Seorang syi’i rafidhi nashibi mempermasalahkan hadits riwayat Abu Hurairah yang menceritakan tentang do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam untuknya agar dia tidak lupa dalam menghapal hadits-hadits beliau. Sangat jelas dapat ditangkap apa maksud dari si rafidhi nashibi ini mempermasalahkan hal tersebut, tidak lain adalah dalam rangka mendiskreditkan Abu Hurairah sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْفُدَيْكِ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا فَأَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُ فَغَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ حَدِيثًا بَعْدُ
Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik dari Ibnu Abi Dziib dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu yang berkata aku berkata “wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa, Rasulullah berkata “hamparkan selendangmu” maka aku menghamparkan kemudian Beliau menciduk sesuatu dengan tangannya dan berkata “ambillah” aku mengambilnya. Maka setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis [Shahih Bukhari 4/208 no 3648]
حدثنا قتيبة بن سعيد وأبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب جميعا عن سفيان قال زهير حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن الأعرج قال سمعت أبا هريرة يقول إنكم تزعمون أن أبا هريرة يكثر الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم والله الموعد كنت رجلا مسكينا أخدم رسول الله صلى الله عليه و سلم على ملء بطني وكان المهاجرون يشغلهم الصفق بالأسواق وكانت الأنصار يشغلهم القيام على أموالهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه ثم ضممته إلي فما نسيت شيئا سمعته منه
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya dari Sufyan [Zuhair berkata] telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Zuhriy dari Al A’raj yang berkata aku mendengar Abu Hurairah berkata sesungguhnya kalian mengira bahwa Abu Hurairah sangat banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Allah Maha memenuhi Janji. Aku dahulu adalah orang miskin yang menyertai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] demi makanan untuk mengisi perutku. Sedangkan orang-orang Muhajirin disibukkan oleh perniagaan mereka di pasar pasar dan orang orang Anshar disibukkan dengan harta harta mereka. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang membentangkan pakaiannya maka ia tidak akan lupa sedikitpun apa yang ia dengar dariku”. Maka aku pun membantangkan pakaianku hingga Beliau selesai bersabda kemudian aku tangkupkan pada diriku, sejak itu aku tidak pernah lupa sedikitpun apa yang aku dengar dari Beliau [Shahih Muslim 4/1939 no 2492]
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَقَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ يَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَدْ أَكْثَرَ وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ وَيَقُولُونَ مَا بَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يَتَحَدَّثُونَ مِثْلَ أَحَادِيثِهِ وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ إِنَّ إِخْوَانِي مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ عَمَلُ أَرَضِيهِمْ وَإِنَّ إِخْوَانِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا وَلَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَيُّكُمْ يَبْسُطُ ثَوْبَهُ فَيَأْخُذُ مِنْ حَدِيثِي هَذَا ثُمَّ يَجْمَعُهُ إِلَى صَدْرِهِ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْسَ شَيْئًا سَمِعَهُ فَبَسَطْتُ بُرْدَةً عَلَيَّ حَتَّى فَرَغَ مِنْ حَدِيثِهِ ثُمَّ جَمَعْتُهَا إِلَى صَدْرِي فَمَا نَسِيتُ بَعْدَ ذَلِكَ الْيَوْمِ شَيْئًا حَدَّثَنِي بِهِ وَلَوْلَا آيَتَانِ أَنْزَلَهُمَا اللَّهُ فِي كِتَابِهِ مَا حَدَّثْتُ شَيْئًا أَبَدًا { إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى } إِلَى آخِرِ الْآيَتَيْنِ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ عَنْ شُعَيْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّكُمْ تَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ
Muslim, 45.161/4549. Berkata Ibnu Syihab; dan berkata Ibnu Al Musayyab bahwa Abu Hurairah pernah berkata; ‘Orang-orang mengatakan bahwasanya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya kesempatan bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.’ Orang-orang berkata; ‘Mengapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meniwayatkan hadits sebanyak riwayat Abu Hurairah? Saya (Abu Hurairah) akan memberitahu kalian tentang hal ini: Saudara-saudara saya dan kaum Anshar sibuk bertani dan saudara-saudara saya dan kaum Muhajirin sibuk berjual beli di pasar. Sementara saya senantiasa menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga saya lebih banyak mendengar sabda beliau. Saya hadir ketika mereka, para sahabat dari kaum Anshar dan Muhajirin, tidak hadir dan saya hapal ketika mereka lupa. Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapakah di antara kalian yang sudi membentangkan bajunya untuk menampung sabdaku ini? Setelah itu, ia tempelkan bajunya itu ke dadanya, karena dengan begitu ia tidak akan pernah melupakan satu hadits pun yang pernah ia dengar dariku. Mendengar pernyataan Rasulullah itu, maka saya bentangkan kain selendang saya hingga Rasulullah selesai bersabda, Kemudian saya tempelkan selendang tersebut ke dada saya. Semenjak itu, saya tidak pernah melupakan satu hadits pun yang beliau sabdakan kepada saya. Seandainya tidak ada dua ayat Al Qur an yang diturunkan Allah, tentu saya tidak akan pernah menyampaikan satu hadits pun yang pernah saya dengar. Kedua ayat tersebut adalah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Qur’an, maka, mereka itu akan dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang bisa melaknat, kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itulah aku menerima taubatnya dan Aku Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang’ (QS. Albaqarah 159). Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Ad Darimi; Telah mengabarkan kepada kami Abu Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri; Telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Hurairah berkata; Sesungguhnya kalian mengatakan, mengapa Abu Hurairah banyak mengafal Hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..dan seterusnya dengan Hadits yang serupa.
Hadits-hadits di atas adalah shahih, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam telah mendo’akan Abu Hurairah agar dia tidak lupa hadits-hadits dari beliau. Ini adalah keutamaan Abu Hurairah yang tidak diberikan kepada sahabat yang lain yaitu agar tidak lupa akan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang dia dengar. Tetapi perlu dicatat bukan berarti Abu Hurairah adalah seorang yang ma’shum, dia mendapatkan keutamaan dalam hal tidak lupa terhadap hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam saja tetapi tidak dalam masalah-masalah yang lain. Selain terhadap hadits-hadits yang dia riwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dia bisa saja lupa karena memang tidak ada jaminan atasnya.
Kemudian si rafidhi nashibi ini menukil sebuah riwayat di bawah ini, yang dengan riwayat ini dia ingin mementahkan hadits-hadits Abu Hurairah di atas, yang dia ingin katakan adalah bahwa hadits-hadits di atas adalah keliru atau Abu Hurairah sebenarnya telah berdusta, karena Abu Hurairah ternyata pernah lupa mengenai hadits.
حدثني أبي قال حدثنا عبد الأعلى عن معمر عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا عدوى ولا صفر ولا هامة فقال أعرابي يا رسول الله ما بال الإبل تكون في الرمال كأنها الظباء فيخالطها البعير الأجرب فتجرب كلها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فمن أعدى الأول قال أبو سلمة ثم سميت أبا هريرة بعد ذلك بزمان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يوردن ممرض على مصح فقال رجل أما حدثتنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال لا عدوى فقال لا قال أبو سلمة فما سمعته نسي حديثا قط قبله وأشهد بالله لقد سمعته منه
Telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Tidak ada ‘adwa [penyakit menular], tidak ada shafar dan tidak ada hamah”. Seorang arab badui berkata “wahai Rasulullah bagaimana dengan sekelompok unta yang sehat di padang pasir kemudian didatangi oleh unta yang terkena kudis maka unta-unta itu terkena kudis semuanya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “lalu siapa yang menulari unta pertama?”. Abu Salamah berkata “kemudian aku mendengar Abu Hurairah setelah itu mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” seorang laki-laki berkata “bukankah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau bersabda “tidak ada ‘adwa [penyakit menular]”. Abu Hurairah berkata “tidak” Abu Salamah berkata “aku tidak pernah mendengar ia [Abu Hurairah] lupa soal hadis sebelumnya dan aku bersaksi demi Allah sungguh aku telah mendengar hadis itu darinya” [Al Ilal Ma’rifat Ar Rijal Ahmad bin Hanbal juz 3 no 4865 & 4866]
Mungkin jika kita tidak berusaha meneliti riwayat yang berkaitan dengan apa yang dinukil oleh si rafidhi nashibi di atas, kita akan mudah termakan oleh syubhat si rafidhi nashibi tersebut, mari kita perhatikan hadits riwayat Muslim berikut ini yang menjelaskan riwayat Ahmad di atas dengan lebih lengkap.
و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُهُمَا كِلْتَيْهِمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ صَمَتَ أَبُو هُرَيْرَةَ بَعْدَ ذَلِكَ عَنْ قَوْلِهِ لَا عَدْوَى وَأَقَامَ عَلَى أَنْ لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ قَالَ فَقَالَ الْحَارِثُ بْنُ أَبِي ذُبَابٍ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ أَبِي هُرَيْرَةَ قَدْ كُنْتُ أَسْمَعُكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تُحَدِّثُنَا مَعَ هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثًا آخَرَ قَدْ سَكَتَّ عَنْهُ كُنْتَ تَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى فَأَبَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنْ يَعْرِفَ ذَلِكَ وَقَالَ لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ فَمَا رَآهُ الْحَارِثُ فِي ذَلِكَ حَتَّى غَضِبَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَرَطَنَ بِالْحَبَشِيَّةِ فَقَالَ لِلْحَارِثِ أَتَدْرِي مَاذَا قُلْتُ قَالَ لَا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قُلْتُ أَبَيْتُ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ وَلَعَمْرِي لَقَدْ كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى فَلَا أَدْرِي أَنَسِيَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَوْ نَسَخَ أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ الْآخَرَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَحَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنُونَ ابْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَيُحَدِّثُ مَعَ ذَلِكَ لَا يُورِدُ الْمُمْرِضُ عَلَى الْمُصِحِّ بِمِثْلِ حَدِيثِ يُونُسَ حَدَّثَنَاه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ
Muslim, 40.99/4117. Dan telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir dan Harmalah dan lafazh keduanya tidak jauh berbeda. Keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab bahwa Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bin ‘Auf Telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak ada penyakit menular .’ Dan dia juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda juga: ‘Yang sakit jangan mendekat kepada yang sehat! ‘ Abu Salamah berkata; ‘ Abu Hurairah menceritakan kedua Hadits tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian setelah itu Abu Hurairah diam dari sabda Rasulullah tentang; ‘Tidak ada penyakit menular.’ Dia memegang Hadits; ‘Yang sakit tidak boleh mendekat kepada yang sehat.‘ Perawi berkata; Al Harits bin Abu Dzubab yaitu sepupu Abu Hurairah berkata; ‘Aku mendengar darimu wahai Abu Hurairah anda menyampaikan Hadits ini dengan Hadits yang lain, namun kemudian anda diam tentang Hadits tersebut. Anda telah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak ada penyakit menular.’ Namun Abu Hurairah menolak hal itu, dan dia berkata; ‘Yang sakit tidak boleh mendekati yang sehat.’ Tapi Al Harits tetap tidak menerima hal itu hingga Abu Hurairah marah dan berkata dengan logat Habasy, dia berkata kepada Al Harits; ‘Apakah kamu tidak tahu apa yang telah ku katakan? ‘ Al Harits menjawab; ‘Tidak.’ Abu Hurairah berkata; ‘Aku tidak mau (enggan) menjawab.‘ Abu Salamah berkata; ‘Sungguh Abu Hurairah telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak ada penyakit menular .’ Namun aku tidak tahu apakah Abu Hurairah lupa atau dia telah menasakh (menghapus) salah satu perkataannya. Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim dan Hasan Al Hulwani serta Abad bin Humaid. Abad berkata; Telah menceritakan kepadaku. Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ya’qub yakni Ibnu Ibrahim Sa’d; Telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab; Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman dia mendengar Abu Hurairah berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak ada penyakit menular.’ Juga bersabda; ‘Yang sehat janganlah mendekati yang sakit.’ Sebagaimana Hadits Yunus. Dan telah menceritakannya kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Ad Darimi; Telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman; Telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa.
Dari riwayat di atas dijelaskan bahwa Abu Hurairah telah meriwayatkan dua hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang seolah-olah matan-nya saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, awalnya Abu Hurairah meriwayatkan hadits : “Tidak ada ‘adwa (penyakit menular)” setelah beberapa waktu kemudian Abu Hurairah meriwayatkan hadits yang lain : “Yang sakit jangan mendekat (dicampurkan) kepada yang sehat”. Matan hadits-hadits tersebut seolah-olah bertentangan antara yang pertama dengan yang kedua, hal ini yang menyebabkan perawi yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah menjadi bingung dan tidak mengerti, salah satunya yang sangat antusias menanyakan mengenai riwayat tersebut adalah sepupu-nya sendiri Al-Harits bin Abu Dzubab dan percakapan mereka didengar dan dicatat oleh Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf.
Ternyata Abu Hurairah memegang hadits terakhir (“Yang sakit jangan mendekat (dicampurkan) kepada yang sehat”) dan mendiamkan hadits yang pertama (“Tidak ada ‘adwa (penyakit menular)”). Hal ini membuat Al-Harits terus mendesak menanyakan hal tersebut yang membuat Abu Hurairah marah dan dia tidak mau lagi menjawab pertanyaan Al-Harits. Abu Salamah menduga bahwa Abu Hurairah telah lupa pada hadits yang pertama atau mungkin Abu Hurairah telah me-nasakh (menghapus) perkataan-nya sebelumnya.
Yang pertama perlu kita garisbawahi dari riwayat di atas adalah ternyata Abu Salamah hanya menduga-duga saja bahwa Abu Hurairah telah lupa terhadap hadits “Tidak ada penyakit menular” karena dengan jelas Abu Salamah mengatakan : “Namun aku tidak tahu apakah Abu Hurairah lupa atau dia telah menasakh (menghapus) salah satu perkataannya”, jadi bukan suatu kepastian yang disampaikan oleh Abu Salamah bahwa Abu Hurairah telah lupa akan hadits tersebut.
Nah kalau Abu Hurairah tidak lupa terhadap hadits “Tidak ada ‘adwa (penyakit menular)” tersebut mengapa dia bersikap seperti itu? Menurut pendapat kami pribadi, karena matan dua hadits tersebut seolah-olah saling bertentangan, dan tampaknya Abu Hurairah saat itu tidak bisa menjelaskan kepada si penanya mengenai kontradiksi antara dua hadits tersebut, sehingga dia memilih mendiamkan hadits yang pertama dan berpegang kepada hadits yang terakhir, makanya Abu Salamah mengira Abu Hurairah telah me-nasakh perkataan-nya sebelumnya. Dikarenakan saat itu Abu Hurairah tidak bisa menjelaskan kontradiksi kedua hadits tersebut sementara Al-Harits terus mendesaknya sehingga akhirnya dia menjadi marah dan berkata kepada Al-Harits قُلْتُ أَبَيْتُ (Aku tidak mau menjawab). Kata-kata seperti ini pernah terucap oleh Abu Hurairah pada hadits yang lain yang dia riwayatkan dimana kata-kata itu dia ucapkan ketika dia merasa tidak mengerti atau tidak tau tentang suatu hal, contohnya adalah riwayat berikut ini :
مَا بَيِنَ النَّفْخَتُيْنِ أَرْبَعُوْنَ، قَالُوْا: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ) أَرْبَعُوْنَ يَوْمَا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتَ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ سَنَةًَ؟ قَالَ: أَبَيْتُ: ثُمَّ يُنْزِلُ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءًَ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، وَلَيْسَ مِنَ اْلإِنْسَانِ شَيْءٌُ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jarak antara tiupan sangkakala empat puluh.” Mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah, (apakah) empat puluh hari?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Mereka bertanya, “(Apakah) empat puluh bulan?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Mereka bertanya, “(Apakah) empat puluh tahun?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya sayur mayur. Tidak ada sesuatu pun dari tubuh manusia melainkan pasti hancur, kecuali satu tulang, yaitu ajbu adz adz-dzanab (tulang ekor). Dari ajbu dzanab ini manusia disusun kembali pada Hari Kiamat.” (HR, Bukhari Muslim)
Di atas terlihat Abu Hurairah begitu hati-hati dalam meriwayatkan hadits, sehingga jika ada hal yang dia tidak mengerti atau tidak tahu dia memilih tidak mau menjawab. Demikian perkataan yang sama dia ucapkan kepada Al-Harits saat dia merasa tidak mengerti tentang suatu hal, yaitu pertentangan yang terlihat antara dua hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang dia riwayatkan. Allahu A’lam.
Mengenai dua hadits yang sama-sama dibawakan oleh Abu Hurairah tersebut di atas yang seolah-olah bertentangan, para ulama telah mengkompromikannya dan sebenarnya tidak ada pertentangan antara ke dua hadits tersebut, penjelasan yang cukup bagus mengenai hal ini, bisa anda baca di sini :
http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/
http://al-atsariyyah.com/tidak-ada-penyakit-menular.html
Jadi jelas, bahwa riwayat Abu Salamah di atas tidak menunjukkan bahwa Abu Hurairah lupa akan hadits-hadits yang dia riwayatkan, karena itu hanyalah dugaan dari Abu Salamah belaka. Justru dalam riwayat Ahmad, Abu Salamah berkata : “aku tidak pernah mendengar ia [Abu Hurairah] lupa soal hadis sebelumnya dan aku bersaksi demi Allah sungguh aku telah mendengar hadis itu darinya “. Perkataan Abu Salamah ini menunjukkan dan memperkuat bahwa memang benar Abu Hurairah tidak pernah lupa soal hadits dan ini adalah keutamaan Abu Hurairah berkat do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam kepada Allah Azza wa Jalla.
Maka syubhat rafidhi nashibi tersebut adalah lemah.
Wassalam.

