Tulisan ini dibuat untuk membantah para rafidhi nashibi yang sok berpegang kepada kitab-kitab ahlus sunnah, yang mereka begitu membenci Mu’awiyah bin Abi Sufyan dikarenakan Mu’awiyah pernah berperang melawan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum di masa fitnah yang melanda kaum muslimin saat itu. Tidak hanya laknat yang mereka lontarkan kepada beliau tetapi mereka bahkan telah menuduh Mu’awiyah seorang munafik dan mati tidak dalam keadaan Islam berdasarkan hadits dhaif lagi munkar yang mereka kais-kais dari kitab sejarah.
Bagi rafidhah, membenci Mu’awiyah adalah suatu kewajiban dan jika ada orang yang membela Mu’awiyah dari kepicikan mereka, maka mereka akan menuduh orang tersebut membenci ahlul bait. Hal ini disebabkan cinta ahlul bait versi syi’ah rafidhah adalah dengan cara mengkultuskan ahlul bait di satu sisi dan membenci orang-orang yang pernah berselisih dengan ahlul bait di sisi lain, tidak boleh ada orang-orang selain ahlul bait yang mempunyai keutamaan melebihi ahlul bait, untuk itu mereka merendahkan kedudukan orang-orang yang paling utama di sekitar Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum dan membenci semua orang yang menurut mereka adalah musuh ahlul bait. Rafidhah sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa mereka saat itu adalah satu umat, yang mempunyai satu aqidah, yang berjuang bersama-sama menegakkan dan menyebarkan Islam di muka bumi. Keyakinan menyimpang seperti ini sudah mendarah daging dalam diri orang-orang yang terkena virus syi’ah rafidhah dan Ahlul Bait berlepas diri dari keyakinan rafidhah ini. Maka benar dan terbukti apa yang dikatakan Abdullah Ibnu Al Mubarak
Ali bin Jamil berkata, aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak berkata:
معاوية عندنا محنة فمن رأيناه ينظر إلى معاوية شزرا اتهمناه على القوم أعني على أصحاب محمد (صلى الله عليه وسلم)
“Bagi kami Mu’awiyah telah menjadi ujian. Maka, Siapa saja yang kami lihat mengomentari Mu’awiyah dengan komentar yang miring, maka kami juga mencurigai sikapnya terhadap seluruh sahabat, yakni sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. ” (Tarikh Dimasyqi, 59/209. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)
Agak susah memang berdiskusi dengan rafidhah mengenai peristiwa perselisihan yang terjadi diantara kaum muslimin di awal-awal Islam untuk bersepakat dalam positive thinking mengenai generasi awal Islam, kalau sudah bicara sejarah Islam mereka sangat mirip dan satu barisan dengan para orientalis yang notabene adalah non muslim yang sama sekali tidak ada respek terhadap sejarah Islam dan tokoh-tokohnya. Mereka juga tidak bisa adil dalam memahami perselisihan-perselisihan tersebut jika sudah melibatkan ahlul bait. Sebagaimana contoh perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Kita ahlus sunnah mengakui bahwa Ali lebih utama dan lebih benar dalam ijtihad-nya dibandingkan Mu’awiyah, tetapi kita tidak bisa terima jika kemudian para rafidhah ini merendahkan seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam hingga sedemikian rupa keji-nya bahkan menuduhnya kafir dan mati dalam keadaan tidak dalam Islam hanya berdasarkan riwayat dhaif yang mereka kais-kais dari kitab sejarah dengan mengabaikan riwayat shahih yang berlawanan. Dan tidak pula di sini kita membela Mu’awiyah karena kita membenci Ahlul Bait, tetapi kita membela Mu’awiyah karena dia adalah salah satu sahabat dan saudara ipar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam, yang juga telah berjasa dan beramal dalam menegakkan Islam, dimana Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib telah menyerahkan dan mempercayakan kekhalifahan kepadanya.
Berikut ini adalah hadits yang saya kira kita semua sudah mengetahui, suatu hadits yang tidak mempunyai kesan tendensius sama sekali jika kita mau memperhatikannya, karena sebenarnya hadits ini bercerita tentang seorang Ummu Haram yang meraih sebuah keutamaan besar berkat do’a dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasalam, tetapi ternyata dalam hadits ini justru terungkap bahwa sebenarnya Ummu Haram hanyalah seorang diantara beberapa orang yang mendapatkan keutamaan tersebut, beliau adalah bagian dari sebuah armada laut pertama kaum muslimin yang dipuji dan dibanggakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Sekelompok orang yang telah ditetapkan pahala (surga) bagi mereka atas apa yang mereka telah perbuat.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ خَالَتِهِ أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ قَالَتْ نَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا قَرِيبًا مِنِّي ثُمَّ اسْتَيْقَظَ يَتَبَسَّمُ فَقُلْتُ مَا أَضْحَكَكَ قَالَ أُنَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ يَرْكَبُونَ هَذَا الْبَحْرَ الْأَخْضَرَ كَالْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ قَالَتْ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَدَعَا لَهَا ثُمَّ نَامَ الثَّانِيَةَ فَفَعَلَ مِثْلَهَا فَقَالَتْ مِثْلَ قَوْلِهَا فَأَجَابَهَا مِثْلَهَا فَقَالَتْ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتِ مِنْ الْأَوَّلِينَ فَخَرَجَتْ مَعَ زَوْجِهَا عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ غَازِيًا أَوَّلَ مَا رَكِبَ الْمُسْلِمُونَ الْبَحْرَ مَعَ مُعَاوِيَةَ فَلَمَّا انْصَرَفُوا مِنْ غَزْوِهِمْ قَافِلِينَ فَنَزَلُوا الشَّأْمَ فَقُرِّبَتْ إِلَيْهَا دَابَّةٌ لِتَرْكَبَهَا فَصَرَعَتْهَا فَمَاتَتْ
Bukhari, 38.17. 17/2590. Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata telah bercerita kepadaku Al Laits telah bercerita kepada kami Yahya dari Muhammad bin Yahya bin Hayyan dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari bibinya, Ummu Haram binti Milhan berkata: Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertidur di dekatku kemudian terbangun sambil tersenyum. Lalu aku bertanya: Apa yang membuat Anda tertawa? Beliau bersabda: Ada sekelompok dari ummatku yang diperlihatkan kepadaku sebagai pasukan perang di jalan Allah dimana mereka mengarungi lautan yang hijau bagaikan raja-raja di atas singgasana. Ummu Haram berkata: Do’akanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka. Maka Beliau mendo’akannya. Kemudian Beliau tertidur kembali untuk kedua kalinya dan kembali berbuat seperti sebelumnya. Dan Ummu Haram juga bertanya sebagaimana yang sudah ditanyakannnya dan Beliau pun menjawab sama dengan sebelumnya. Maka Ummu Haram berkata: Do’akanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka.. Beliau bersabda: Kamu akan menjadi diantara orang-orang yang pertama kali. Maka pada suatu masa, Ummu Haram berangkat berperang bersama suaminya ‘Ubadah bin ash-Shomit sebagai salah seorang dari Kaum Muslimin yang pertama kali berperang dengan mengarungi lautan bersama Mu’awiyah. Setelah selesai dari perang, mereka kembali dan singgah di negeri Syam. Kemudian Ummu Haram diberi hewan untuk ditunggangi namun dia tersungkur jatuh hinga meninggal dunia.
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ يَزِيدَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ أَنَّ عُمَيْرَ بْنَ الْأَسْوَدِ الْعَنْسِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ أَتَى عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ وَهُوَ نَازِلٌ فِي سَاحَةِ حِمْصَ وَهُوَ فِي بِنَاءٍ لَهُ وَمَعَهُ أُمُّ حَرَامٍ قَالَ عُمَيْرٌ فَحَدَّثَتْنَا أُمُّ حَرَامٍ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا قَالَتْ أُمُّ حَرَامٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا فِيهِمْ قَالَ أَنْتِ فِيهِمْ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ فَقُلْتُ أَنَا فِيهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا
Bukhari, 38.134. 134/2707. Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Yazid Ad-Dimasyqiy telah bercerita kepada kami Yahya bin Hamzah berkata telah bercerita kepadaku Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma’dan bahwa ‘Umair bin Al Aswad Al ‘Ansiy bercerita kepadanya bahwa dia menjumpai ‘Ubadah bin ash-Shomit ketika dia sedang singgah dalam perjalanan menuju Himsh. Saat itu dia sedang berada di rumahnya dan bersama dengan Ummu Haram. ‘Umair berkata; Maka Ummu Haram bercerita kepada kami bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pasukan dari umatku yang pertama kali berperang dengan mengarungi lautan, telah diwajibkan padanya (pahala surga)”. Ummu Haram berkata; Aku katakan: Wahai Rasulullah, aku termasuk diantara mereka? Beliau berkata; Ya, kamu termasuk dari mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi: Pasukan dari ummatku yang pertama kali akan memerangi kota Qaishar (Romawi) pasti mereka akan diampuni. Aku katakan: Aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ‘Tidak.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pelopor dan pemimpin pasukan laut pertama Islam tersebut adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, maka amal yang telah dilakukannya tersebut telah diakui sebagai fii sabilillah dan mendapatkan kepastian pahala berdasarkan berita dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dalam hadits di atas. Maka apa yang disabdakan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tersebut pasti terjadi dan tidak ada yang membatalkannya, apatah lagi berita dari hadits yang dhaif.
Wassalam.

