشْتَرَطُوا وَلَاءَهَا فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اشْتَرِيهَا وَأَعْتِقِيهَا فَإِنَّ الْوَلَاءَ لِمَنْ أَعْتَقَ وَأُهْدِيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَحْمٌ فَقَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَقَالَ هُوَ لَهَا صَدَقَةٌ وَهُوَ لَنَا هَدِيَّةٌ وَخُيِّرَتْ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَكَانَ زَوْجُهَا حُرًّا قَالَ شُعْبَةُ ثُمَّ سَأَلْتُهُ عَنْ زَوْجِهَا فَقَالَ لَا أَدْرِي و حَدَّثَنَاه أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ النَّوْفَلِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 21.9/2766. Telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Al Mutsanna</em> telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Ja&#8217;far</em> telah menceritakan kepada kami <em>Syu&#8217;bah</em> dia berkata; Saya mendengar <em>Abdurrahman bin Qasim</em> berkata; Saya mendengar <em>Qasim</em> menceritakan dari <em>&#8216;Aisyah</em> bahwa dia hendak membeli Barirah untuk dibebaskan, namun keluarganya mensyaratkan hak perwalian, lalu hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Belilah dan bebaskanlah dia, karena hak perwalian itu bagi orang yang memerdekakannya. Kemudian Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam diberi hadiah sepotong daging, <strong><em><span style="text-decoration:underline;">mereka (penghuni rumah)</span></em></strong> berkata kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, Daging ini disedekahkan kepada Barirah. Maka beliau bersabda: Baginya adalah sedekah sedangkan bagi kita adalah hadiah. Dan dia juga diberi pilihan. Andurrahman berkata; Suaminya adalah seorang yang merdeka. Syu&#8217;bah berkata; Kemudian saya bertanya kepadanya tentang status suaminya, dia menjawab; Saya tidak tahu. Dan telah menceritakan kepada kami <em>Ahmad bin Utsman An Naufali</em> telah menceritakan kepada kami <em>Abu Daud</em> telah menceritakan kepada kami <em>Syu&#8217;bah</em> dengan isnad seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;">و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ خُيِّرَتْ عَلَى زَوْجِهَا حِينَ عَتَقَتْ وَأُهْدِيَ لَهَا لَحْمٌ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْبُرْمَةُ عَلَى النَّارِ فَدَعَا بِطَعَامٍ فَأُتِيَ بِخُبْزٍ وَأُدُمٍ مِنْ أُدُمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ بُرْمَةً عَلَى النَّارِ فِيهَا لَحْمٌ فَقَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَلِكَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَكَرِهْنَا أَنْ نُطْعِمَكَ مِنْهُ فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَهُوَ مِنْهَا لَنَا هَدِيَّةٌ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ  Muslim, 21.11/2768. Telah menceritakan kepada kami <em>Abu Thahir</em> telah menceritakan kepada kami <em>Ibnu Wahb</em> telah mengabarkan kepada kami <em>Malik bin Anas</em> dari <em>Rabi&#8217;ah bin Abi Abdirrahman</em> dari <em>Qasim bin Muhammad</em> dari <em>&#8216;Aisyah</em> istri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bahwa dia berkata; Dalam kasus Barirah ada tiga pelajaran yaitu; dia diberi pilihan atas suaminya ketika dia dibebaskan, dia juga pernah diberi daging, lalu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam masuk ke rumahku, ketika itu ada tungku yang sedang dipanasi di atas api, kemudian beliau meminta dihidangkan makanan, lalu beliau diberi roti dan lauk pauk yang ada di rumah, lalu beliau bertanya: Tidakkah tadi saya melihat periuk di atas api yang berisi daging? <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Mereka menjawab</span></em></strong>; Ya, wahai Rasulullah, itu adalah daging yang tadi disedekahkan kepada Barirah, sehingga kami tidak suka untuk memberikannya kepada Anda. Beliau bersabda: Daging tersebut bagi Barirah adalah sedekah, sedangkan bagi kita adalah hadiah dari Barirah. Dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda mengenai dirinya: Sesungguhnya hak perwalian adalah untuk orang yang memerdekakan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lha iya, kapan pula kami membantah soal itu?. Nashibi ini memang sulit memahami hujjah orang lain. Jelas hadiah itu diperuntukkan bagi Aisyah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka lafaznya adalah <em><span style="text-decoration:underline;">“bagi kita adalah hadiah”</span></em> tetapi yang tidak boleh menerima sedekah itu hanya Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] sedangkan Aisyah [radiallahu 'anha] boleh menerima sedekah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Itu hanyalah plintiran dari si rafidhi nashibi tersebut, “<em>bagi kita adalah hadiah</em>” adalah sejelas-jelas dalil bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan istrinya hanya menerima hadiah, karena beliau bersabda demikian bersamaan dengan penjelasan beliau atas halalnya beliau memakan makanan tersebut. Ketika Aisyah berkata <em>“sedangkan anda tidak makan sedekah”</em> kalau memang ini hanya berkenaan dengan Nabi saja, tentu beliau akan cukup bersabda <em>“bawalah kemari, itu sedekah buat barirah dan bagiku adalah hadiah”</em> tidak perlu berkata <em>“bagi kita”</em>. Jadi jelas beliau bersabda <em>“bagi kita adalah hadiah”</em> mengandung makna bagi beliau dan Aisyah hanya menerima hadiah bukan sedekah. keterkaitan seperti ini yang tidak diperhatikan oleh si rafidhi nashibi itu, maka sia-sialah dia berusaha memaksakan asumsinya terhadap hadits ini, sedangkan pada hadits di atas tidak ada satupun kalimat yang menunjukkan bahwa Aisyah dibolehkan menerima sedekah, itu hanya khayalan dari si rafidhi nashibi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا أَرَادَتْ أَنْ تَشْتَرِيَ بَرِيرَةَ لِلْعِتْقِ وَأَرَادَ مَوَالِيهَا أَنْ يَشْتَرِطُوا وَلَاءَهَا فَذَكَرَتْ عَائِشَةُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرِيهَا فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَتْ وَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلَحْمٍ فَقُلْتُ هَذَا مَا تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَقَالَ هُوَ لَهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 13.91/1398. Telah menceritakan kepada kami <em>Adam</em> telah menceritakan kepada kami <em>Syu&#8217;bah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Al Hakam</em> dari <em>Ibrahim</em> dari <em>Al Aswad</em> dari <em>&#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha</em> bahwa dia berkehendak membeli Barirah untuk dimerdekakan namun tuannya mengajukan syarat agar dia menjadi tuan dari sahaya yang dibebaskannya itu. Maka (&#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha) menceritaklan hal itu kepada Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam, maka Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam berkata, kepadanya: Belilah, dan wala&#8217; dari sahaya adalah siapa yang membebaskannya. (&#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha) berkata,: Kepada Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam pernah diberikan sepotong <em><span style="text-decoration:underline;">daging lalu aku katakan bahwa daging ini dari zakat yang diterima Barirah</span></em>. Maka Beliau Shallallahu&#8217;alaihiwasallam bersabda: Baginya ini zakat tapi bagi kita ini hadiah.</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ قَضِيَّاتٍ أَرَادَ أَهْلُهَا أَنْ يَبِيعُوهَا وَيَشْتَرِطُوا وَلَاءَهَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اشْتَرِيهَا وَأَعْتِقِيهَا فَإِنَّ الْوَلَاءَ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَتْ وَعَتَقَتْ فَخَيَّرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاخْتَارَتْ نَفْسَهَا قَالَتْ وَكَانَ النَّاسُ يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا وَتُهْدِي لَنَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَهُوَ لَكُمْ هَدِيَّةٌ فَكُلُوهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 21.7/2764. Telah menceritakan kepada kami <em>Zuhair bin Harb</em> dan <em>Muhammad bin Al &#8216;Ala`</em> sedangkan lafazhnya dari Zuhair, keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami <em>Abu Mu&#8217;awiyah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Hisyam bin Urwah</em> dari <em>Abdurrahman bin Qasim</em> dari <em>ayahnya</em> dari <em>&#8216;Aisyah</em> dia berkata; Barirah memiliki tiga perkata, yaitu tuannya menginginkan untuk menjualnya dengan syarat perwaliannya untuk mereka, lantas hal itu saya sampaikan kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Belilah dan bebaskanlah dia, karena sesungguhnya perwalian itu bagi orang yang memerdekakannya. Aisyah melanjutkan; Kemudian dia dibebaskan, setelah itu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memberikan pilihan (antara dirinya atau tetap bersama suaminya yang masih budak), namun dia memilih dirinya. Aisyah melanjutkan; Suatu ketika orang-orang bersedekah kepadanya, dan dia menghadiahkannya kepada kami, <em><span style="text-decoration:underline;">lalu saya memberitahukan hal itu kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam</span></em>, maka beliau bersabda: Hal itu buatnya adalah sedekah, namun buat kalian adalah hadiah darinya, maka makanlah.</p>
<p style="text-align:justify;"> و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا اشْتَرَتْ بَرِيرَةَ مِنْ أُنَاسٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَاشْتَرَطُوا الْوَلَاءَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلَاءُ لِمَنْ وَلِيَ النِّعْمَةَ وَخَيَّرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ زَوْجُهَا عَبْدًا وَأَهْدَتْ لِعَائِشَةَ لَحْمًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ صَنَعْتُمْ لَنَا مِنْ هَذَا اللَّحْمِ قَالَتْ عَائِشَةُ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَقَالَ هُوَ لَهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ  21.8/2765. Telah menceritakan kepada kami <em>Abu Bakar bin Abi Syaibah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Husain bin &#8216;Ali</em> dari <em>Za`idah</em> dari <em>Simak</em> dari <em>Abdurrahman bin Qasim</em> dari <em>ayahnya</em> dari <em>&#8216;Aisyah</em> bahwa dia membeli Barirah dari keluarga orang Anshar, namun mereka mensyaratkan hak perwalian. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: Hak perwalian itu bagi orang yang memerdekakannya. Lalu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memberikan pilihan, saat itu suaminya adalah seorang budak, dan dia pernah menghadiahkan daginga kepada Aisyah, maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: <em><span style="text-decoration:underline;">Sekiranya kalian membuat makanan dari daging ini. &#8216;Aisyah berkata; Ini adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah</span></em>. Maka beliau bersabda: Daging itu untuknya adalah sedekah sedangkan untuk kita adalah hadiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas menunjukkan bahwa Aisyah belum memutuskan apa-apa ketika diberikan sepotong daging zakat untuk Barirah yang ditujukan untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam melalui Aisyah, karena Aisyah ingin mendengar fatwa dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengenai hal itu, dan ternyata Nabi menjawab : <em>“Baginya ini zaka/sedekaht tetapi bagi kita ini hadiah”</em> jelas kata “kita” adalah untuk Aisyah juga, artinya halal buat beliau dan Aisyah karena itu statusnya hadiah, sedangkan kalau itu statusnya sedekah atau zakat maka menjadi tidak halal bagi mereka berdua.</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَتْ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ قَضِيَّاتٍ كَانَ النَّاسُ يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا وَتُهْدِي لَنَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَكُمْ هَدِيَّةٌ فَكُلُوهُ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْقَاسِمِ قَالَ سَمِعْتُ الْقَاسِمَ يُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ رَبِيعَةَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَهُوَ لَنَا مِنْهَا هَدِيَّةٌ</p>
<p style="text-align:justify;">13.164/1788. Telah menceritakan kepada kami <em>Zuhair bin Harb</em> dan <em>Abu Kuraib</em> keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami <em>Abu Mu&#8217;awiyah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Hisyam bin Urwah</em> dari <em>Abdurrahman bin Qasim</em> dari <em>bapaknya</em> dari <em>Aisyah</em> radliallahu &#8216;anha, ia berkata; Telah terjadi tiga peristiwa pada diri Barirah. Banyak orang bersedekah kepadanya dan ia memberikannya kepada kami. Lalu kusampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Untuk Barirah hal itu adalah sedekah, sedangkan bagi kalian adalah hadiah. Karena itu, makanlah</span></em></strong>. Dan telah menceritakan kepada kami <em>Abu Bakar bin Abu Syaibah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Husain bin Ali</em> dari <em>Za`idah</em> dari <em>Simak</em> dari <em>Abdurrahman bin Al Qasim</em> dari <em>bapaknya</em> dari <em>Aisyah</em> -Dalam riwayat lain- Dan telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Al Mutsanna</em> telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Ja&#8217;far</em> Telah menceritakan kepada kami <em>Syu&#8217;bah</em> ia berkata, Aku mendengar <em>Abdurrahman bin Al Qasim</em> ia berkata; Aku mendengar <em>Al Qasim</em> menceritakan dari <em>Aisyah</em> dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan hadits semisal itu. Dan telah menceritakan kepadaku <em>Abu Thahir</em> telah menceritakan kepada kami <em>Ibnu Wahb</em> telah mengabarkan kepadaku <em>Malik bin Anas</em> dari <em>Rabi&#8217;ah</em> dari <em>Al Qasim</em> dari <em>Aisyah</em> dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan hadits seperti itu. Hanya saja, ia menyebutkan; <em><span style="text-decoration:underline;">Dan makanan itu adalah hadiah darinya untuk kita.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Aisyah tidak akan menyampaikan hal tersebut kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam jika memang dia yakin apa yang diberikan Barirah adalah halal buat dirinya, permasalahannya adalah karena itu adalah makanan yang disedekahkan untuk Barirah yang kemudian sebagian diberikan oleh Barirah kepada Aisyah, hal ini yang membuat Aisyah ragu/sangsi, sehingga Aisyah perlu menyampaikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, dan kemudian Nabi mengatakan bahwa itu adalah hadiah buat kalian maka boleh dimakan. Sisi pendalilannya adalah bahwa istri-istri Nabi diharamkan makan sedekah, tetapi dibolehkan menerima hadiah. Nah kalau rafidhi nashibi itu berdalilkan riwayat Aisyah sebelumnya, jelas riwayat ini telah menjelaskan duduk perkaranya dengan jelas, dan kami pun sudah menjelaskan bahwa sesuatu yang dimasak di tungku belum tentu Aisyah yang memasaknya dan belum tentu juga dia yang akan memakan-nya karena seperti diketahui dari hadits di atas di dalam rumah Aisyah ternyata terdapat beberapa orang dan Barirah adalah mungkin salah satunya, dan jelas ketika ditanya oleh Nabi mengenai daging tersebut, &#8216; <em><span style="text-decoration:underline;">Mereka (yang ada di rumah)</span> menjawab; &#8216;Benar, wahai Rasulullah. Tetapi itu adalah daging yang disedekahkah kepada Barirah, lalu olehnya diberikan kepada kita!</em> &#8216;, artinya yang memasak bukan Aisyah, tetapi para pembantunya, justru jawaban Nabi dengan mengatakan, <strong><em>baginya sedekah dan bagi kita hadiah</em></strong> menunjukkan hukum yang berlaku bagi Nabi dan istrinya sebagai ahlul bait. Bahwa beliau dan istri-istrinya hanya menerima hadiah bukan sedekah. kalau dengan bahasa lainnya kira-kira seperti ini “wahai Aisyah tenang saja, makanan itu bagi Barirah adalah sedekah tetapi buat kita itu adalah hadiah, jadi makanan itu halal”. Kalimat Aisyah “sedangkan anda tidak makan sedekah” tidak berarti Aisyah tidak termasuk di dalamnya, perkataan Aisyah tersebut sebagai respon kepada nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang menanyakan daging yang ada di atas tungku, maka sangat wajar jika Aisyah menjawabnya dengan kalimat seperti itu. Jadi syubhat rafidhi nashibi itu hanya omong kosong dan bualan saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas diriwayatkan oleh Ummu Athiyah, artinya saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda kepada Aisyah dalam hadits di atas, Ummu Athiyah hadir di situ sehingga dia bisa meriwayatkannya. Artinya juga bahwa Aisyah baru saja menerima pemberian daging tersebut dari Ummu Athiyah dan belum memutuskan apa-apa, tak lama kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam datang sementara Ummu Athiyah masih ada di situ.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini ucapan orang yang berandai andai. Apa buktinya Ummu Athiyah ada disitu?. Ummu Athiyah tidak hadir disitu dan walaupun ia tidak hadir tidak ada alasan untuk menolak riwayatnya. Apa karena ia tidak hadir disitu maka ia tidak bisa meriwayatkannya. Tidak setiap peristiwa yang diriwayatkan oleh sahabat ia saksikan langsung. Dari lafaz hadisnya tidak ada satupun keterangan kalau Ummu Athiyah berada disana bahkan dalam lafaz hadis tersebut terdapat isyarat bahwa ia tidak ada disana. Perhatikan saja lafaz</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>أُمِّ</strong><strong> </strong><strong>عَطِيَّةَ</strong><strong> </strong><strong>قَالَتْ</strong><strong> </strong><strong>بَعَثَ</strong><strong> </strong><strong>إِلَيَّ</strong><strong> </strong><strong>رَسُولُ</strong><strong> </strong><strong>اللَّهِ</strong><strong> </strong><strong>صَلَّى</strong><strong> </strong><strong>اللَّهُ</strong><strong> </strong><strong>عَلَيْهِ</strong><strong> </strong><strong>وَسَلَّمَ</strong><strong> </strong><strong>بِشَاةٍ</strong><strong> </strong><strong>مِنْ</strong><strong> </strong><strong>الصَّدَقَةِ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ummu Athiyah berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengirimkan kepadaku kambing dari hasil sedekah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Apa bedanya memberikan dengan mengirimkan?. Jika anda mengirimkan sesuatu apa anda akan membawanya langsung kepada orang tersebut. Apakah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan memberikan kepada setiap orang yang menerima sedekah dengan membawanya satu persatu. Lafaz “mengirimkan” cukup menunjukkan bahwa sedekah tersebut diantarkan kepada orang yang akan menerimanya tidak mesti langsung oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dalam hadis Ummu Athiyah yang lain yaitu Shahih Bukhari malah diucapkan dengan lafaz</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita perhatikan riwayat Ummu Athiyah :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مِنْ الصَّدَقَةِ فَبَعَثْتُ إِلَى عَائِشَةَ مِنْهَا بِشَيْءٍ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَائِشَةَ قَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ لَا إِلَّا أَنَّ نُسَيْبَةَ بَعَثَتْ إِلَيْنَا مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثْتُمْ بِهَا إِلَيْهَا قَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;">13.165/1789. Telah menceritakan kepadaku <em>Zuhair bin Harb</em> telah menceritakan kepada kami <em>Isma&#8217;il bin Ibrahim</em> dari <em>Khalid</em> dari <em>Hafshah</em> dari <em>Ummu &#8216;Athiyyah</em> ia berkata; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah mengirimkan seekor kambing dari hasil sedekah kepadaku, lalu aku mengirim sebahagian darinya kepada &#8216;Aisyah. Dan ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam datang ke rumah &#8216;Aisyah, beliau bertanya: Apakah kalian mempunyai sesuatu untuk dimakan? &#8216;Aisyah menjawab, Tidak ada, kecuali sedikit daging kambing yang telah engkau kirimkan kepadanya (Ummu &#8216;Athiyyah). Beliau berkata: Ia telah menjadi halal untuk dimakan.</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقَالَتْ لَا إِلَّا شَيْءٌ بَعَثَتْ بِهِ إِلَيْنَا نُسَيْبَةُ مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثَتْ بِهَا مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 13.92/1399. Telah menceritakan kepada kami <em>&#8216;Ali bin &#8216;Abdullah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Yazid bin Zurai&#8217;</em> telah menceritakan kepada kami <em>Khalid</em> dari <em>Hafshah binti Sirin</em> dari <em>Ummu &#8216;Athiyah Al Anshariyyah radliallahu &#8216;anhuma</em> berkata,: Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam menemui &#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha lalu berkata,: Apakah ada sesuatu yang kalian miliki (untuk dimakan)?. Dia &#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha berkata,: Tidak ada, kecuali apa yang dikirim buat kita oleh Nusaibah dari daging kambing yang diperuntukkan untuknya sebagai zakat. Maka Beliau berkata,: Shadaqah itu telah sampai kepada tempatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan, kalau Ummu Athiyah tidak hadir di rumah Aisyah saat itu, lalu darimana beliau mengetahui percakapan antara Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dengan Aisyah? Dari sini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa saat itu Ummu Athiyah berada di rumah Aisyah. Kemungkinan beliau ada di rumah Aisyah saat itu lebih besar daripada tidaknya. Seandainya pun yang mengirim adalah orang lain yang disuruh, maka orang ini hadir saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sedang bercakap-cakap dengan Aisyah saat itu dan kemudian disampaikan kepada Ummu Athiyah, artinya saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam datang Ummu Athiyah atau orang yang disuruhnya masih ada di rumah Aisyah dan Aisyah belum memutuskan apa-apa. Jadi ga perlu diperhatikan celotehan syubhat si rafidhi nashibi yang ngawur itu, dan dia tidak nyambung dengan apa yang kami maksudkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hujjah nashibi yang ini lucu sekali, caranya berhujjah menunjukkan bahwa ia tidak memahami hadis yang ia jadikan hujjah. Ia tidak meneliti kesuluruhan lafaz hadis-hadis tentang masalah ini. Pembahasan hadis ini adalah masalah lain yang ada tulisannya tersendiri. Tetapi kebetulan karena nashibi ini berhujjah dengan hadis tersebut maka silakan ia membaca hadis berikut dari Abu Bakar</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong> </strong><strong>فَقَالَ</strong><strong> </strong><strong>أَبُو</strong><strong> </strong><strong>بَكْرٍ</strong><strong> </strong><strong>سَمِعْتُ</strong><strong> </strong><strong>النَّبِيَّ</strong><strong> </strong><strong>صَلَّى</strong><strong> </strong><strong>اللَّهُ</strong><strong> </strong><strong>عَلَيْهِ</strong><strong> </strong><strong>وَسَلَّمَ</strong><strong> </strong><strong>يَقُولُ</strong><strong> </strong><strong>لَا</strong><strong> </strong><strong>نُورَثُ</strong><strong> </strong><strong>مَا</strong><strong> </strong><strong>تَرَكْنَا</strong><strong> </strong><strong>صَدَقَةٌ</strong><strong> </strong><strong>إِنَّمَا</strong><strong> </strong><strong>يَأْكُلُ</strong><strong> </strong><strong>آلُ</strong><strong> </strong><strong>مُحَمَّدٍ</strong><strong> </strong><strong>فِي</strong><strong> </strong><strong>هَذَا</strong><strong> </strong><strong>الْمَالِ</strong><strong> </strong><strong>وَاللَّهِ</strong><strong> </strong><strong>لَقَرَابَةُ</strong><strong> </strong><strong>رَسُولِ</strong><strong> </strong><strong>اللَّهِ</strong><strong> </strong><strong>صَلَّى</strong><strong> </strong><strong>اللَّهُ</strong><strong> </strong><strong>عَلَيْهِ</strong><strong> </strong><strong>وَسَلَّمَ</strong><strong> </strong><strong>أَحَبُّ</strong><strong> </strong><strong>إِلَيَّ</strong><strong> </strong><strong>أَنْ</strong><strong> </strong><strong>أَصِلَ</strong><strong> </strong><strong>مِنْ</strong><strong> </strong><strong>قَرَابَتِي</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Bakar berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “aku tidak mewariskan, apa yang aku tinggalkan adalah sedekah, <span style="text-decoration:underline;">sesungguhnya keluarga Muhammad makan dari harta ini</span>, demi Allah kerabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih aku cintai untuk menjalin hubungannya dibanding kerabatku <strong>[Shahih Bukhari 5/90 no 4035]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Nah berdasarkan hadis tersebut maka keluarga Muhammad dapat makan dari harta peninggalan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang menjadi sedekah. Menurut Abu Bakar keluarga Muhammad tidak dapat mewarisinya tetapi dapat makan dari harta tersebut. Nah loooo</p>
<p style="text-align:justify;">Dan apakah nashibi itu tidak memperhatikan bahwa istri istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak sedang meminta sedekah tetapi meminta warisan. Lihat saja hadinya yang berbunyi</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>أَرَدْنَ</strong><strong> </strong><strong>أَنْ</strong><strong> </strong><strong>يَبْعَثْنَ</strong><strong> </strong><strong>عُثْمَانَ</strong><strong> </strong><strong>إِلَى</strong><strong> </strong><strong>أَبِي</strong><strong> </strong><strong>بَكْرٍ</strong><strong> </strong><strong>يَسْأَلْنَهُ</strong><strong> </strong><strong>مِيرَاثَهُنَّ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mereka mengutus Utsman kepada Abu Bakar untuk meminta warisan mereka</em></p>
<p style="text-align:justify;">Istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak sedang meminta sedekah, mereka meminta warisan. Jadi apanya yang maksud nashibi itu jelas. Nashibi itu sepertinya tidak bisa membedakan antara warisan dan sedekah. Dan btw wahai nashibi, istri Nabi itu termasuk keluarga Muhammad yang boleh makan dari harta tersebut tidak?. Selamat bersakit hati.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mudah ditebak apa yang bakal dia tanggapi, tidak perlu bersakit hati dan jangan khawatir kami sudah menyiapkannya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  perhatikan riwayat berikut ini yang menjelaskan syubhat anda wahai rafidhi nashibi</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقْتَسِمُ وَرَثَتِي دِينَارًا مَا تَرَكْتُ بَعْدَ نَفَقَةِ نِسَائِي وَمَئُونَةِ عَامِلِي فَهُوَ صَدَقَةٌ</p>
<p style="text-align:justify;">Bukhari, 39.5/2865. Telah bercerita kepada kami <em>&#8216;Abdullah bin Yusuf</em> telah mengabarkan kepada kami <em>Malik</em> dari <em>Abu Az Zanad</em> dari <em>Al A&#8217;roj</em> dari <em>Abu Hurairah Radliallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah Shallallahu&#8217;alaiwasallam bersabda: Janganlah warisanku dibagi-bagi sebagai dinar. Apa yang aku tinggalkan selain untuk nafkah istri-istriku dan gaji amil zakatku semuanya sebagai shadaqah.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya harta peninggalan beliau setelah dikurangi nafkah istri-istri beliau dan gaji amil zakat beliau adalah sedekah, artinya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah membedakan antara nafkah dengan sedekah, jadi yang dimaksud istri-istri Nabi mengambil dari harta ini adalah nafkah untuk mereka. Maka sedekah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam haram diwariskan ataupun digunakan oleh istri-istri beliau. Yang artinya istri-istri Nabi haram memakan sedekah. silahkan bersakit hati…</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wah wah kami sampai tertawa membaca komentar ini. Tidak ada dalam lafaz riwayat Thabrani yang menunjukkan bahwa Juwairiyah menawarkan kepada Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Inilah lafaz jawaban Juwairiyah dalam riwayat Thabraniy</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong> </strong><strong>يا</strong><strong> </strong><strong>رسول</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>قد</strong><strong> </strong><strong>تصد</strong><strong> </strong><strong>ق</strong><strong> </strong><strong>على</strong><strong> </strong><strong>فلانة</strong><strong> </strong><strong>بعضو</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>لحم</strong><strong> </strong><strong>وقد</strong><strong> </strong><strong>صنعته</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sungguh telah disedekahkan kepada fulanah sebagian daging dan aku telah memasaknya</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan lafaz ini Juwairiyah ingin mengatakan bahwa makanan yang ada padanya adalah hasil sedekah dan ia tahu bahwa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] tidak makan sedekah. Lafaz ini mengisyaratkan Juwairiyah tidak mau menyajikan kepada Nabi makanya Nabi menjawab <em>“bawalah kemari sungguh sedekah itu telah sampai pada tempatnya”</em>. Jawaban ini diucapkan Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] untuk mengoreksi anggapan Juwairiyah karena Juwairiyah beranggapan status makanan tersebut masih sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan fatal nashibi itu adalah ia tidak mengumpulkan semua riwayat kisah Juawiriyah tersebut. Peristiwa Juwairiyah ini sama halnya dengan peristiwa Aisyah [radiallahu ‘anha]. Kami mengutip riwayat Thabraniy karena lafaznya lebih kuat sebagai hujjah yaitu Juwairiyah memasak makanan tersebut, nah hadis tersebut ternyata diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim yaitu sebagai berikut</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>أن</strong><strong> </strong><strong>عبيد</strong><strong> </strong><strong>بن</strong><strong> </strong><strong>السباق</strong><strong> </strong><strong>قال</strong><strong> </strong><strong>إن</strong><strong> </strong><strong>جويرية</strong><strong> </strong><strong>زوج</strong><strong> </strong><strong>النبي</strong><strong> </strong><strong>صلى</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>عليه</strong><strong> </strong><strong>و</strong><strong> </strong><strong>سلم</strong><strong> </strong><strong>أخبرته</strong><strong> </strong><strong>أن</strong><strong> </strong><strong>رسول</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>صلى</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>عليه</strong><strong> </strong><strong>و</strong><strong> </strong><strong>سلم</strong><strong> </strong><strong>دخل</strong><strong> </strong><strong>عليها</strong><strong> </strong><strong>فقال</strong><strong> </strong><strong>هل</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>طعام</strong><strong> </strong><strong>؟</strong><strong> </strong><strong>قالت</strong><strong> </strong><strong>لا</strong><strong> </strong><strong>والله</strong><strong> </strong><strong>يا</strong><strong> </strong><strong>رسول</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>ما</strong><strong> </strong><strong>عندنا</strong><strong> </strong><strong>طعام</strong><strong> </strong><strong>إلا</strong><strong> </strong><strong>عظم</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>شاة</strong><strong> </strong><strong>أعطيته</strong><strong> </strong><strong>مولاتي</strong><strong> </strong><strong>من</strong><strong> </strong><strong>الصدقة</strong><strong> </strong><strong>فقال</strong><strong> </strong><strong>قريبة</strong><strong> </strong><strong>فقد</strong><strong> </strong><strong>بلغت</strong><strong> </strong><strong>محلها</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bahwa Ubaid bin As Sabbaaq berkata bahwa Juwairiyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemuinya dan berkata “apakah ada makanan?”. Ia berkata <span style="text-decoration:underline;">“tidak ada, demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada disisi kami makanan kecuali kambing yang disedekahkan kepada maulaku.</span> Beliau berkata “bawalah kemari, sedekah itu telah sampai pada tempatnya <strong>[Shahih Muslim 2/756 no 1073]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini sama saja dengan riwayat Thabraniy dan kisah yang diceritakan pun sama. Jadi Juwairiyah menerima pemberian maulanya yang ia anggap sedekah dan ia tidak mau menyajikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena Nabi diharamkan sedekah atasnya. Nah mengapa Juawiriyah memasaknya? Ya untuk dirinya tentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Si rafidhi nashibi ini sok tau kalau Juwairiyah memasak makanan tersebut bukan untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, darimana si rafidhi nashibi ini bisa tau? Dari wangsit?  Bukankah istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengetahui saat giliran Nabi mendatangi  mereka?.</p>
<p style="text-align:justify;">Ho ho jelas dalam hadisnya Juwairiyah berkata “tidak ada” ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menanyakan soal makanan. Nah itu berarti Juwairiyah memasaknya bukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi untuk dirinya sendiri. Alangkah malunya nashibi ini dan jika ia tidak tahu malu maka hal itu malah lebih memalukan lagi. Saran kami, belajarlah dulu sebelum membantah, teliti baik baik hadisnya biar anda tidak malu berkomentar sembarangan apalagi dengan gaya angkuh begitu.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ho ho terima kasih anda telah menambahkan dalil yang justru menguatkan pendapat kita, buat apa mesti malu? Bagi kami kebenaran tetaplah kebenaran tidak perlu ada kata malu jika kita melupakan sesuatu, itu adalah hal wajar, kalau anda bangga dengan hal itu ya silahkan, justru menunjukkan bahwa anda sedang dikuasai oleh hawa nafsu Ujub <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada perubahan terhadap pendapat kami, tambahan dalil yang diinformasikan oleh si rafidhi nashibi ini tetap menunjukkan bahwa Juwairiyah menawarkan kambing yang disedekahkan kepada maulanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, hanya beda kalimatnya saja. Juwairiyah mengatakan “tidak ada” karena memang dia tidak memiliki makanan saat itu dan yang ada padanya adalah daging yang berasal dari mawlanya yang diberi sedekah, karena pada dasarnya kambing itu milik mawlanya bukan milik dia atau milik Nabi, itulah yang kemudian dia tawarkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, dan kemudian beliau mengatakan <em>“bawalah kemari, sedekah itu telah sampai pada tempatnya”</em> dan itu adalah penegasan dari beliau bahwa sedekah tersebut sudah sampai pada tempatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Analoginya seperti seorang istri tidak ada makanan di rumahnya tetapi saudara perempuannya mendapat makanan dari tetangga, ketika suaminya datang apakah kamu punya makanan, karena memang dia tidak mempunyai makanan, maka dia jawab tidak ada, kecuali makanan milik saudara perempuannya yang diberi oleh tetangga, maka si suami berkata “bawa kemari”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya ada yang bertanya, mengapa mawla di sini saya analogikan dengan saudara, karena jika mawla meninggal maka wali (yang memerdekakan) mereka berhak mendapatkan harta mawla, harta si mawla adalah harta si wali juga. Ini adalah salah satu rahasia mengapa mawla Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak boleh menerima sedekah dan mengapa Aisyah maupun Juwairiyah berhak memiliki apa yang dimiliki mawlanya walaupun itu adalah sedekah buat mawla mereka bukan sedekah buat mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Atau mungkin bagi Juwairiyah ataupun Aisyah halal menerima pemberian dari mawla dan itu yang mereka ketahui, karena memang wali berhak atas apa yang dimiliki oleh mawlanya walaupun apa yang dimiliki mawla tersebut adalah dari hasil menerima sedekah, tetapi mereka (Juwairiyah dan Aisyah) ragu apakah makanan sedekah yang diberikan kepada mawlanya tersebut halal buat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Dan ternyata makanan tersebut halal juga buat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Jadi seandainyapun Aisyah ataupun Juwairiyah menerima sesuatu dari mawla mereka, maka mereka tidak beranggapan bahwa itu sedekah, karena pada dasarnya mereka berhak atas mawla-mawla mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Intinya tidak ada satupun hadits-hadits di atas yang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi tidak diharamkan sedekah, justru yang ada adalah dalil bahwa mereka hanya menerima hadiah bukan sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Allahu A&#8217;lam.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/693/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=693&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2011/12/05/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima Sedekah? Anomali Bantahan Rafidhi Nashibi</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/30/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-rafidhi-nashibi/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/30/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-rafidhi-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 06:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan syubhat rafidhi nashibi]]></category>
		<category><![CDATA[istri nabi diharamkan menerima sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa Rafidhi Nashibi yang ingkar sunnah itu kembali membuat bantahan terhadap tulisan kami dan seperti biasanya bantahan itu “tidak bernilai” bagi orang yang mau sedikit saja menggunakan akalnya. Rafidhi Nashibi ini memang layak untuk dikatakan ajaib aneh tapi nyata, ia membantah suatu tulisan dengan dalil padahal dalil yang ia gunakan sebenarnya menjadi bantahan bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=688&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seperti biasa Rafidhi Nashibi yang ingkar sunnah itu kembali membuat bantahan terhadap tulisan kami dan seperti biasanya bantahan itu “tidak bernilai” bagi orang yang mau sedikit saja menggunakan akalnya. Rafidhi Nashibi ini memang layak untuk dikatakan <em><span style="text-decoration:underline;">ajaib aneh tapi nyata</span></em>, ia membantah suatu tulisan dengan dalil padahal dalil yang ia gunakan sebenarnya menjadi bantahan bagi dirinya. Fenomena ini hanya terjadi pada orang yang lemah akalnya atau orang berakal yang dikuasai oleh kebencian sehingga akalnya tertutup dengan nafsu membantah.<span id="more-688"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Zaid bin Arqam dalam riwayat Muslim adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya. (Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, jika perkataan Zaid tersebut difahami sebagaimana pemahaman si rafidhi nashibi tersebut, maka di atas adalah pendapat pribadi Zaid, bisa benar dan bisa juga tidak. Tentunya Aisyah yang lebih kuat dalam hal ini, karena dia sebagai istri Nabi yang menjadi obyek pembahasan saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kami dalam memahami riwayat Zaid di atas berbeda dengan si rafidhi nashibi tersebut, yang dimaksud Zaid dengan mengatakan<em> : “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau”</em> adalah Istilah Ahlul Bait secara lebih luas di mana melingkupi keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Ibnu Abbas dan termasuk juga istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam itu sendiri. Karena Zaid memahami apa yang ditanyakan oleh Hushain <strong><em>adalah makna ahlul bait secara khusus sesuai bahasa yaitu <span style="text-decoration:underline;">penghuni rumah</span> Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam</em></strong>,  dan jelas penghuni rumah beliau adalah istri-istri beliau itulah yang dimaksud oleh Hushain, tetapi ahlul bait dalam pengertian tersebut bukan yang dimaksud oleh Zaid, yang dimaksud Zaid dalam riwayat di atas adalah <strong><em><span style="text-decoration:underline;">ahlul bait dalam pengertian secara lebih luas</span></em></strong> yaitu mereka yang diharamkan menerima shadaqah. Sampai di sini kalau si rafidhi nashibi ini tidak memahami juga, kita hanya bisa bilang kebangetan nih orang…</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan, apakah yang diharamkan menerima shadaqah adalah keluarga Aqil tidak termasuk istri-istri mereka?, keluarga Ja’far tidak termasuk istri-istri mereka?, keluarga Ibnu Abbas tidak termasuk istri-istri mereka? Silahkan anda fikir sendiri kalau anda mengikuti cara berlogika rafidhi nashibi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi riwayat Muslim di atas tidak bertentangan dan tidak bisa dijadikan hujjah bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diharamkan menerima shadaqah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan riwayat Muslim no. 2408, kami mengira kekeliruan pada hafalan si perawi walaupun sanad hadits tersebut shahih, karena jelas bertentangan dengan riwayat Zaid di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Rafidhi Nashibi ini ngotot menjadikan hadits berikut ini sebagai hujjah bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diharamkan menerima sedekah.</p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">فقال له يا ميمون أو يا مهران انا أهل بيت نهينا عن الصدقة وان موالينا من أنفسنا ولا نأكل الصدقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya <span style="text-decoration:underline;">“wahai Maimun atau wahai Mihraan kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan mawla kami termasuk bagian dari kami dan tidak boleh memakan sedekah”</span> </em><strong><em>[Musnad Ahmad 4/34 no 16446 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rafidhi Nashibi ini kemudian mengatakan :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini menjadi hujjah bahwa ahlul bait yang dimaksudkan dalam lafaz <em><span style="text-decoration:underline;">“kami ahlul bait diharamkan menerima sedekah”</span></em> adalah ahlul bait yang maula mereka diharamkan menerima sedekah. Termasuk di dalamnya adalah Bani Hasyim yaitu keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil dan keluarga Abbas. Sedangkan istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak termasuk karena maula mereka dibolehkan menerima sedekah padahal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan<em><span style="text-decoration:underline;"> “maula suatu kaum adalah bagian dari kaum tersebut”</span></em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">“maula ahlul bait diharamkan menerima sedekah”</span></em>. Jadi jika suatu kaum diharamkan menerima sedekah maka maula kaum tersebut juga diharamkan menerima sedekah. Jika istri Nabi sebagai ahlul bait diharamkan menerima sedekah maka maula mereka pun akan diharamkan menerima sedekah. Itulah yang nampak dari hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kita jawab:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan saya sekali lagi, apakah yang dimaksud keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas itu tidak termasuk istri-istri mereka jika istri-istri mereka bukan dari kalangan Bani Hasyim?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dijawab iya, maka mengapa istri Nabi dikecualikan? Jika dijawab tidak, mana dalilnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah bersabda dalam riwayat di atas terhadap mawla beliau sendiri, dan beliau adalah juga ahlul bait bahkan beliau adalah sayyidul bait, maka yang dipahami di sini adalah <strong><em>mawla (budak yang dibebaskan) beliau adalah juga mawla ahlul bait beliau, karena beliau adalah sayyidul bait, tetapi  sebaliknya, mawla (budak yang dibebaskan) anggota ahlul bait beliau tidak dikategorikan mawla beliau yang diharamkan sedekah</em></strong>. Sampai di sini kalau si rafidhi nashibi ini tidak juga memahami, maka kami hanya mengelus dada dan merasa kasihan kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi hadits di atas tidak bisa dijadikan sebagai hujjah bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diharamkan menerima sedekah, sampai detik ini kami tidak melihat ada suatu hadits yang tegas mengatakan hal tersebut, jadi pendalilan si rafidhi nashibi ini sangat lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi si rafidhi nashibi ini tidak bisa menjawab, bagaimana mungkin maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) beliau, diharamkan menerima sedekah yang merupakan salah satu kekhususan beliau, sedangkan Aisyah sebagai istri/ahlul bait beliau di dunia dan di akhirat tidak diharamkan menerima sedekah? Suatu logika yang sangat anomaly dan lemah. Ini bukan perkara bahwa ini adalah ketentuan Nabi atau apa, tetapi pendalilan si rafidhi nashibi ini yang keliru, pepesan kosong seperti biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Rafidhi Nashibi ini mengatakan : <em>Dan sampai saat ini kami belum menemukan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa istri Nabi diharamkan menerima sedekah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin hatinya yang buta dipenuhi rasa hasud terhadap istri Nabi sehingga dia tidak melihat hadits-hadits shahih mengenai hal ini, dasar Nashibi!</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya silakan para pembaca perhatikan pembahasan kami dan pakailah logika yang benar untuk melihat betapa buruknya cara rafidhi nashibi itu berhujjah</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ عَتَقَتْ فَخُيِّرَتْ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبُرْمَةٌ عَلَى النَّارِ فَقُرِّبَ إِلَيْهِ خُبْزٌ وَأُدْمٌ مِنْ أُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ الْبُرْمَةَ فَقِيلَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ قَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Malik dari Rabi’ah bin ‘Abdurrahman dari Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radiallahu ‘anha yang berkata pada Barirah terdapat tiga pelajaran. Ia dimerdekakan kemudian diberikan pilihan. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya wala’ itu adalah bagi mereka yang memerdekakan. Kemudian suatu ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk <span style="text-decoration:underline;">sedangkan periuk berada di atas api</span>, Beliau lalu diberikan roti dan makanan yang biasa ada di rumah. Beliau berkata “bukankah tadi aku melihat periuk?”. Dikatakan kepada Beliau [oleh Aisyah] “periuk itu berisi daging yang disedekahkan kepada Barirah <span style="text-decoration:underline;">sedangkan anda tidak makan sedekah”</span>. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata <strong><span style="text-decoration:underline;">“baginya adalah sedekah sedangkan bagi kita adalah hadiah”</span></strong> </em><strong><em>[Shahih Bukhari 7/9 no 5097]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Barirah menghadiahkan daging itu kepada Aisyah [radiallahu ‘anha]. Kemudian Aisyah radiallahu ‘anha menerima daging pemberian Barirah itu dan memasaknya. Aisyah [radiallahu ‘anha] itu awalnya beranggapan daging itu masih sedekah sehingga tidak boleh disajikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini nampak dalam lafaz  <em><span style="text-decoration:underline;">“anda tidak makan sedekah”</span></em>. Dari lafaz itu juga diketahui bahwa menurut Aisyah, dirinya tidak diharamkan menerima sedekah. Kalau memang dirinya termasuk diharamkan menerima sedekah maka ia akan berkata <em><span style="text-decoration:underline;">“kita tidak makan sedekah”</span></em> bukannya <em><span style="text-decoration:underline;">“anda tidak makan sedekah”</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang Aisyah sebelumnya beranggapan daging pemberian Barirah itu adalah sedekah maka mengapa ia menerima bahkan memasaknya?. Apa daging sedekah itu mau ia sajikan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Jelas tidak. Seandainya Aisyah merasa dirinya termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah maka ia pasti tidak akan menerima daging pemberian Barirah apalagi memasaknya. Mengapa? Karena ahlul bait diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu beranggapan <span style="text-decoration:underline;">Aisyah [radiallahu ‘anha] tahu bahwa dirinya ahlul bait diharamkan menerima sedekah tetapi tetap menerima sedekah yang ia diharamkan atasnya bahkan memasaknya</span>. Bukankah ini suatu celaan yang nyata kepada Aisyah [radiallahu ‘anha]. Hal ini membuktikan kalau anggapan nashibi itu keliru. Aisyah merasa dirinya tidak diharamkan menerima sedekah maka tidak ada masalah baginya menerima pemberian Barirah [yang ia anggap sedekah]. Ia memasaknya untuk dirinya tetapi ia tidak menyajikan daging itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena ia mengetahui bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan menerima sedekah</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kita jawab,</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Si Rafidhi Nashibi ini apakah lupa bahwa Barirah adalah mawla Aisyah dan sering membantu Aisyah, setelah dimerdekakan, Barirah diberi pilihan untuk tetap bersama suaminya atau berpisah dan dia memilih berpisah dengan suaminya dan ikut bersama Aisyah, apakah periuk di atas api bisa disimpulkan bahwa yang memasak adalah Aisyah? Dan apakah kemudian disimpulkan bahwa Aisyah akan memakannya?. <em>Beliau lalu diberikan roti dan makanan yang biasa ada di rumah</em><em>, a</em>rtinya daging tersebut tidak biasa di rumah Aisyah dan itu adalah milik Barirah. Jadi tidak ada penunjukkan dalam hadits di atas bahwa Aisyah tidak diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Si rafidhi nashibi ini mempermasalahkan mengapa Aisyah berkata “Anda tidak makan sedekah” kok tidak mengatakan “kita tidak makan sedekah” kita bisa dengan mudah menjawab pertanyaan konyolnya itu dengan bertanya konyol ke dia mengapa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan <em><span style="text-decoration:underline;">“baginya adalah sedekah sedangkan bagi kita adalah hadiah”</span></em><em> kok tidak mengatakan<span style="text-decoration:underline;">“bagi kalian adalah sedekah sedangkan bagiku adalah hadiah”</span></em><em></em><em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal lagi, bahwa Barirah menghadiahkan daging tersebut sebenarnya bukan hanya untuk Aisyah tetapi juga untuk Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam, sebagaimana riwayat berikut :</p>
<h2 align="right">عن قتادة سمع أنس بن مالك قال أهدت بريرة إلى النبي صلى الله عليه و سلم لحما تصدق به عليها فقال هو لها صدقة ولنا هدية</h2>
<p><em>Dari Qatadah yang mendengar Anas bin Malik berkata Barirah mengahadiahkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] daging yang disedekahkan kepadanya maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata <span style="text-decoration:underline;">“untuknya ini adalah sedekah dan bagi kami ini adalah hadiah”</span> </em><strong><em>[Shahih Muslim 2/756 no 1074]</em></strong></p>
<p>Maka jelas kalimat<strong> &#8220;kita&#8221;</strong> pada hadits-hadits tersebut adalah untuk Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam dan Aisyah radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p style="text-align:justify;">Si rafidhi nashibi ini kemudian melanjutkan :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] <em><span style="text-decoration:underline;">“baginya sedekah dan bagi kita hadiah”</span></em> tidak menunjukkan bahwa Aisyah diharamkan menerima sedekah tetapi menunjukkan bahwa status makanan tersebut berubah. Ketika disedekahkan kepada Barirah maka daging itu adalah sedekah dan ketika Barirah menghadiahkan kepada Aisyah maka daging tersebut menjadi hadiah bukan lagi sedekah. Jadi daging tersebut ketika telah diberikan Barirah dan diterima Aisyah maka itu menjadi hadiah bagi Aisyah sehingga tidak masalah untuk diberikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perkataan tersebut jelas menunjukkan bahwa bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Aisyah daging itu adalah Hadiah, artinya bukan sedekah dan artinya pula bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Aisyah tidak menerima sedekah tetapi hanya menerima Hadiah alias mereka diharamkan menerima sedekah. hal yang mudah dipahami tetapi bagi orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit menjadi sulit dan berbelit-belit.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada artikel yang lalu kami sudah nukilkan riwayat yang terang benderang sebagai dalil yang menunjukkan bahwa Aisyah termasuk orang yang diharamkan menerima sedekah dan dihalalkan menerima hadiah dan anehnya tidak disinggung sama sekali oleh si rafidhi nashibi tersebut ketika mengomentari tulisan kami, padahal ini adalah jawaban bagi dia yang katanya mencari hadits yang shahih yang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi diharamkan menerima sedekah. yah maklumlah dia kan bukan mencari kebenaran sebagaimana slogan palsu blognya, yang ada mencari pembenaran faham syi’ah rafidhah melalui riwayat-riwayat sunni <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَتْ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ قَضِيَّاتٍ كَانَ النَّاسُ يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا وَتُهْدِي لَنَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَكُمْ هَدِيَّةٌ فَكُلُوهُ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْقَاسِمِ قَالَ سَمِعْتُ الْقَاسِمَ يُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ رَبِيعَةَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَهُوَ لَنَا مِنْهَا هَدِيَّةٌ</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 13.164/1788. Telah menceritakan kepada kami <em>Zuhair bin Harb</em> dan <em>Abu Kuraib</em> keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami <em>Abu Mu&#8217;awiyah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Hisyam bin Urwah</em> dari <em>Abdurrahman bin Qasim</em> dari <em>bapaknya</em> dari <em>Aisyah</em> radliallahu &#8216;anha, ia berkata; Telah terjadi tiga peristiwa pada diri Barirah. Banyak orang bersedekah kepadanya dan ia memberikannya kepada kami. Lalu kusampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: <strong><em>Untuk Barirah hal itu adalah sedekah, <span style="text-decoration:underline;">sedangkan bagi kalian adalah hadiah</span>. Karena itu, makanlah</em></strong>. Dan telah menceritakan kepada kami <em>Abu Bakar bin Abu Syaibah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Husain bin Ali</em> dari <em>Za`idah</em> dari <em>Simak</em> dari <em>Abdurrahman bin Al Qasim</em> dari <em>bapaknya</em> dari <em>Aisyah</em> -Dalam riwayat lain- Dan telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Al Mutsanna</em> telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Ja&#8217;far</em> Telah menceritakan kepada kami <em>Syu&#8217;bah</em> ia berkata, Aku mendengar <em>Abdurrahman bin Al Qasim</em> ia berkata; Aku mendengar <em>Al Qasim</em> menceritakan dari <em>Aisyah</em> dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan hadits semisal itu. Dan telah menceritakan kepadaku <em>Abu Thahir</em> telah menceritakan kepada kami <em>Ibnu Wahb</em> telah mengabarkan kepadaku <em>Malik bin Anas</em> dari <em>Rabi&#8217;ah</em> dari <em>Al Qasim</em> dari <em>Aisyah</em> dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan hadits seperti itu. Hanya saja, ia menyebutkan; <strong><em>Dan makanan itu adalah hadiah darinya <span style="text-decoration:underline;">untuk kita</span></em></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan jelas sekali dalam riwayat di atas ketika beliau diberi daging sedekah oleh Barirah, Aisyah tidak langsung memakan-nya tetapi melaporkan-nya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan beliau bersabda dengan teramat jelas : <strong><em>Untuk Barirah hal itu adalah sedekah, <span style="text-decoration:underline;">sedangkan bagi kalian adalah hadiah</span>. Karena itu, makanlah</em></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian si rafidhi nashibi tersebut mempermasalahkan mengapa Aisyah menerima pemberian daging yang disedekahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam kepada Ummu Athiyah dalam riwayat berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مِنْ الصَّدَقَةِ فَبَعَثْتُ إِلَى عَائِشَةَ مِنْهَا بِشَيْءٍ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَائِشَةَ قَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ لَا إِلَّا أَنَّ نُسَيْبَةَ بَعَثَتْ إِلَيْنَا مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثْتُمْ بِهَا إِلَيْهَا قَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Muslim, 13.165/1789. Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Khalid dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyyah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirimkan seekor kambing dari hasil sedekah kepadaku, lalu aku mengirim sebahagian darinya kepada ‘Aisyah. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumah ‘Aisyah, beliau bertanya: Apakah kalian mempunyai sesuatu untuk dimakan? ‘Aisyah menjawab, Tidak ada, kecuali sedikit daging kambing yang telah engkau kirimkan kepadanya (Ummu ‘Athiyyah). Beliau berkata: Ia telah menjadi halal untuk dimakan.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kita Jawab,</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas diriwayatkan oleh Ummu Athiyah, artinya saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda kepada Aisyah dalam hadits di atas, Ummu Athiyah hadir di situ sehingga dia bisa meriwayatkannya. Artinya juga bahwa Aisyah baru saja menerima pemberian daging tersebut dari Ummu Athiyah dan belum memutuskan apa-apa, tak lama kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam datang sementara Ummu Athiyah masih ada di situ. Sehingga ketika ditanya apakah kalian (Aisyah &amp; Ummu Athiyah termasuk yang dimaksud) mempunyai sesuatu untuk dimakan, Aisyah menjawab tidak ada, dan baru kemudian beliau menyinggung ada sedikit kambing dari Ummu Athiyah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat berikut ini dengan jelas menunjukkan bahwa daging tersebut dikirim untuk Aisyah dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam datang Aisyah belum memutuskan apa-apa mengenai pemberian tersebut :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقَالَتْ لَا إِلَّا شَيْءٌ بَعَثَتْ بِهِ إِلَيْنَا نُسَيْبَةُ مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثَتْ بِهَا مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bukhari, 13.92/1399. Telah menceritakan kepada kami &#8216;Ali bin &#8216;Abdullah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai&#8217; telah menceritakan kepada kami Khalid dari Hafshah binti Sirin dari Ummu &#8216;Athiyah Al Anshariyyah radliallahu &#8216;anhuma berkata,: Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam menemui &#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha lalu berkata,: Apakah ada sesuatu yang kalian miliki (untuk dimakan)?. Dia &#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha berkata,: Tidak ada, kecuali apa yang dikirim <strong>buat kita</strong> oleh Nusaibah dari daging kambing yang diperuntukkan untuknya sebagai zakat. Maka Beliau berkata,: Shadaqah itu telah sampai kepada tempatnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari hadits di atas juga dapat diambil dalil bahwa shadaqah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang telah sampai dan kemudian oleh sipenerima shadaqah nabi tersebut dikembalikan lagi kepada Nabi dan keluarganya, hukumnya boleh sebagai hadiah sedangkan shadaqah yang belum sampai haram diterima. Hal ini berkaitan dengan hadits shahih :</p>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرَدْنَ أَنْ يَبْعَثْنَ عُثْمَانَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ يَسْأَلْنَهُ مِيرَاثَهُنَّ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ»</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha, bahwasanya isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berpulang keharibaan Ilahi, mereka ingin mengutus Utsman untuk menemui Abu Bakar meminta warisan mereka, maka Aisyah mengatakan: Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Kami tidak mewarisi, Apa-apa yang kami tinggalkan adalah sedekah?”</em> (Shahih Bukhari, no: 6730)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ternyata istri-istri Nabi sepeninggal beliau tidak boleh mengambil peninggalan Nabi yang berupa sedekah tersebut, artinya apa? Sedekah diharamkan diterima oleh istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Nah kurang jelas apa lagi…</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian si Rafidhi Nashibi tersebut mencoba mengkais-kais riwayat-riwayat yang sekiranya bisa menguatkan argumentasi dia seperti berikut ini, tetapi sayang, riwayat ini sama sekali tidak menguatkan hujjahnya.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:justify;" align="right">حدثنا أحمد بن زهير التستري ثنا عبيد الله بن سعد ثنا عمي ثنا أبي عن صالح بن كيسان عن ابن شهاب أن عبيد بن السباق أخبره أن جويرية بنت الحارث زوج النبي صلى الله عليه و سلم أخبرته أن مولاتها تصدق عليها بلحم فصنعته فلما رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال : هل عند كم من عشاء ؟ قلت : يا رسول الله قد تصد ق على فلانة بعضو من لحم وقد صنعته فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : قربوه فقد بلغت محلها فأكل منها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair Al Tusturiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Sa’d yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih bin Kiisaan dari Ibnu Syihaab bahwa Ubaid bin As Sabbaaq mengabarkan kepadanya bahwa Juwairiyah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa maulanya mendapatkan sedekah berupa daging maka ia memasak daging tersebut. Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang, Beliau berkata <span style="text-decoration:underline;">“apakah disisimu ada sesuatu [makanan]?”</span>. Ia menjawab <span style="text-decoration:underline;">“wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sungguh telah disedekahkan kepada fulanah sebagian daging maka aku telah memasaknya”</span>. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bawalah kemari sungguh sedekah itu telah sampai pada tempatnya” maka Beliau memakannya </em><strong><em>[Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 24/64 no 169]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat ini sanadnya shahih</strong>. Ahmad bin Zuhair adalah Ahmad bin Yahya bin Zuhair Al Tustury seorang Imam hujjah muhaddis alim hafizh [As Siyar Adz Dzahabiy 14/362 no 213]. Ubaidillah bin Sa’d bin Ibrahim adalah perawi Bukhari seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/632]. Pamannya adalah Yaq’ub bin Ibrahim bin Sa’d adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat dan memiliki keutamaan [At Taqrib 2/337]. Ayahnya adalah Ibrahim bin Sa’d bin Ibrahim Az Zuhriy adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat dan hujjah [At Taqrib 1/56]. Shalih bin Kiisaan adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat tsabit faqih [At Taqrib 1/431]. Az Zuhriy adalah perawi Bukhari dan Muslim yang faqih hafizh disepakati kemuliaannya, pemimpin thabaqat keempat [At Taqrib 2/133]. Ubaid bin As Sabbaaq adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat [At Taqrib 1/644]</p>
<p style="text-align:justify;">Sisi pendalilannya adalah daging itu disedekahkan kepada maula Juawiriyah kemudian maula Juwairiyah memberikannya kepada Juwairiyah. Juwairiyah sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menerima dan memasak daging tersebut. Awalnya ia beranggapan daging tersebut masih berstatus daging sedekah sehingga ia tidak mau menyajikan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Disini terdapat hujjah bahwa Juwairiyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] walaupun menurutnya daging itu adalah sedekah ia tetap menerimanya dan memasaknya. Untuk siapa ia memasaknya?. Jelas bukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan memakan sedekah maka tidak lain ia memasaknya untuk dirinya sendiri. Kesimpulannya istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kita Jawab,</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Justru dalam riwayat di atas Juwairiyah terlihat telah mengetahui hukumnya bahwa sedekah buat maula-nya jika diberikan kepadanya boleh diterima dan diberikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebagai hadiah buat mereka. Hal ini tampak ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya tentang makanan, Juwairiyah langsung menawarkan-nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tanpa bertanya lagi apakah itu boleh atau tidak, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membenarkan dan menegaskan bahwa sedekah itu telah sampai pada tempatnya. Si rafidhi nashibi ini sok tau kalau Juwairiyah memasak makanan tersebut bukan untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, darimana si rafidhi nashibi ini bisa tau? Dari wangsit? <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  Bukankah istri-istri Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam mengetahui saat giliran Nabi mendatangi  mereka?.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebagaimana ahlul bait yang lain-nya diharamkan menerima sedekah dan dihalalkan menerima hadiah. Bolehnya mawla istri-istri Nabi menerima sedekah tidak berarti istri-istri Nabi juga boleh menerima sedekah, tetapi jika mereka diberi sesuatu oleh mawla mereka, maka mereka boleh menerimanya sebagai hadiah.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=688&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/30/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-rafidhi-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Istri Nabi [Shallallahu ‘alaihi wasallam] Diharamkan Menerima Sedekah? : Studi Kritis hujjah Rafidhi Nashibi</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/27/apakah-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-diharamkan-menerima-sedekah-studi-kritis-hujjah-rafidhi-nashibi/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/27/apakah-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-diharamkan-menerima-sedekah-studi-kritis-hujjah-rafidhi-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 18:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[istri nabi diharamkan menerima sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=683</guid>
		<description><![CDATA[Tidak diragukan bahwa Ahlul Bait diharamkan menerima sedekah sebagaimana dijelaskan dalam hadis hadis shahih. Termasuk di dalam-nya istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam karena mereka termasuk ahlul bait beliau tidak diragukan lagi. Ada seorang syi’ah yang berhujjah bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diharamkan menerima sedekah berdasarkan beberapa riwayat, tetapi sayangnya hujjah orang syi’ah ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=683&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan bahwa Ahlul Bait diharamkan menerima sedekah sebagaimana dijelaskan dalam hadis hadis shahih. Termasuk di dalam-nya istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam karena mereka termasuk ahlul bait beliau tidak diragukan lagi. Ada seorang syi’ah yang berhujjah bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diharamkan menerima sedekah berdasarkan beberapa riwayat, tetapi sayangnya hujjah orang syi’ah ini terlalu lemah.<span id="more-683"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini kami hanya akan mengomentari dua hujjah dari orang syi’ah ini</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hujjah pertama:</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right">حدثنا ابن فضيل عن أبي حيان عن يزيد بن حيان قال انطلقت أنا وحصين بن عقبة إلى زيد بن أرقم فقال له يزيد وحصين من أهل بيته أليس نساؤه من أهل بيته قال لا ولكن أهل بيته من حرم الصدقة عليه فقال له حصين ومن هم قال هم آل عباس وآل علي وآل جعفر وآل عقيل فقال له حصين على هؤلاء تحرم الصدقة قال نعم</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Abi Hayyaan dari Yazid bin Hayyaan yang berkata aku dan Hushain bin ‘Uqbah datang kepada Zaid bin Arqam maka Yazid dan Hushain berkata kepadanya “siapakah ahlul baitnya [Rasulullah]? <span style="text-decoration:underline;">Bukankah istri istrinya termasuk ahlul baitnya?”. Zaid berkata “tidak, ahlul baitnya adalah orang yang diharamkan sedekah atas mereka”</span>. Hushain berkata kepadanya “siapakah mereka?”. Zaid berkata “mereka adalah keluarga ‘Abbas keluarga Ali, keluarga Ja’far dan keluarga Aqil”. Hushain berkata kepadanya “mereka semua diharamkan sedekah”. Zaid berkata “benar”</em><strong><em> [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 3/214 10806]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Zaid menyatakan dengan jelas bahwa istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Zaid bin Arqam dalam riwayat Muslim adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya. (</em>Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali)<em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits Muslim di atas, Zaid mengatakan bahwa istri-istri Nabi termasuk dalam ahlul bait yang dimaksud berbeda dengan riwayat Mushanaf Ibnu Abi Syaibah.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainyapun hal itu benar bahwa perkataan Zaid seperti itu, itu adalah pendapat pribadi Zaid, bisa benar dan bisa juga keliru.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hujjah kedua,</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right">عن بن أبى رافع عن أبيه ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث رجلا من بني مخزوم على الصدقة فقال الا تصحبني تصيب قال قلت حتى أذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه و سلم فذكرت ذلك فقال أنا آل محمد لا تحل لنا الصدقة وان مولى القوم من أنفسهم</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Abi Rafi’ dari ayahnya bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus seorang laki-laki dari bani Makhzum untuk mengambil sedekah. Maka ia berkata “temanilah aku dan engkau akan mendapat bagian”. Aku berkata “tunggu sampai aku menanyakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” dan aku menanyakannya maka Beliau berkata <span style="text-decoration:underline;">“kami keluarga Muhammad tidak dihalalkan bagi kami sedekah dan mawla suatu kaum termasuk kaum itu sendiri</span> </em><strong><em>[Musnad Ahmad 6/390 no 27226 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian diriwayatkan pula dari Ummu Kultsum binti Ali bahwa mawla Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bernama Maimun atau Mihran mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah bersabda</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">فقال له يا ميمون أو يا مهران انا أهل بيت نهينا عن الصدقة وان موالينا من أنفسنا ولا نأكل الصدقة</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya <span style="text-decoration:underline;">“wahai Maimun atau wahai Mihraan kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan mawla kami termasuk bagian dari kami dan tidak boleh memakan sedekah”</span> </em><strong><em>[Musnad Ahmad 4/34 no 16446 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua hadis ini disimpulkan bahwa <span style="text-decoration:underline;">mawla Ahlul Bait juga diharamkan menerima sedekah</span>. Maka jika istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah maka mawla merekapun seharusnya diharamkan menerima sedekah. Faktanya tidak begitu, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan Barirah maula Aisyah radiallahu ‘anha untuk menerima sedekah</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">عن قتادة سمع أنس بن مالك قال أهدت بريرة إلى النبي صلى الله عليه و سلم لحما تصدق به عليها فقال هو لها صدقة ولنا هدية</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Qatadah yang mendengar Anas bin Malik berkata Barirah mengahadiahkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] daging yang disedekahkan kepadanya maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata <span style="text-decoration:underline;">“untuknya ini adalah sedekah dan bagi kami ini adalah hadiah”</span> </em><strong><em>[Shahih Muslim 2/756 no 1074]</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sisi pendalilannya adalah disebutkan dalam dua hadis sebelumnya bahwa keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan menerima sedekah termasuk juga maula ahlul bait atau maula keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Barirah maula Aisyah radiallahu ‘anha dibolehkan menerima sedekah maka hal itu menunjukkan bahwa Aisyah radiallahu ‘anha tidak termasuk dalam ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat riwayat mengenai Barirah ini secara lengkap, dan salah satunya adalah riwayat Bukhari berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ رَبِيعَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولُ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ أَرَادَتْ عَائِشَةُ أَنْ تَشْتَرِيَهَا فَتُعْتِقَهَا فَقَالَ أَهْلُهَا وَلَنَا الْوَلَاءُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ شِئْتِ شَرَطْتِيهِ لَهُمْ فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَ وَأُعْتِقَتْ فَخُيِّرَتْ فِي أَنْ تَقِرَّ تَحْتَ زَوْجِهَا أَوْ تُفَارِقَهُ وَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْتَ عَائِشَةَ وَعَلَى النَّارِ بُرْمَةٌ تَفُورُ فَدَعَا بِالْغَدَاءِ فَأُتِيَ بِخُبْزٍ وَأُدْمٍ مِنْ أُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ لَحْمًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنَّهُ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَأَهْدَتْهُ لَنَا فَقَالَ هُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا وَهَدِيَّةٌ لَنَا</p>
<p style="text-align:justify;">Bukhari, 50.57/5010. Telah menceritakan kepada kami <em>Qutaibah bin Sa&#8217;id</em> berkata; telah menceritakan kepada kami <em>Ismail bin Ja&#8217;far</em> dari <em>Rabi&#8217;ah</em> bahwasanya ia mendengar <em>Al Qasim bin Muhammad</em> berkata; <em>Pada diri Barirah ada tiga sifat yang Aisyah ingin membeli lalu memerdekakannya. Keluarganya lalu berkata; &#8216;Tetapi perwaliannya tetap untuk kami.&#8217; Maka Aisyah pun melaporkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau lalu bersabda: &#8216;Jika mau, kamu bisa membuat persyaratan bagi mereka. Sesungguhnya perwalian itu adalah bagi orang yang memerdekakannya.&#8217; Al Qasim berkata; &#8216;Kemudian Barirah dimerdekakan dan diberi pilihan untuk kembali kepada suaminya atau berpisah. Suatu ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam masuk ke dalam rumah Aisyah, sementara di atas tungku ada periuk yang sedang mendidih. Beliau kemudian minta untuk disiapkan makanan pagi. Maka beliau pun diberi hidangan roti dan makanan pendampingnya (semacam kuah), lalu beliau pun bersabda: &#8216;Sepertinya aku melihat daging? &#8216; Mereka (yang ada di rumah) menjawab; &#8216;Benar, wahai Rasulullah. Tetapi itu adalah daging yang disedekahkah kepada Barirah, lalu olehnya diberikan kepada kita! &#8216; Beliau lantas bersabda: &#8216;<strong>Daging itu bagi Barirah adalah sedekah, sedangkan untuk kita adalah hadiah</strong>.&#8217;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Orang syi’ah ini ternyata begitu mudah menarik kesimpulan yang masih mentah, berdasarkan hadits yang dia kutip, maula yang yang diharamkan menerima sedekah sebenarnya adalah khusus maula Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, karena mereka seperti keluarga beliau sendiri, Maimun dan Mihran adalah Maula Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam maka mereka pun haram menerima sedekah, sedangkan maula selain dari Maula Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam (termasuk Maula Aisyah) tidak terkena hukum ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) beliau, diharamkan menerima sedekah yang merupakan salah satu kekhususan beliau, sedangkan Aisyah sebagai istri/ahlul bait beliau di dunia dan di akhirat tidak diharamkan menerima sedekah? Suatu logika yang sangat anomaly <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya dalam riwayat di atas justru menunjukkan bahwa Aisyah adalah termasuk yang diharamkan menerima sedekah, mari kita nukil beberapa bagian dari riwayat di atas:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Suatu ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam masuk ke dalam rumah Aisyah, sementara di atas tungku ada periuk yang sedang mendidih. Beliau kemudian minta untuk disiapkan makanan pagi. Maka beliau pun diberi hidangan roti dan makanan pendampingnya (semacam kuah), lalu beliau pun bersabda: &#8216;Sepertinya aku melihat daging? &#8216; Mereka (yang ada di rumah) menjawab; &#8216;Benar, wahai Rasulullah. Tetapi itu adalah daging yang disedekahkah kepada Barirah, lalu olehnya diberikan kepada kita! &#8216; Beliau lantas bersabda</em><em>: <strong>&#8216;<span style="color:#000080;">Daging itu bagi Barirah adalah sedekah, <span style="text-decoration:underline;">sedangkan untuk kita adalah hadiah</span>.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Kita”</strong> yang dimaksud dalam sabda beliau di atas adalah beliau sendiri dan juga Aisyah, dimana di sini menunjukkan Aisyah juga diharamkan menerima sedekah dan dihalalkan menerima hadiah. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan riwayat berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَتْ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ قَضِيَّاتٍ كَانَ النَّاسُ يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا وَتُهْدِي لَنَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَكُمْ هَدِيَّةٌ فَكُلُوهُ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْقَاسِمِ قَالَ سَمِعْتُ الْقَاسِمَ يُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ رَبِيعَةَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَهُوَ لَنَا مِنْهَا هَدِيَّةٌ</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 13.164/1788. Telah menceritakan kepada kami <em>Zuhair bin Harb</em> dan <em>Abu Kuraib</em> keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami <em>Abu Mu&#8217;awiyah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Hisyam bin Urwah</em> dari <em>Abdurrahman bin Qasim</em> dari <em>bapaknya</em> <span style="color:#000080;"><strong>dari <em>Aisyah</em> radliallahu &#8216;anha</strong></span>, ia berkata; Telah terjadi tiga peristiwa pada diri Barirah. Banyak orang bersedekah kepadanya dan ia memberikannya kepada kami. Lalu kusampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: <strong><em>Untuk Barirah hal itu adalah sedekah, <span style="text-decoration:underline;color:#000080;">sedangkan bagi kalian adalah hadiah</span>. Karena itu, makanlah</em></strong>. Dan telah menceritakan kepada kami <em>Abu Bakar bin Abu Syaibah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Husain bin Ali</em> dari <em>Za`idah</em> dari <em>Simak</em> dari <em>Abdurrahman bin Al Qasim</em> dari <em>bapaknya</em> dari <em>Aisyah</em> -Dalam riwayat lain- Dan telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Al Mutsanna</em> telah menceritakan kepada kami <em>Muhammad bin Ja&#8217;far</em> Telah menceritakan kepada kami <em>Syu&#8217;bah</em> ia berkata, Aku mendengar <em>Abdurrahman bin Al Qasim</em> ia berkata; Aku mendengar <em>Al Qasim</em> menceritakan dari <em>Aisyah</em> dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan hadits semisal itu. Dan telah menceritakan kepadaku <em>Abu Thahir</em> telah menceritakan kepada kami <em>Ibnu Wahb</em> telah mengabarkan kepadaku <em>Malik bin Anas</em> dari <em>Rabi&#8217;ah</em> dari <em>Al Qasim</em> dari <span style="color:#000080;"><strong><em>Aisyah</em></strong></span> dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan hadits seperti itu. Hanya saja, ia menyebutkan; <span style="color:#000080;"><strong><em>Dan makanan itu adalah hadiah darinya <span style="text-decoration:underline;">untuk kita</span></em></strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jelas di atas yang dimaksud &#8220;kalian&#8221; dan &#8220;kita&#8221; termasuk di dalam-nya Aisyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat lain yang menunjukkan Aisyah dan juga istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang lain adalah termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مِنْ الصَّدَقَةِ فَبَعَثْتُ إِلَى عَائِشَةَ مِنْهَا بِشَيْءٍ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَائِشَةَ قَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ لَا إِلَّا أَنَّ نُسَيْبَةَ بَعَثَتْ إِلَيْنَا مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثْتُمْ بِهَا إِلَيْهَا قَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Muslim, 13.165/1789. Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma&#8217;il bin Ibrahim dari Khalid dari Hafshah dari Ummu &#8216;Athiyyah ia berkata; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah mengirimkan seekor kambing dari hasil sedekah kepadaku, lalu aku mengirim sebahagian darinya kepada &#8216;Aisyah. Dan ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam datang ke rumah &#8216;Aisyah, beliau bertanya: Apakah kalian mempunyai sesuatu untuk dimakan? &#8216;Aisyah menjawab, Tidak ada, kecuali sedikit daging kambing yang telah engkau kirimkan kepadanya (Ummu &#8216;Athiyyah). Beliau berkata: Ia telah menjadi halal untuk dimakan</em><em>.</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقَالَتْ لَا إِلَّا شَيْءٌ بَعَثَتْ بِهِ إِلَيْنَا نُسَيْبَةُ مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثَتْ بِهَا مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bukhari, 13.92/1399. Telah menceritakan kepada kami &#8216;Ali bin &#8216;Abdullah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai&#8217; telah menceritakan kepada kami Khalid dari Hafshah binti Sirin dari Ummu &#8216;Athiyah Al Anshariyyah radliallahu &#8216;anhuma berkata,: Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam menemui &#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha lalu berkata,: Apakah ada sesuatu yang kalian miliki (untuk dimakan)?. Dia &#8216;Aisyah radliallahu &#8216;anha berkata,: Tidak ada, kecuali apa yang dikirim <span style="text-decoration:underline;color:#000080;"><strong>buat kita</strong></span> oleh Nusaibah dari daging kambing yang diperuntukkan untuknya sebagai zakat. Maka Beliau berkata,: Shadaqah itu telah sampai kepada tempatnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban Aisyah dalam riwayat di atas ketika ditanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam apakah Aisyah mempunyai makanan menunjukkan bahwa Aisyah pada awalnya menganggap daging kiriman dari Ummu Athiyah tidak boleh dimakan sehingga beliau mengatakan “tidak ada”, tetapi kemudian Nabi membolehkannya karena itu bukan lagi barang sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa Aisyah dan juga istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang lain diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/683/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=683&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/27/apakah-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-diharamkan-menerima-sedekah-studi-kritis-hujjah-rafidhi-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Armada Laut Pertama Kaum Muslimin Telah Ditetapkan Bagi Mereka Pahala (Surga)</title>
		<link>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/26/armada-laut-pertama-kaum-muslimin-telah-ditetapkan-bagi-mereka-pahala-surga/</link>
		<comments>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/26/armada-laut-pertama-kaum-muslimin-telah-ditetapkan-bagi-mereka-pahala-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 09:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
				<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Armada Laut Islam Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[mu'awiyah bin abi syufan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfanarku.wordpress.com/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini dibuat untuk membantah para rafidhi nashibi yang sok berpegang kepada kitab-kitab ahlus sunnah, yang mereka begitu membenci Mu’awiyah bin Abi Sufyan dikarenakan Mu’awiyah pernah berperang melawan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum di masa fitnah yang melanda kaum muslimin saat itu. Tidak hanya laknat yang mereka lontarkan kepada beliau tetapi mereka bahkan telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=679&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tulisan ini dibuat untuk membantah para rafidhi nashibi yang sok berpegang kepada kitab-kitab ahlus sunnah, yang mereka begitu membenci Mu’awiyah bin Abi Sufyan dikarenakan Mu’awiyah pernah berperang melawan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum di masa fitnah yang melanda kaum muslimin saat itu. Tidak hanya laknat yang mereka lontarkan kepada beliau tetapi mereka bahkan telah menuduh Mu’awiyah seorang munafik dan mati tidak dalam keadaan Islam berdasarkan hadits dhaif lagi munkar yang mereka kais-kais dari kitab sejarah.<span id="more-679"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi rafidhah, membenci Mu’awiyah adalah suatu kewajiban dan jika ada orang yang membela Mu’awiyah dari kepicikan mereka, maka mereka akan menuduh orang tersebut membenci ahlul bait. Hal ini disebabkan cinta ahlul bait versi syi’ah rafidhah adalah dengan cara mengkultuskan ahlul bait di satu sisi dan membenci orang-orang yang pernah berselisih dengan ahlul bait di sisi lain, tidak boleh ada orang-orang selain ahlul bait yang mempunyai keutamaan melebihi ahlul bait, untuk itu mereka merendahkan kedudukan orang-orang yang paling utama di sekitar Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum dan membenci semua orang yang menurut mereka adalah musuh ahlul bait. Rafidhah sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa mereka saat itu adalah satu umat, yang mempunyai satu aqidah, yang berjuang bersama-sama menegakkan dan menyebarkan Islam di muka bumi. Keyakinan menyimpang seperti ini sudah mendarah daging dalam diri orang-orang yang terkena virus syi’ah rafidhah dan Ahlul Bait berlepas diri dari keyakinan rafidhah ini. Maka benar dan terbukti apa yang dikatakan Abdullah Ibnu Al Mubarak</p>
<p style="text-align:justify;">Ali bin Jamil berkata, aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>معاوية عندنا محنة فمن رأيناه ينظر إلى معاوية شزرا اتهمناه على القوم أعني على أصحاب محمد (صلى الله عليه وسلم)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Bagi kami Mu’awiyah telah menjadi   ujian. Maka, Siapa saja yang kami lihat mengomentari Mu’awiyah dengan komentar  yang <em>miring</em>, maka kami  juga mencurigai sikapnya terhadap seluruh sahabat, yakni sahabat Muhammad <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</em>. ” <strong>(<em>Tarikh Dimasyqi</em>, 59/209. <em>Al Bidayah wan Nihayah</em>, 8/148)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agak susah memang berdiskusi dengan rafidhah mengenai peristiwa perselisihan yang terjadi diantara kaum muslimin di awal-awal Islam untuk bersepakat dalam positive thinking mengenai generasi awal Islam, kalau sudah bicara sejarah Islam mereka sangat mirip dan satu barisan dengan para orientalis yang notabene adalah non muslim yang sama sekali tidak ada respek terhadap sejarah Islam dan tokoh-tokohnya. Mereka juga tidak bisa adil dalam memahami perselisihan-perselisihan tersebut jika sudah melibatkan ahlul bait. Sebagaimana contoh perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Kita ahlus sunnah mengakui bahwa Ali lebih utama dan lebih benar dalam ijtihad-nya dibandingkan Mu’awiyah, tetapi kita tidak bisa terima jika kemudian para rafidhah ini merendahkan seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam hingga sedemikian rupa keji-nya bahkan menuduhnya kafir dan mati dalam keadaan tidak dalam Islam hanya berdasarkan riwayat dhaif yang mereka kais-kais dari kitab sejarah dengan mengabaikan riwayat shahih yang  berlawanan. Dan tidak pula di sini kita membela Mu’awiyah karena kita membenci Ahlul Bait, tetapi kita membela Mu’awiyah karena dia adalah salah satu sahabat dan saudara ipar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam, yang juga telah berjasa dan beramal dalam menegakkan Islam, dimana Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib telah menyerahkan dan mempercayakan kekhalifahan kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah hadits yang saya kira kita semua sudah mengetahui, suatu hadits yang tidak mempunyai kesan tendensius sama sekali jika kita mau memperhatikannya, karena sebenarnya hadits ini bercerita tentang seorang Ummu Haram yang meraih sebuah keutamaan besar berkat do’a dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasalam, tetapi ternyata dalam hadits ini justru terungkap bahwa sebenarnya Ummu Haram hanyalah seorang diantara beberapa orang yang mendapatkan keutamaan tersebut, beliau adalah bagian dari sebuah armada laut pertama kaum muslimin yang dipuji dan dibanggakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Sekelompok orang yang telah ditetapkan pahala (surga) bagi mereka atas apa yang mereka telah perbuat.</p>
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ خَالَتِهِ أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ قَالَتْ نَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا قَرِيبًا مِنِّي ثُمَّ اسْتَيْقَظَ يَتَبَسَّمُ فَقُلْتُ مَا أَضْحَكَكَ قَالَ أُنَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ يَرْكَبُونَ هَذَا الْبَحْرَ الْأَخْضَرَ كَالْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ قَالَتْ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَدَعَا لَهَا ثُمَّ نَامَ الثَّانِيَةَ فَفَعَلَ مِثْلَهَا فَقَالَتْ مِثْلَ قَوْلِهَا فَأَجَابَهَا مِثْلَهَا فَقَالَتْ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتِ مِنْ الْأَوَّلِينَ فَخَرَجَتْ مَعَ زَوْجِهَا عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ غَازِيًا أَوَّلَ مَا رَكِبَ الْمُسْلِمُونَ الْبَحْرَ<span style="color:#000000;"> <strong>مَعَ</strong><strong> </strong><strong>مُعَاوِيَةَ</strong> فَلَمَّا انْصَرَفُوا مِنْ غَزْوِهِمْ قَافِلِينَ فَنَزَلُوا الشَّأْمَ فَقُرِّبَتْ إِلَيْهَا دَابَّةٌ لِتَرْكَبَهَا فَصَرَعَتْهَا فَمَاتَتْ  </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bukhari, 38.17. 17/2590. Telah bercerita kepada kami &#8216;Abdullah bin Yusuf berkata telah bercerita kepadaku Al Laits telah bercerita kepada kami Yahya dari Muhammad bin Yahya bin Hayyan dari Anas bin Malik radliallahu &#8216;anhu dari bibinya, Ummu Haram binti Milhan berkata: Pada suatu hari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam tertidur di dekatku kemudian terbangun sambil tersenyum. Lalu aku bertanya: Apa yang membuat Anda tertawa? Beliau bersabda: <span style="color:#0000ff;"><strong>Ada</strong><strong> sekelompok dari ummatku yang diperlihatkan kepadaku sebagai pasukan perang di jalan Allah dimana mereka mengarungi lautan yang hijau bagaikan raja-raja di atas singgasana</strong></span>. Ummu Haram berkata: Do&#8217;akanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka. Maka Beliau mendo&#8217;akannya. Kemudian Beliau tertidur kembali untuk kedua kalinya dan kembali berbuat seperti sebelumnya. Dan Ummu Haram juga bertanya sebagaimana yang sudah ditanyakannnya dan Beliau pun menjawab sama dengan sebelumnya. Maka Ummu Haram berkata: Do&#8217;akanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka.. Beliau bersabda: Kamu akan menjadi diantara orang-orang yang pertama kali. Maka pada suatu masa, Ummu Haram berangkat berperang bersama suaminya &#8216;Ubadah bin ash-Shomit sebagai salah seorang dari Kaum Muslimin yang pertama kali berperang dengan mengarungi lautan <span style="color:#0000ff;"><strong>bersama Mu&#8217;awiyah</strong></span>. Setelah selesai dari perang, mereka kembali dan singgah di negeri Syam. Kemudian Ummu Haram diberi hewan untuk ditunggangi namun dia tersungkur jatuh hinga meninggal dunia.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ يَزِيدَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ أَنَّ عُمَيْرَ بْنَ الْأَسْوَدِ الْعَنْسِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ أَتَى عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ وَهُوَ نَازِلٌ فِي سَاحَةِ حِمْصَ وَهُوَ فِي بِنَاءٍ لَهُ وَمَعَهُ أُمُّ حَرَامٍ قَالَ عُمَيْرٌ فَحَدَّثَتْنَا أُمُّ حَرَامٍ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا قَالَتْ أُمُّ حَرَامٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا فِيهِمْ قَالَ أَنْتِ فِيهِمْ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ فَقُلْتُ أَنَا فِيهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bukhari, 38.134. 134/2707. Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Yazid Ad-Dimasyqiy telah bercerita kepada kami Yahya bin Hamzah berkata telah bercerita kepadaku Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma&#8217;dan bahwa &#8216;Umair bin Al Aswad Al &#8216;Ansiy bercerita kepadanya bahwa dia menjumpai &#8216;Ubadah bin ash-Shomit ketika dia sedang singgah dalam perjalanan menuju Himsh. Saat itu dia sedang berada di rumahnya dan bersama dengan Ummu Haram. &#8216;Umair berkata; Maka Ummu Haram bercerita kepada kami bahwa dia mendengar Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8220;Pasukan dari umatku yang pertama kali berperang dengan mengarungi lautan, telah diwajibkan padanya (pahala surga)&#8221;</strong></span>. Ummu Haram berkata; Aku katakan: Wahai Rasulullah, aku termasuk diantara mereka? Beliau berkata; Ya, kamu termasuk dari mereka. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda lagi: Pasukan dari ummatku yang pertama kali akan memerangi kota Qaishar (Romawi) pasti mereka akan diampuni. Aku katakan: Aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: &#8216;Tidak.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pelopor dan pemimpin pasukan laut pertama Islam tersebut adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, maka amal yang telah dilakukannya tersebut telah diakui sebagai fii sabilillah dan mendapatkan kepastian pahala berdasarkan berita dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dalam hadits di atas. Maka apa yang disabdakan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tersebut pasti terjadi dan tidak ada yang membatalkannya, apatah lagi berita dari hadits yang dhaif.</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfanarku.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfanarku.wordpress.com/679/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfanarku.wordpress.com&amp;blog=9010475&amp;post=679&amp;subd=alfanarku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfanarku.wordpress.com/2011/11/26/armada-laut-pertama-kaum-muslimin-telah-ditetapkan-bagi-mereka-pahala-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24bc7791a836bcc0c46edb0961927766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnu sabil</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
