Bismillahirrohmanirrohim…
Ismail as adalah putra pertama dari nabi Ibrahim as dengan Hajar, Ishaq as adalah anak kedua dari Ibrahim as dengan Sarah. Sarah adalah istri pertama Ibrahim, namun hingga umurnya yang telah mencapai seumur nenek-nenek belum juga dikarunia anak, maka Sarah memutuskan agar nabi Ibrahim mengawini budaknya yaitu Hajar. Maka Ibrahimpun mempunyai anak dengan Hajar yang diberi nama Ismail. Sarah cemburu hingga mengusir Hajar agar keluar dari rumahnya, Ibrahimpun membawa Hajar serta Ismail ke Mekah dan meninggalkannya di Mekah.
Menurut keimanan Kristen dan Yahudi putra yang dikorbankan oleh Ibrahim adalah Ishaq, tetapi menurut keimanan Islam putra yang dikorbankan adalah Ismail. Perbedaan dua keimanan ini tidak mungkin benar kedua-duanya, pasti salah-satunya saja yang benar, karena
Memang dalam masalah siapakah yang dikorbankan bukanlah masalah akidah, namun kebenaran siapakah yang dikorbankan membawa konsekuensi yang teramat besar, terutama bagi orang-orang Kristen dan Yahudi, pasalnya kebenaran ini berhubungan langsung dengan keakuratan kitab suci dalam mengisahkan kejadian yang sesungguhnya.
Alqur’an menyatakan secara tidak langsung bahwa putra nabi Ibrahim as yang dikorbankan adalah Ismail, sementara menurut Talmud dan Bible yaitu kitab agama Yahudi dan Kristen, menyebutkan secara langsung dan tegas bahwa putra nabi Ibrahim yang dikorbankan adalah Ishaq.
Kajian secara teliti dan jujur, baik berdasarkan Alqur’an, Bible dan Talmud akan diperoleh kesimpulan yang sama bahwa putra nabi Ibrahim yang dikorbankan adalah Ismail as bukan Ishaq as seperti yang diaku-aku oleh orang-orang Yahudi dan Kristen selama ini. Penyebutan nama Ishaq dalam Bible dan Talmud secara tata bahasa berkualitas sebagai sisipan para penulis kitab karena kedengkiannya, mari kita kaji secara ilmiah dan obyektif.
MENURUT AL-QUR’AN
Mari kita perhatikan ayat 100-113 Surat Ash-Shaffat
- 100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
- 101. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
- 102. Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku me-nyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapat mu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada-mu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
- 103. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya),(nyatalah kesabaran keduanya)
- 104. Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
- 105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
- 106. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
- 107. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
- 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian
- 109. (yaitu) ” Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.
- 110. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
- 111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman.
- 112. Dan kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
- 113. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
Ayat ini tidak mencantumkan nama anak yang dikorbankan Ibrahim as. namun bukan berarti tidak bisa diketahui siapa anak tersebut.
Inilah ketinggian sastra Alqur’an, walaupun nama tak disebut, namun makna yang hakiki tetap bisa diketahui.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena inilah kalimat kunci agar kita bisa mengetahui bahwa anak Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail :
1. Pada ayat ke 112 Allah berfirman :
Di dalam ayat ini terdapat huruf و (wauw) ‘Athf litartibi wa litisholi, maknanya, huruf wauw yang menghubungkan dua peristiwa yang berbeda, secara berurutan sesuai tertib/urutan waktunya, yaitu peristiwa pertama tentang penyembelihan anak Nabi Ibrahim as yang telah dewasa yaitu Nabi Ismail as dan dilanjutkan dengan peristiwa kedua, yaitu kelahiran Ishaq as.
2. Dasar yang menetapkan bahwa anak itu Ismail as. adalah kalimat عليه di ayat 113
kata عليه di sini adalah milik Nabi Ismail dan bukan Nabi Ibrahim, mengapa demikian, karena pada kelanjutan ayat Allah berfirman : Dzurriyati hima
dhamir هِـمَا adalah milik Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah saudara seayah, sehingga anak cucu mereka yang disebut Allah, bukan anak cucu Ibrahim dan Ishaq, karena keduanya adalah bapak beranak, jadi yang tepat adalah anak cucu Ibrahim dari putra beliau Ismail dan Ishaq.
Coba perhatikan jawaban anak Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan itu pada ayat 102:
Ia menjawab: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar ( من الصبرين )
Di dalam Alquran, nabi yang memiliki predikat khusus sebagai (الصبرين) hanya 3 orang, yaitu :
- Nabi Ismail
- Nabi Idris
- Nabi Dzulkifli
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al -Anbiya’ :85)
Jadi jelaslah, bahwa Alquran telah menunjukkan hujjah yang terang, bahwa anak Nabi Ibrahim as yang hampir disembelih adalah Nabi Ismail as.
Dalam ayat-ayat selanjutnya mengisahkan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail tentang perintah penyembelihan Ismail, dan beliau berdua berhasil melalui ujian yang nyata tersebut dengan amat sabar, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar .
Setelah al-Qur’an mengisahkan kisah antara nabi Ibrahim dengan putranya Ismail, dalam ayat selanjutnya yaitu QS. As-Shaffat:112 Al-Qur’an mengisahkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kabar baik akan datangnya seorang anak lagi yang bernama Ishaq :
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. As-Shaffat:112)
Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa kabar gembira akan lahirnya Ishaq adalah setelah kisah kabar gembira akan lahirnya Ismail dan kisah perintah penyembelihannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an menyatakan Ismail-lah yang akan disembelih bukan Ishaq.
MENURUT BIBLE
Nabi Ibrahim dan Istrinya Sarah adalah dari bangsa yang sama, Sarah mempunyai budak bernama Hajar dari Mesir. Dalam pernikahannya dengan Sarah nabi Ibrahim belum dikaruniai anak padahal umur mereka sudah mencapai sekitar 80 tahun.
Akhirnya Sarah memutuskan agar Ibrahim menikahi budaknya yaitu Hajar.
“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.
Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.
Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hamba-nya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan –, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isteri-nya.” (Kejadian 16:1-3)
Bersama Hajar nabi Ibrahim mempunyai anak yang kemudian dinamainya Ismail, ketika itu nabi Ibrahim berumur 86 tahun :
Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. (Kejadian 16:16)
Dan ketika nabi Ibrahim berumur 99 tahun, Allah SWT menjanjikan seorang anak lagi namun dari pihak Sarah :
“Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram” ( Kejadian 17:1)
Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”(Kejadian 17:16)
Dan setahun kemudian lahirlah anak dari Sarah yang diberi nama Ishaq, dua tahun ke-mudian nabi Ibrahim mengadakan perjamuan besar untuk menyapih Ishak, sehingga ketika Ishaq berumur 2 tahun Ismail berumur 16 tahun, namun Sarab berubah pikiran setelah mempunyai anak, ia menyuruh nabi Ibrahim untuk mengusir Hajar dan Ismail dari rumah-nya, maka Hajar dan Ismail meninggalkan rumah Sarah.
Setelah itu Allah berfirman kepada nabi Ibrahim :
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:2)
Dalam ayat tersebut dikisahkan secara jelas dan gamblang bahwa Bible mengisahkan Ishaqlah yang dikorbankan untuk disembelih bukan Ismail.
BENARKAH KISAH BIBLE?
Satu-satunya dasar bagi orang-orang Yahudi dan Kristen mengimani Ishaq yang dikorbankan adalah penyebutan nama Ishaq dalam kitab mereka yaitu dalam Kejadian 22:2.
“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq” . (Kejadian 22:2)
Setelah dikaji, kalimat “ yakni Ishaq” dalam ayat tersebut mempunyai kejanggalan yang teramat serius, alasannya :
Pertama : kalimat “yakni Ishaq” pada susunan tersebut adalah mubazir, karena kalimat tersebut telah sempurna justru bila tanpa “yakni Ishaq” :
Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
Dengan susunan tersebut tentu nabi Ibrahim sudah paham siapa yang disebut sebagai anak tunggal yang dikasihinya. Apa mungkin seorang ayah tidak tahu siapa anak tunggalnya?
Kedua : Kalimat “yakni Ishaq” kontradiksi dengan kalimat sebelumnya yang menyatakan :
Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi
Karena ketika itu, Ismail telah lebih dahulu lahir sebagai anak nabi Ibrahim, penyebutan Ishaq sebagai anak tunggal dalam ayat tersebut tidak sesuai dengan sejarah dan itu berarti mengingkari Ismail sebagai anak sah Ibrahim.
“Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu.” (Kejadian 25:12)
Tentu saja menyebut Ishaq sebagai anak tunggal berarti mengingkari Ismail sebagai anak Ibrahim, mengingkari Ismail sebagai anak Ibrahim berarti mengingkari ayat-ayat dalam Bible itu sendiri.
ISHAQ ANAK TUNGGAL ?
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi” (Kejadian 22:2)
Siapakah anak tunggal yang dimaksud dalam ayat tersebut bila bukan Ishaq ?
Ibrahim hanya mempunyai dua orang anak, yaitu Ismail dan Ishaq, Ishaq bisa disebut sebagai anak tunggal bila Ismail sebagai anak per-tama telah meninggal, tetapi kenyataannya Is-mail belum meninggal. Ismail bisa disebut se-bagai anak tunggal bila Ishaq belum lahir, keadaan yang kedua inilah yang paling mungkin.
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa peristiwa perintah penyembelihan terhadap Ismail adalah sebelum Allah memberikan kabar gembira yang kedua kalinya kepada nabi Ibrahim akan lahirnya seorang anak lagi yaitu Ishaq, seperti disebutkan dalam QS. 37:101-11.
Al-Qur’an menyatakan bahwa :
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, , Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu” (QS.As-Shaffat:102)
Yang dimaksud pada umur sanggup adalah ketika seseorang sudah bisa untuk mencari kayu bakar, mengembala kambing, mencari air dan lain-lain, dan ketika Ismail mencapai pada umur sanggup Ishaq belumlah lahir, jadi ketika itu Ismail adalah anak tunggal nabi Ibrahim.
Kisah ini jika kita kembalikan pada kitab Kejadian, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kekedewasan.
Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Lalu bagaimana dengan penuturan Taurat, kita lihat dibawah ini :
Kejadian 22:2
“Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
Dari sini saja kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac).
Kejadian 16:16
“Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.”
Kejadian 21:5
“Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.”
Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail; Jika Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan “anak tunggal”, jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang. Lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup !
Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan. Jadi setelah ayat yang menceritakan pengorbanan barulah diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan “tahrif” oleh al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh QS An Nisa’ ayat 46 :
QS An-Nisa 46
“Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya…”
Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Taurat memang mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dsb), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia.
Orang Kristen berargumen bahwa penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Ibrahim tidak lain karena Ismail terlahir dari budak dan merupakan anak tidak sah….. menurut saya pendapat ini konyol dan tidak beralasan… sebab Kitab Kejadian 16:3 secara jelas menyebutkan bahwa sebelum Hajar melahirkan Ismail, ia telah di nikahi secara sah oleh Ibrahim.
Kejadian 16:3
“Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, —yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan—,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.”
Adapula orang Kristen yang membantah dengan merujuk Kejadian 21:12 bahwa yang dimaksud dengan keturunan Ibrahim adalah yang berasal dari benih Sarah :
“Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak”. (Kejadian 21:12)
Tetapi pernyataan ini tertolak sendiri dengan ayat berikutnya yaitu Kejadian 21:13
Kejadian 21:13
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu”
Sehingga yang dimaksud oleh ayat Kejadian 21:13 bukan soal “Ishak adalah anak asli keturunan Ibrahim dan menjadi anak tunggalnya” namun karena masalah warisan Ibrahim sebagaimana isi dari ayat Kejadian 21:9-10
Kejadian 21:9-10
“Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”
Seandainya Kristen berargumentasi bahwa Ismail diusir Ibrahim, atau karena Ibrahim membenci Ismail….. jawaban saya atas pernyataan tersebut adalah “itu adalah kedustaan para pendeta Yahudi yang mengedit Taurat”!…. Ibrahim tidaklah mengusir Hajar (Kejadian 21:11 itu ayat editan Yahudi saja)…. Bahkan sebenarnya hubungan antara Ibrahim, Ismail, dan Ishak sangat erat. Taurat mencatat setelah Ibrahim wafat, anak-anaknya (termasuk Ismail) menguburkan ayahnya bersama-sama. Ini menandakan hubungan keakraban mereka.
Kejadian 25:7-9
“Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal…..Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela…..”
Bila memang benar Sarah cemburu dan mengusir mereka, itu adalah masalah lain. Namun yang terpenting adalah Ibrahim, Ismail, dan Ishak saling mencintai satu sama lain. Kita bisa sama-sama melihat hubungan antara Ishak dan Ismail yang sangat akrab, melalui pernikahan antara anak Ishak (Esau bin Ishak) dan anak Ismail (Mahalat bin Ismail dan Basmat bin Ismail).
Kejadian 28: 8-9
“maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya. Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.”
Kejadian 36:2-3
“Esau mengambil….. Basmat, anak Ismael, adik Nebayot.”
Ishak menginginkan agar keturunannya tidak bercampur dengan darah bangsa lain. Oleh karena itu Esau memperistrikan anak Ismail. Jadi kesimpulannya anak-anak Ismail adalah bangsa Ibrani juga. Ishak tidak akan membiarkan Esau memperisti anak Ismail jika Ishak menganggap anak Ismail adalah bukan Ibrani. Jadi Ibrani bukanlah hanya dialamatkan untuk bangsa Israel saja, melainkan bangsa-bangsa lain yang sedarah dengan Ibrahim.
Anak Remaja atau masih Balita ? Bukti Taurat Hasil Editan Yahudi
Untuk lebih mempertajam analisa saya mengenai kebenaran isi ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa alkitab itu sudah terdistorsi oleh tangan-tangan jahil manusia, maka pada kesempatan ini sayapun akan memperlihatkan bukti-bukti lain mengenainya yang masih berhubungan erat dengan kasus Ismail dan Ishak ini.
Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Kitab Kejadian terjadi pada waktu Ishak masih disapih karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10).
Kejadian 21:8-10
“Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”
Silahkan pembaca perhatikan, betapa Kejadian 21:8-10 kontradiksi dengan Kejadian 21:14-21
Kejadian 21:14-21
14. Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
15. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
16. dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
17. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
18. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
19. Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.
20. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
21. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.
Kejadian 21:8-10 menceritakan Ismail sudah dewasa (berumur 14 tahun lebih) dan bermain dengan Ishak yang masih balita, hal ini membuat Sarah marah dan mengusir Ismail.
Keesokan harinya….nah inilah yang aneh…. cerita Kejadian 21:14-21 justru menceritakan hal yang bertentangan dengan ayat yang sebelumnya diceritakan.
Kenapa bertentangan ?
Karena dalam Kejadian 21:14-21 digambarkan seolah-olah Ismail masih seorang bayi yang digendong dibahu ibunya, kemudian Ismail yang menurut kitab Kejadian sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah semak-semak (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18).
Masa iya sih Hagar harus menggendong seorang anak laki-laki “dewasa” yang berusia 16 tahun, apa tidak terbalik seharusnya Ismail yang menggendong Hagar ?
Kemudian disambung pada Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan “…Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah”.
Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Taurat, jelas sudah Taurat adalah kitab suci editan para pendeta Yahudi.
QS An-Nisa 46
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…..”
Dalam satu perdiskusian agama dimilis Islamic Network beberapa tahun yang lampau, seorang rekan Kristen membantah kalimat “untuk diangkat, digendong… ” yang termuat didalam kitab Kejadian ini adalah dalam bentuk kiasan, jadi disana jangan diartikan secara harfiah, karena maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar.
Padahal jika kita mau melihat kedalam konteks ayat-ayat aslinya, akan nyatalah bahwa apa yang dimaksudkan dengan bentuk kiasan tersebut sama sekali tidak menunjukkan seperti itu.
Mari kita kupas :
Kejadian 21:14 (Alkitab LAI 1974)
“Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
Tidak lupa saya akan mengutip juga beberapa terjemahan ayat diatas didalam beberapa versi alkitab yakni Douay Rheims Bible (DRB), English Standard Version (ESV), dan King James Version (KJV) :
(DRB) So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee.
(ESV) So Abraham rose early in the morning and took bread and a skin of water and gave it to Hagar, putting it on her shoulder, along with the child, and sent her away. And she departed and wandered in the wilderness of Beersheba.
(KJV) And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and the child, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beersheba.
Jadi menurut Taurat, Ibraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi
Lihat kalimat bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata “…and sent HER away: and SHE departed, and wandered”[1]
Jadi jelas yang diusir dan berjalan disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar. Mustahil anak berusia 16 tahun digendong!!
Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya :
Kejadian 21:15 Alkitab LAI 1974
“Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,”
(DRB) And when the water in the bottle was spent, she cast the boy under one of the trees that were there.
(ESV) When the water in the skin was gone, she put the child under one of the bushes.
(KJV) And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs.
Jadi semakin jelas, ketika bekal air didalam kirbat sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILD dan THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon.
Apakah masih mau bersikeras dengan mengatakan kalau kata “menggendong atau memikul” THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya ?
Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun.
Lelucon Kejadian pasal 22
Ada 3 poin utama yang harus di perhatikan mengenai lokasi tempat tinggal :
# Hajar dan Ismail melewati Bersyeba (kejadian 21:14), kemudian tiba dan berdomisili di Paran (Kejadian 21:21)
# Ibrahim sedang berada di Bersyeba (Kejadian 21:33)
# Sarah dan Ishak berdomisili di Hebron, Sarah wafat di Hebron (kejadian 23:2)
Pada pasal 22,
langsung disebutkan bahwa nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anak tunggalnya. Artinya Ibrahim masih berada di Bersyeba.
Kejadian pasal 22
1. Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”
2. Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
3. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
4. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
5. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”
6. Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
7. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
8. Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
9. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
10. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
11. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”
12. Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
13. Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
14. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”
15. Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,
16. kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri—demikianlah firman TUHAN—:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
17. maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
18. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”
19. Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.
Bila kita simak dengan seksama, maka Kejadian pasal 22 memiliki dua keganjilan yakni :
Kejanggalan pertama
Kejadian pasal 22 ini mengisahkan seolah-olah Ishak berada di Bersyeba. Padahal tidak ada anak Ibrahim yang berdomisili di Bersyeba. Ishak dan ibunya justru tinggal di Hebron.
Kejanggalan Kedua
Setelah selesai ritual, pada Kejadaian 22:19 Ibrahim dan Ishak pulang ke Bersyeba. Jadi seolah-olah Sarah berdomisili di Bersyeba. Padahal Taurat mencatat Sarah berdomisili di Hebron hingga wafatnya (Kejadian 23:1-2).
Kesimpulannya :
Seandainya Ishak yang disembelih, seharusnya Kejadian pasal 22 menceritakan kepulangan Ibrahim ke Hebron, tempat tinggal Sarah, untuk membawa Ishak yang hendak dikurbankan. Kemudian setelah acara ritual pengurbanan selesai, mestinya Ibrahim mengembalikan Ishak kepada ibunya di Hebron. BUKAN DI BERSYEBA. Kedengkian pendeta Yahudi mengedit taurat sudah terlalu jelas didepan mata. Pendeta Yahudi mengedit nama tempat Paran (lokasi tempat tinggal Ismail) menjadi nama tempat tinggal Ishak. Namun pendeta Yahudi terburu-buru mengedit Paran menjadi Bersyeba, padahal harusnya Hebron. Serapat-rapatnya menutupi kebenaran akhirnya ketahuan juga, itulah perumpamaan untuk pengedit Taurat.
Allah berfirman :
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Baqarah 79)
Akhir Kata
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. ” (QS Al Maa’idah 15)
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa’ 115)
“….. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran” (QS Al Baqarah 269)
Akhirnya saya mengharapkan semoga artikel ini menambah wawasan dan pencerahan.
Wassalam.
Catatan Kaki
[1] : Bible Contemporary English Version (CEV) telah mengedit kata “sent HER away: and SHE departed, and wandered” menjadi “sent them away. They wandered”
Kejadian 21:14 versi CEV
“Early the next morning Abraham gave Hagar an animal skin full of water and some bread. Then he put the boy on her shoulder and sent them away. They wandered around in the desert near Beersheba.”
Begitulah perilaku Gereja setelah menyadari kesalahan mereka sendiri, dengan bertopeng tembok tebal dan gerakannya secepat tikus gereja yang lolos dari pengamatan kita. Gereja benar-benar mengikuti perilaku pendeta Yahudi yang gemar mengedit ayat Alkitab.
Sumber
-Tafsir al-Qur’an Oleh Ibn Kathir
-Tafsir al-Qur’an al-Maraghi.
-Armansyah-Swaramuslim
-Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003
-Program Alkitab (Bible) KJV, DRB, dan ESV dapat Anda download di www.e-sword.net
-Alkitab LAI 1974
-The Histrory The Qur’anic Test From Revelation to Compilation-Sejarah Teks al-Qur’an dari wahyu sampai Kompilasi, oleh Prof. Dr.M.M.Al-Azami, hal.197
http://answering.wordpress.com/2008/12/06/ismail-atau-ishak-yang-dikurbankan-versi-islam-dan-kristen/


Barokallahu fiik ya Ustadz. Tetaplah berdakwah di jalan yang haq.
Benarkah ada sejumlah hadis dari sebagian sahabat2 Nabi SAW. yg menyebutkan bhw anak Nabi Ibrahim a.s. yg akan diqurbankan adalah Ishaq a.s.? Di kitab hadis manakah hadis2 tsb tertulis? Syukron atas infonya.
Was-salamu alaikum.
Yang mana kah yang di luan muncul ? Al kitab atau Al Quran?
cerita2 di dalam alqur an jelas2 cerita2 yang sepotong-sepotong…tidak jelas arah nya…kalau memang ismail yang dipilih dan turunan nya…mengapa nabi-nabi yang belakangan muncul semua nya dipilh dr bangsa israel….nabi-nabi yang disebut dalam Alqoran…bukan orang Arab….semua sejarah sudah membuktikan tidak ada Nabi yang lahir dr bangsa Arab atau ismail….itu sudah jadi fakta kalau ismail…memang tidak dipilih…kalian hanya mencari alasan dr struktur penulisan kitab suci Alkitab….
kalian mencari argumen2 untuk mau mempertahankan kebodohan anda…terima lah fakta sejarah…
Memang duluan Al-Kitab, dan Al-Qur’an mengakuinya, sayangnya Al-Kitab sudah diotak-atik oleh tangan-tangan jahil manusia dari kalangan yahudi sehingga tidak otentik lagi, maka Al-Qur’an lah sebagai kitab terakhir yang mengkoreksi dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.
Memang benar Nabi-nabi banyak diutus dari kalangan bani Israel tetapi sayang Bani Israel tidak mensyukurinya bahkan sering melanggar perintah Allah sehingga kemudian Allah mengutus Nabi terakhir dari keturunan Ismail yaitu Nabi Muhammad SAW. Itulah fakta sejarah yang ada, sekarang Islam telah menyebar dari timur ke barat dengan kecepatan yang tidak bisa dicapai oleh kaum Yahudi maupun Nasrani ketika menyebarkan agama mereka, maka terima saja fakta yang ada.
Open your mind & your heart, pikirkan saja semuanya dengan jernih, dan tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda sekarang ada di jalan yang benar dengan menyembah manusia yang bukan Tuhan. Mumpung anda masih dikaruniai akal untuk berpikir, mumpung anda masih diberi kesempatan untuk hidup. Jangan buang waktu hidup anda dengan sia-sia.
Semoga Allah memberi hidayah kepada anda.
Apa yang Anda lihat lagi disini?
Menebus berarti membeli balik dengan membayar harga yang sesuai.
Dan dari makna asli ayat diatas, kita mencatat gambaran bahwa harga yang sangat luar biasalah yang harus dibayar oleh Tuhan (!) bagi sebuah penebusan untuk anak Ibrahim. Itu adalah satu sosok kurban dengan segala kebesaran, keagungan, kemuliaan, kedahsyatan, keperkasaan ‘azhiim’ yang amat besar nilainya yang ditamzilkan Allah sebagai Penebus untuk men-substitusikan kematian semua anak-anak Ibrahim kelak (karena dia Bapak bangsa-bangsa orang beriman). Sedemikian besar harga sosok kurban itu sehingga pewahyuan Quran HARUS memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung). Selama pakar Muslim mengkotakkan sosok tersebut secara harafiah hanya sebagai seekor binatang tambun, mereka tidak mampu memahami masalah masalah detail berikut ini:
(a) Apa perlu-perlunya sang anak itu disuruh dibunuh lalu ditebus oleh Allah agar memiliki sang anak kembali?
Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah tak perlu memerintahkan pembunuhan (nabi membunuh anak calon nabi!). Ada sejuta cara lain yang halal pada Mahatahunya Allah dan yang tidak menjadi batu sandungan. Dan bila hanya sekedar untuk testing, cukup Ibrahim melepaskan anaknya tanpa usah tebusan kurban, bukan? Ujian iman serentak telah berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim “STOP, jangan bunuh anakmu!”
(b) Dan kenapa Allah memerlukan kematian-kurban? Apakah anak Ibrahim itu bersalah sehingga ia harus dibunuh, lalu harus pula ditebus?
Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Bukankah hal itu yang justru diperlukan oleh SETAN? Itulah. Kematian kurban ini adalah gambaran tamzil dari kematian seorang Al Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang sudah diniscayakan kepada setiap manusia berdosa (Qs.19:71, Roma 6:23, Kejadian 2:17) karena semua manusia itu berdosa. Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum Kasih Tuhan kini dapat berkata, “Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).
Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Maha-kasih (yang akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa hakekat diriNya yang Maha-adil?
Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi Non-Adil; dan ketika Ia menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi Non-Kasih. Ketegangan (“kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban sebagai Penebus – pembayar harga kematian – yang mempertemukan Keadilan Tuhan dengan Kasih Tuhan! Kini Ia tetap Maha-adil ketika mengampuni dalam kasihNya, karena Tuhan sendiri telah membayar harga keadilan itu lewat kematian Al Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam dunia! Anda dan saya yang berdosa – ditamzilkan sebagai anak Abraham yang harus mati/disembelih, namun kita diselamatkan Tuhan dengan sebuah tebusan Anak Domba Tuhan yang mahal yang diperlambangkan oleh Yesus Mesias sebagai korban penyaliban. Agar perlambangannya absah dan tidak nyeleweng, maka Nabi Yahya sengaja diutus mendahului Yesus demi untuk mengkonfirmasikan hal tersebut. Itu terjadi ketika Yesus datang menghampiri Nabi Yahya secara fisik, dan Yahya pun berseru:
“Lihatlah Anak Domba Tuhan (Yesus), yang menghapus dosa dunia.” (Yoh.1:29).
Sosok Kurban Anak Domba itu (akan disediakan Tuhan) sebagai pengganti sang anak yang harus mati (ayat 13 berkaitan ayat 8 & 14). Istilah “akan” disini sengaja dipakai Tuhan demi menunjukkan pula akan nubuat yang kelak akan terjadi atas apa yang sudah terjadi dalam tamzilan kasus Abraham ini! “Anak Domba Tuhan” yang ‘azhiim” itulah yang kelak akan dikurbankan disalib untuk menebus kematian “anak-anak Abraham” yang telah berdosa dan terkutuk kematian.
(c) Andaikata tebusan bagi sang anak itu hanya harfiah seekor binatang, kenapa si penebus (binatang) justru dianggap bernilai sangat “agung-mulia-dahsyat-mahal-perkasa-hebat” ketimbang yang ditebus-nya (manusia)?
Tak ada jawaban, kecuali itu adalah Sang Penebus!
Itulah kematian-kurban yang sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, seperti yang telah dibicarakan dimuka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban Anda dan saya jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah dihari raya Haji? Korban semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai sosial dan religi.
Kata Anda :
“(a) Apa perlu-perlunya sang anak itu disuruh dibunuh lalu ditebus oleh Allah agar memiliki sang anak kembali?
Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah tak perlu memerintahkan pembunuhan (nabi membunuh anak calon nabi!). Ada sejuta cara lain yang halal pada Mahatahunya Allah dan yang tidak menjadi batu sandungan. Dan bila hanya sekedar untuk testing, cukup Ibrahim melepaskan anaknya tanpa usah tebusan kurban, bukan? Ujian iman serentak telah berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim “STOP, jangan bunuh anakmu!”
(b) Dan kenapa Allah memerlukan kematian-kurban? Apakah anak Ibrahim itu bersalah sehingga ia harus dibunuh, lalu harus pula ditebus?
Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Bukankah hal itu yang justru diperlukan oleh SETAN? Itulah. Kematian kurban ini adalah gambaran tamzil dari kematian seorang Al Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang sudah diniscayakan kepada setiap manusia berdosa (Qs.19:71, Roma 6:23, Kejadian 2:17) karena semua manusia itu berdosa. Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum Kasih Tuhan kini dapat berkata, “Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).
Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Maha-kasih (yang akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa hakekat diriNya yang Maha-adil?”
Jawab:
Itu menunjukkan kedangkalan pikiran anda saja, siapa yang bilang bahwa kaum muslimin tidak berdaya menjawab pertanyaan anda yang seperti itu? sungguh anda sombong, anda sedang mendikte Tuhan itu namanya, padahal kedangkalan pikiran anda-lah yang tampak terlihat di sini.
Ibrahim adalah Bapak para Nabi, Bapak Tauhid (Yang benar-benar menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain) dimana Allah menghendaki Ibrahim menjadi suri tauladan yang abadi bagi generasi penerus-nya, peristiwa perintah penyembelihan anak Ibrahim adalah merupakan salah satu ujian terbesar atas iman Ibrahim yang diberikan oleh Allah, tentu anda tahu bahwa Ibrahim tidak diberikan keturunan untuk waktu yang cukup lama , begitu Allah mengaruniai anak yaitu Ismail (karena Ishak belum ada saat itu), Allah memerintahkan untuk menyembelihnya, betapa ujian ini sangat berat, dimana Ibrahim harus memilih antara cinta kepada anak nya semata wayang saat itu yang dia harapkan kehadiran-nya bertahun-tahun lamanya dengan cinta-nya kepada Allah. Dan ternyata Ibrahim lulus ujian ini dan cintanya kepada Allah lebih besar daripada yang lain. . Hikmah atas Iman Ibrahim yang luar biasa inilah yang kemudian Allah abadikan dan menjadi suri auladan bagi generasi penerus-nya. dan napak tilas dari apa yang dia lakukan terus dilestarikan oleh pengikutnya sampai saat ini.
Maka pengorbanan Ibrahim akan benar-benar terasa ketika dia masih mempunyai anak yang tunggal, tidak lebih. Tentunya Ibrahim mengalami masa mempunyai anak tunggal yaitu pada masa Ismail dan pada saat Ishak belum lahir, kalau Ishak yang dikorbankan maka pengorbanan tsb tidak lebih besar artinya karena dia masih mempunyai anak lain yaitu Ismail. Jadi dari sini saja sudah dapat disimpulkan bahwa yang dikorbankan adalah Ismail bukan Ishak
Sebagai Pembuka dari penulis :
Kisah kurban dalam QS Ash Shaaffaat 100-113
QS Ash Shaaffaat 100-113
100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
101. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
113. Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
Pertanyaannya sesuai topik…Ishaq atau Ismael yang dikurbankan?
Jawaban Pembaca :
Marilah dengan cermat dan cerdas menganalisa permasalahan siapakah yang pantas dijadikan kurban??? apakah Ishak atau Ismail??
1. Masalah Penyebutan Nama sang KURBAN
Sebagai Muslim anda harus berpegangan total dgn Quran, betul atau tidak? yang menjadi jawaban anda haruslah dari Quran…betul? terbukti penulis menulis ada beberapa Hadits yang saling bertentangan??
Jikalau DIA adalah ALLAH yang Sejati…. Mungkinkah DIA mengalami “GAGAL dan LUPA” apa yang di Firmankan-Nya? Bukankah Quran dan Hadits harusnya saling mendukung?
- Di dalam Quran Adakah Nama ISMAIL disebut oleh Sang Khalik???
Sedangkan di dalam ALKITAB tertulis :
- Setelah semuanya itu Elohim menguji Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan” (respon balik Abraham). Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:1-2)
- Dengan Jelas Nama ISHAK itu di sebut ALLAH Sang Khalik
2. Masalah Komunikasi dan Ketegasan atau Kejelasan Perintah Menyembelih
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Latar belakang Jaman para Nabi saat itu adalah Sang Khalik sering berbicara kepada para Nabi melalui “MIMPI” atau perintah langsung melalui suara Sang Khalik atau melalui perantara Malaikat.
Terjadi Komunikasi dua arah antara ALLAH Sang Khalik dan Nabi.
- Di dalam surah Quran tersebut tidak adanya hubungan komunikasi 2 arah antara TUHAN dgn nabinya??? hanya memanggil “Hai Ibrahim” dapatkah dipastikan itu suara-Nya??? lalu tidak ada sahutan daripada Ibrahim.
- dan di dalam surah Quran yang sama pula tidak ada perintah untuk menyembelih anak, melainkan hanya menjelaskan “membenarkan mimpi?” Apakah dapat dipastikan itu mimpi dari Sang Khalik???? menyeramkan….. mimpi menyembelih anak??? ckckckckckk…tragisssss…
apakah mimpi itu terdapat perintah??? “TIDAK!!”
-Sedangkan di dalam Alkitab – Komunikasi antara nabi dengan TUHAN nya juga jelas :
“Setelah semuanya itu Elohim menguji Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.’
Abraham merespon panggilan TUHAN dan mengetahui bahwa yang memanggil saat itu adalah TUHAN nya. “YA, Tuhan” jawabnya.
-dan juga ada “Perintah” dari Sang Khalik kepada Abraham Jelas.
“Firman-Nya : Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
Tidak ada Hal yg tersembunyi dari pada ALLAH pemilik manusia…. Sang Maha Kuasa dengan jelas dan tegas dalam hal memberi petunjuk bahkan melalui mimpi sekalipun dan Sang nabi dengan jelas dapat menceritakan maksud daripada mimpi tersebut.
Serta terjadi Komunikasi yang baik antara ALLAH dgn Nabi.
3. Masalah Maksud dan Tujuan serta di mana tempat untuk berkurban
- Adakah di dalam Quran disebutkan tempat atau daerah yg akan dijadikan kurban??? apalagi dalam hal ini adalah kurban istimewa…seorang anak???
- Adakah di dalam Quran ada maksud tujuan dari mimpi menyembelih anak tersebut??
Lagi-lagi jawabannya adalah “TIDAK ADA!!”
Apakah Yang Maha Kuasa itu GILA??? atau haus darah??? tidak ada maksud dan tujuan untuk apa menyembelih anak??? bukaknkah itu termasuk PEMBUNUHAN??? juga tidak adanya tempat kurban khusus??? ckckckckckck…..
- Sedangkan di dalam ALKITAB dengan jelas tertulis apa maksud dan tujuan serta letak lokasinya diberikan langsung oleh Yang Maha Kuasa.
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:1-2)
Jelas ada perintah dari TUHAN “pergilah”, ke mana?? ke tanah MORIA… untuk apa?? Mempersembahkan anak sebagai korban bakaran (ada ritual ibadah). dimana?? di salah satu gunung.
ALLAH berdaulat dan berkuasa atas seluruh Firman-Nya….. TUHAN tidak sembarangan di dalam segala HAL!!!
4. Masalah Upacara Ritual Kurban
Apakah di jelaskan di Quran??? TIDAK!!!
Lagi-lagi Quran gagal menjelaskan mengenai upacara kurban tersebut!!
yang ada hanya tempat pembaringan.
Apakah allah di dalam quran tidak mengetahuinya???
Sedangkan Abraham di dalam ALKITAB sangat paham mengenai upacara kurban dan persembahan untuk Yang Maha Kuasa dan Abraham sering melakukannya bagi TUHAN.
Padahal semua persiapan dan alat-alat untuk mempersembahkan kurban telah disebut lengkap 2600 tahun sebelumnya dalam Alkitab, termasuk pisau, kayu, api, dan mendirikan mezbah (tempat meletakkan kurban), dan kurbannya sendiri diletakkan diatas kayu api. Itu adalah aturan baku sejak dari Kain dan Habel dan Nuh (lihat Kejadian 8:20), Abraham, Ishak, Yakub, sampai kepada Musa dan lain-lain nabi seterusnya untuk melaksanakan sebuah persembahan kurban yang layak bagi Tuhan.
5. Masalah Ketegasan TUHAN sebelum peristiwa penyembelihan
Apakah ada perintah larangan dari ALLAH kepada Ibrahim untuk menghentikan tindakkannya ketika siap menyembelih anaknya??
Lagi-lagi TIDAK ADA perintah di dalam Quran!!!! melainkan ;
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Suara Tuhan dalam suasana genting berseru untuk menghentikan tindak peneyembelihan: “Abraham, Abraham (2 kali).… Jangan bunuh… Jangan kauapa-apakan…”, ini diganti menjadi suara Allah SWT yang memanggil nama Abraham (1 kali saja), tidak ada urgensi dan perintah STOP yang melarang penyembelihan! Melainkan hanya berfirman umum yang tidak genting: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya …., sesungguhnya…”. 3X “sesungguhnya” yang diucapkan Allah secara boros diluar konteks malah menjadikannya “tidak sungguh”!
Ujian apa? balasan apa? mimpi apa??? ckckckck ga jelas!!! allah yg ga jelas dan ga tegas!!!!
- ALKITAB secara tegas dan jelas :
Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: ”Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”
22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
Dengan jelas di ayat ALKITAB tersebut ABRAHAM TAAT terhadap perintah TUHAN nya, dengan jelas bahwa ABRAHAM ber IMAN kepada TUHAN bahwa ABRAHAM yakin TUHAN adalah TUHAN yang tahu dan mampu menyediakan kebutuhan dirinya dan tahu akan segala pemikiran dan pergumulan dirinya. (baca kisah ABRAHAM). dan sekali lagi ABRAHAM ber IMAN bahwa TUHAN mengasihi dirinya dan anaknya ISHAK yaitu dengan cara membelanya “Jangan kau bunuh anak itu”… ckckckckk…sungguh ALLAH Yang Luar Biasa dan Maha Pengasih.
6. Masalah Tindakkan TUHAN terhadap korban persembahan
tidak seperti pada Alkitab, ayat ini muncul tanpa konteks jelas yang mendahuluinya. Tiba-tiba saja ayat ini muncul berbicara tentang peran satu kurban sembelihan teramat besar yang Allah jadikan penebus atas kematian anak Ibrahim:
“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar”
(Wa fa dainaahu bi dzibhin ’azhiim”).
Maksudnya apa?????????????????
ALKITAB dengan jelas menulis bahwa ALLAH nya ABRAHAM konsisten dengan setiap perintah-Nya. yaitu “KORBAN BAKARAN”
- (Bandingkan ini dengan ayat-ayat di Kitab Kejadian sebelum ayat 22:13, dimana Tuhan menghentikan tindak Abraham yang siap menyembelih anaknya, lalu barulah menggantikan sang anak dengan seekor domba jantan yang disediakan-Nya sendiri):
“…mengorbankannya (domba itu) sebagai korban bakaran pengganti anaknya” (ayat 13).
Dari permasalahan tersebut ALQURAN gagal menjabarkan hal detail….mulai dari nama sampai akhir dari tujuan kurban tersebut!
sedangkan ALKITAB mampu menjabarkan secara konsisten secara detail mulai dari perintah, maksud dan tujuannya hingga akhir dari keseluruhan perintah kurban tersebut.
Silahkan anda merenungkannya…. mau ikut yang manakah??? Quran atau Alkitab??
Islam tidak menyadari inti dari cerita atau kejadian diatas di karenakan EKSISTENSI MATERI dan NUBUATAN tidak dijabarkan.
Apa yang Anda lihat lagi disini?
Menebus berarti membeli balik dengan membayar harga yang sesuai.
Dan dari makna asli ayat diatas, kita mencatat gambaran bahwa harga yang sangat luar biasalah yang harus dibayar oleh Tuhan (!) bagi sebuah penebusan untuk anak Ibrahim. Itu adalah satu sosok kurban dengan segala kebesaran, keagungan, kemuliaan, kedahsyatan, keperkasaan ‘azhiim’ yang amat besar nilainya yang ditamzilkan Allah sebagai Penebus untuk men-substitusikan kematian semua anak-anak Ibrahim kelak (karena dia Bapak bangsa-bangsa orang beriman). Sedemikian besar harga sosok kurban itu sehingga pewahyuan Quran HARUS memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung). Selama pakar Muslim mengkotakkan sosok tersebut secara harafiah hanya sebagai seekor binatang tambun, mereka tidak mampu memahami masalah masalah detail berikut ini:
(a) Apa perlu-perlunya sang anak itu disuruh dibunuh lalu ditebus oleh Allah agar memiliki sang anak kembali?
Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah tak perlu memerintahkan pembunuhan (nabi membunuh anak calon nabi!). Ada sejuta cara lain yang halal pada Mahatahunya Allah dan yang tidak menjadi batu sandungan. Dan bila hanya sekedar untuk testing, cukup Ibrahim melepaskan anaknya tanpa usah tebusan kurban, bukan? Ujian iman serentak telah berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim “STOP, jangan bunuh anakmu!”
(b) Dan kenapa Allah memerlukan kematian-kurban? Apakah anak Ibrahim itu bersalah sehingga ia harus dibunuh, lalu harus pula ditebus?
Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Bukankah hal itu yang justru diperlukan oleh SETAN? Itulah. Kematian kurban ini adalah gambaran tamzil dari kematian seorang Al Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang sudah diniscayakan kepada setiap manusia berdosa (Qs.19:71, Roma 6:23, Kejadian 2:17) karena semua manusia itu berdosa. Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum Kasih Tuhan kini dapat berkata, “Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).
Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Maha-kasih (yang akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa hakekat diriNya yang Maha-adil?
Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi Non-Adil; dan ketika Ia menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi Non-Kasih. Ketegangan (“kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban sebagai Penebus – pembayar harga kematian – yang mempertemukan Keadilan Tuhan dengan Kasih Tuhan! Kini Ia tetap Maha-adil ketika mengampuni dalam kasihNya, karena Tuhan sendiri telah membayar harga keadilan itu lewat kematian Al Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam dunia! Anda dan saya yang berdosa – ditamzilkan sebagai anak Abraham yang harus mati/disembelih, namun kita diselamatkan Tuhan dengan sebuah tebusan Anak Domba Tuhan yang mahal yang diperlambangkan oleh Yesus Mesias sebagai korban penyaliban. Agar perlambangannya absah dan tidak nyeleweng, maka Nabi Yahya sengaja diutus mendahului Yesus demi untuk mengkonfirmasikan hal tersebut. Itu terjadi ketika Yesus datang menghampiri Nabi Yahya secara fisik, dan Yahya pun berseru:
“Lihatlah Anak Domba Tuhan (Yesus), yang menghapus dosa dunia.” (Yoh.1:29).
Sosok Kurban Anak Domba itu (akan disediakan Tuhan) sebagai pengganti sang anak yang harus mati (ayat 13 berkaitan ayat 8 & 14). Istilah “akan” disini sengaja dipakai Tuhan demi menunjukkan pula akan nubuat yang kelak akan terjadi atas apa yang sudah terjadi dalam tamzilan kasus Abraham ini! “Anak Domba Tuhan” yang ‘azhiim” itulah yang kelak akan dikurbankan disalib untuk menebus kematian “anak-anak Abraham” yang telah berdosa dan terkutuk kematian.
(c) Andaikata tebusan bagi sang anak itu hanya harfiah seekor binatang, kenapa si penebus (binatang) justru dianggap bernilai sangat “agung-mulia-dahsyat-mahal-perkasa-hebat” ketimbang yang ditebus-nya (manusia)?
Tak ada jawaban, kecuali itu adalah Sang Penebus!
Itulah kematian-kurban yang sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, seperti yang telah dibicarakan dimuka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban Anda dan saya jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah dihari raya Haji? Korban semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai sosial dan religi.
Kata Anda :
“1. Masalah Penyebutan Nama sang KURBAN
Sebagai Muslim anda harus berpegangan total dgn Quran, betul atau tidak? yang menjadi jawaban anda haruslah dari Quran…betul? terbukti penulis menulis ada beberapa Hadits yang saling bertentangan??
Jikalau DIA adalah ALLAH yang Sejati…. Mungkinkah DIA mengalami “GAGAL dan LUPA” apa yang di Firmankan-Nya? Bukankah Quran dan Hadits harusnya saling mendukung?
- Di dalam Quran Adakah Nama ISMAIL disebut oleh Sang Khalik???
Sedangkan di dalam ALKITAB tertulis :
- Setelah semuanya itu Elohim menguji Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan” (respon balik Abraham). Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:1-2)
- Dengan Jelas Nama ISHAK itu di sebut ALLAH Sang Khalik”
Jawab :
Memang dalam Al-Qur’an tidak disebutkan nama anak Ibrahim yang dikurbankan, tetapi sangat jelas siapa yang dimaksud anak tersebut dari ayat iAs-Shofat itu sendiri dan ayat-ayat yang lain.
Saya kira argumentasi si penulis sudah amat jelas :
1. Pada ayat ke 112 Allah berfirman :
Di dalam ayat ini terdapat huruf و (wauw) ‘Athf litartibi wa litisholi, maknanya, huruf wauw yang menghubungkan dua peristiwa yang berbeda, secara berurutan sesuai tertib/urutan waktunya, yaitu peristiwa pertama tentang penyembelihan anak Nabi Ibrahim as yang telah dewasa yaitu Nabi Ismail as dan dilanjutkan dengan peristiwa kedua, yaitu kelahiran Ishaq as.
2. Dasar yang menetapkan bahwa anak itu Ismail as. adalah kalimat عليه di ayat 113
kata عليه di sini adalah milik Nabi Ismail dan bukan Nabi Ibrahim, mengapa demikian, karena pada kelanjutan ayat Allah berfirman : Dzurriyati hima
dhamir هِـمَا adalah milik Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah saudara seayah, sehingga anak cucu mereka yang disebut Allah, bukan anak cucu Ibrahim dan Ishaq, karena keduanya adalah bapak beranak, jadi yang tepat adalah anak cucu Ibrahim dari putra beliau Ismail dan Ishaq.
Coba perhatikan jawaban anak Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan itu pada ayat 102:
Ia menjawab: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar ( من الصبرين )
Di dalam Alquran, nabi yang memiliki predikat khusus sebagai (الصبرين) hanya 3 orang, yaitu :
Nabi Ismail
Nabi Idris
Nabi Dzulkifli
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al -Anbiya’ :85)
Jadi jelaslah, bahwa Alquran telah menunjukkan hujjah yang terang, bahwa anak Nabi Ibrahim as yang hampir disembelih adalah Nabi Ismail as.
Dalam ayat-ayat selanjutnya mengisahkan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail tentang perintah penyembelihan Ismail, dan beliau berdua berhasil melalui ujian yang nyata tersebut dengan amat sabar, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar .
Setelah al-Qur’an mengisahkan kisah antara nabi Ibrahim dengan putranya Ismail, dalam ayat selanjutnya yaitu QS. As-Shaffat:112 Al-Qur’an mengisahkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kabar baik akan datangnya seorang anak lagi yang bernama Ishaq :
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. As-Shaffat:112)
Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa kabar gembira akan lahirnya Ishaq adalah setelah kisah kabar gembira akan lahirnya Ismail dan kisah perintah penyembelihannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an menyatakan Ismail-lah yang akan disembelih bukan Ishaq.
Kata Anda:
2. Masalah Komunikasi dan Ketegasan atau Kejelasan Perintah Menyembelih
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Latar belakang Jaman para Nabi saat itu adalah Sang Khalik sering berbicara kepada para Nabi melalui “MIMPI” atau perintah langsung melalui suara Sang Khalik atau melalui perantara Malaikat.
Terjadi Komunikasi dua arah antara ALLAH Sang Khalik dan Nabi.
- Di dalam surah Quran tersebut tidak adanya hubungan komunikasi 2 arah antara TUHAN dgn nabinya??? hanya memanggil “Hai Ibrahim” dapatkah dipastikan itu suara-Nya??? lalu tidak ada sahutan daripada Ibrahim.
- dan di dalam surah Quran yang sama pula tidak ada perintah untuk menyembelih anak, melainkan hanya menjelaskan “membenarkan mimpi?” Apakah dapat dipastikan itu mimpi dari Sang Khalik???? menyeramkan….. mimpi menyembelih anak??? ckckckckckk…tragisssss…
apakah mimpi itu terdapat perintah??? “TIDAK!!”
-Sedangkan di dalam Alkitab – Komunikasi antara nabi dengan TUHAN nya juga jelas :
“Setelah semuanya itu Elohim menguji Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.’
Abraham merespon panggilan TUHAN dan mengetahui bahwa yang memanggil saat itu adalah TUHAN nya. “YA, Tuhan” jawabnya.
-dan juga ada “Perintah” dari Sang Khalik kepada Abraham Jelas.
“Firman-Nya : Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
Tidak ada Hal yg tersembunyi dari pada ALLAH pemilik manusia…. Sang Maha Kuasa dengan jelas dan tegas dalam hal memberi petunjuk bahkan melalui mimpi sekalipun dan Sang nabi dengan jelas dapat menceritakan maksud daripada mimpi tersebut.
Serta terjadi Komunikasi yang baik antara ALLAH dgn Nabi.
Halah itukan Igauan anda saja, Allah berfirman sesuai kehendak-Nya dengan firman yang singkat tetapi padat berisi dalam menceritakan suatu kejadian yang diharapkan siapa saja yang membaca-nya dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut, tidak panjang dan bertele-tele seperti permintaan anda itu hehehe.. Emangnya mau bikin cerpen? kalau pengen yg kayak gitu, baca saja perjanjian lama anda atau yang lebih seru perjanjian baru Anda, dimana yang cerita bukan Yesus tetapi Markus, Lukas, Matius, Yohanes itu kan selevel dengan hadits, hadits masih mending ada sanad dan rawi-nya yang jelas hehehe.
Kata Anda:
5. Masalah Ketegasan TUHAN sebelum peristiwa penyembelihan
Apakah ada perintah larangan dari ALLAH kepada Ibrahim untuk menghentikan tindakkannya ketika siap menyembelih anaknya??
Lagi-lagi TIDAK ADA perintah di dalam Quran!!!! melainkan ;
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Suara Tuhan dalam suasana genting berseru untuk menghentikan tindak peneyembelihan: “Abraham, Abraham (2 kali).… Jangan bunuh… Jangan kauapa-apakan…”, ini diganti menjadi suara Allah SWT yang memanggil nama Abraham (1 kali saja), tidak ada urgensi dan perintah STOP yang melarang penyembelihan! Melainkan hanya berfirman umum yang tidak genting: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya …., sesungguhnya…”. 3X “sesungguhnya” yang diucapkan Allah secara boros diluar konteks malah menjadikannya “tidak sungguh”!
Ujian apa? balasan apa? mimpi apa??? ckckckck ga jelas!!! allah yg ga jelas dan ga tegas!!!!
- ALKITAB secara tegas dan jelas :
Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: ”Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”
22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
Dengan jelas di ayat ALKITAB tersebut ABRAHAM TAAT terhadap perintah TUHAN nya, dengan jelas bahwa ABRAHAM ber IMAN kepada TUHAN bahwa ABRAHAM yakin TUHAN adalah TUHAN yang tahu dan mampu menyediakan kebutuhan dirinya dan tahu akan segala pemikiran dan pergumulan dirinya. (baca kisah ABRAHAM). dan sekali lagi ABRAHAM ber IMAN bahwa TUHAN mengasihi dirinya dan anaknya ISHAK yaitu dengan cara membelanya “Jangan kau bunuh anak itu”… ckckckckk…sungguh ALLAH Yang Luar Biasa dan Maha Pengasih.
6. Masalah Tindakkan TUHAN terhadap korban persembahan
tidak seperti pada Alkitab, ayat ini muncul tanpa konteks jelas yang mendahuluinya. Tiba-tiba saja ayat ini muncul berbicara tentang peran satu kurban sembelihan teramat besar yang Allah jadikan penebus atas kematian anak Ibrahim:
“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar”
(Wa fa dainaahu bi dzibhin ’azhiim”).
Maksudnya apa?????????????????
Jawab:
Hehehe… ngapain harus menyetop kayak gitu, bukankah Allah Maha Kuasa, dengan kuasa-Nya Dia dengan mudah mengganti Domba dengan sekejap mata ga usah repot2 harus menyetop segala hahaha… kalau mau baca Novel, Cerpen atau Cerbung jangan baca Al-Qur’an dech Mas hahaha.. semakin lama membaca komentar anda semakin geli saya …
@ west:
Memang duluan Al-Kitab, dan Al-Qur’an mengakuinya, sayangnya Al-Kitab sudah diotak-atik oleh tangan-tangan jahil manusia dari kalangan yahudi sehingga tidak otentik lagi, maka Al-Qur’an lah sebagai kitab terakhir yang mengkoreksi dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.
Memang benar Nabi-nabi banyak diutus dari kalangan bani Israel tetapi sayang Bani Israel tidak mensyukurinya bahkan sering melanggar perintah Allah sehingga kemudian Allah mengutus Nabi terakhir dari keturunan Ismail yaitu Nabi Muhammad SAW. Itulah fakta sejarah yang ada, sekarang Islam telah menyebar dari timur ke barat dengan kecepatan yang tidak bisa dicapai oleh kaum Yahudi maupun Nasrani ketika menyebarkan agama mereka, maka terima saja fakta yang ada.
Open your mind & your heart, pikirkan saja semuanya dengan jernih, dan tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda sekarang ada di jalan yang benar dengan menyembah manusia yang bukan Tuhan. Mumpung anda masih dikaruniai akal untuk berpikir, mumpung anda masih diberi kesempatan untuk hidup. Jangan buang waktu hidup anda dengan sia-sia.
Semoga Allah memberi hidayah kepada anda.
@:
Buktikkan tuduhan anda mengenai Alkitab yg diotak-atik oleh tangan jahil?? silahkan bawa ke forum international!! dijamin pasti anda langsung tenar….
Apa yg dikoreksi dan disempurnakan Quran??? kitab2 mana yg anda maksud??
“Memang benar Nabi-nabi banyak diutus dari kalangan bani Israel tetapi sayang Bani Israel tidak mensyukurinya bahkan sering melanggar perintah Allah sehingga kemudian Allah mengutus Nabi terakhir dari keturunan Ismail yaitu Nabi Muhammad SAW. Itulah fakta sejarah yang ada.”
Itu kan menurut iman anda….menurut dugaan anda..betulkan??? tapi menurut iman bangsa israel??? adakah bangsa tersebut sampai saat ini memeluk islam??? maaf-maaf…. apakah anda tahu sejarah para nabi?? untuk apa mereka ada? hihihihihi….. silahkan bercermin dan selamat membaca…
Maaf…pikiran saya sudah jernih…. dan sudah tentu berada di jalan yang benar sebab YESUS adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Sekali lagi Saya tidak menyembah manusia! saya menyembah TUHAN yang hidup dan akan datang kembali pada hari kiamat!! saya lebih percaya YESUS itu TUHAN daripada mempercayai kepercayaan anda!
btw kira2 nabi junjungan anda berada di mana yah??
kata anda :
Buktikkan tuduhan anda mengenai Alkitab yg diotak-atik oleh tangan jahil?? silahkan bawa ke forum international!! dijamin pasti anda langsung tenar….
Beberapa contoh yang nyata sudah di uraikan oleh penulis di atas:
dalam Kejadian 21:14-21 digambarkan seolah-olah Ismail masih seorang bayi yang digendong dibahu ibunya, kemudian Ismail yang menurut kitab Kejadian sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah semak-semak (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18).
Masa iya sih Hagar harus menggendong seorang anak laki-laki “dewasa” yang berusia 16 tahun, apa tidak terbalik seharusnya Ismail yang menggendong Hagar ?
Kejanggalan pertama
Kejadian pasal 22 ini mengisahkan seolah-olah Ishak berada di Bersyeba. Padahal tidak ada anak Ibrahim yang berdomisili di Bersyeba. Ishak dan ibunya justru tinggal di Hebron. Sedangkan yang pernah ke Bersyeba hanya Hagar dan anaknya Ismail.
Kejanggalan Kedua
Setelah selesai ritual, pada Kejadaian 22:19 Ibrahim dan Ishak pulang ke Bersyeba. Jadi seolah-olah Sarah berdomisili di Bersyeba. Padahal Taurat mencatat Sarah berdomisili di Hebron hingga wafatnya (Kejadian 23:1-2).
Kesimpulannya :
Seandainya Ishak yang disembelih, seharusnya Kejadian pasal 22 menceritakan kepulangan Ibrahim ke Hebron, tempat tinggal Sarah, untuk membawa Ishak yang hendak dikurbankan. Kemudian setelah acara ritual pengurbanan selesai, mestinya Ibrahim mengembalikan Ishak kepada ibunya di Hebron. BUKAN DI BERSYEBA. Kedengkian pendeta Yahudi mengedit taurat sudah terlalu jelas didepan mata. Pendeta Yahudi mengedit nama tempat Paran (lokasi tempat tinggal Ismail) menjadi nama tempat tinggal Ishak. Namun pendeta Yahudi terburu-buru mengedit Paran menjadi Bersyeba, padahal harusnya Hebron. Serapat-rapatnya menutupi kebenaran akhirnya ketahuan juga, itulah perumpamaan untuk pengedit Taurat.
Di atas adalah sedikit dari bukti ketidak otentikan Al-Kitab yang anda pegang sekarang. Demi mengganti anak yang dikorbankan dari Ismail menjadi Ishak , pendeta Yahudi berani mengedit kitab suci mereka, tetapi sayangnya ketahuan.. hahaha
@ moderator :
Kajian secara teliti dan jujur, baik berdasarkan Alqur’an, Bible dan Talmud akan diperoleh kesimpulan yang sama bahwa putra nabi Ibrahim yang dikorbankan adalah Ismail as bukan Ishaq as seperti yang diaku-aku oleh orang-orang Yahudi dan Kristen selama ini. Penyebutan nama Ishaq dalam Bible dan Talmud secara tata bahasa berkualitas sebagai sisipan para penulis kitab karena kedengkiannya, mari kita kaji secara ilmiah dan obyektif.
@:
Gile kali yah…. kajian teliti dan jujur??? berdasarkan apa??? berdasarkan Alqur’an, Bible dan Talmud???
itu namanya klaim sepihak brur!!!
wakakakakak…geli banget gw bacanya…slim…slim…sebelum quran lo nongol udah tertulis tuh cerita!! dodol apa bego sih??
buktikkan kalo penulisan kata Ishak itu sisipan…silahkan bawa Manuskrip aslinya dan perliharkan di media!!! jgn cm bisa berkoar2 di blog!! knp takut yah??? ga sanggup yah??? mau bikin fitnahan apalagi???
Jelas2 Quran ga bisa buktiin inti daripada cerita Ibrahim!!!
mau membahas ttg ISHAK??? tuduhan anda ttg Ishak bukan anak tunggal ngaco brur!!!!
makanya baca keseluruhan kitab cerita abraham dunk!!! lagi2 klaim sepihak!!
anda tahu ga bung??!! Ishak adalah anak tunggal yang sah dari isteri yang sah dan diberkati mulai proses penjodohan sampai pernikahan. semua proses itu disaksikan orang tua sekaligus Tuhan Semesta Alam! Sara adalah Majikan budak seperti Hagar!!!
Hagar??? cuma budak..oleh karena Sara tidak sabar memiliki anak diberikannya Hagar budaknya kepada Abraham agar mendapat anak!! sah kah??? cuma orang goblok yg jawab sah!!!
Siapakah anak tunggal Abraham dari pernikahan yang sah? dialah ISHAK dari isteri yang sah Sara. Bahkan Tuhan Semesta Alam pun yang merancangkan segalanya.
kalo Copas Ayat Alkitab secara keseluruhan dunk…Alkitab terbuka dan jujur koq…ceritanya lengkap dan ga sepotong2 ga jelas!!!
Cerita Abraham tidak berhenti sampai di abraham bung!!! ga seperti di kitab lo!! cerita abraham merupakan salah satu cerita nubuatan yang dirancang TUHAN Semesta Alam untuk sampai diujung rancangan-Nya yaitu YESUS.
Kata Anda:
anda tahu ga bung??!! Ishak adalah anak tunggal yang sah dari isteri yang sah dan diberkati mulai proses penjodohan sampai pernikahan. semua proses itu disaksikan orang tua sekaligus Tuhan Semesta Alam! Sara adalah Majikan budak seperti Hagar!!!
Hagar??? cuma budak..oleh karena Sara tidak sabar memiliki anak diberikannya Hagar budaknya kepada Abraham agar mendapat anak!! sah kah??? cuma orang goblok yg jawab sah!!!
Siapakah anak tunggal Abraham dari pernikahan yang sah? dialah ISHAK dari isteri yang sah Sara. Bahkan Tuhan Semesta Alam pun yang merancangkan segalanya.
Jawab:
Maaf pemilik Blog saya balas komentar orang yang ngatain orang lain bego padahal nyatanya dia sendiri yang pantes disebut bego hehehe
Apa orang ini tidak baca kitab-nya sendiri ya :
Kejadian 21:13
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu”
Lagian yang namanya anak itu mengikuti nasab bapaknya bukan ibunya, jadi Ismail adalah anak sah Ibrahim dari benih Ibrahim, orang bego saja yang bilang tidak sah
000 tuhan pilih kasih ya??? baru tauu tuuuh
hiduuup israaael hidup pembenci dan pembunuuh yesuuus
sodara2 ngapaen si kita saling menghujat,kita sm2 manusia ciptaan Tuhan.yg berhak n tau pasti suatu kebenaran itu cm Tuhan.imani lha kepercayaan masing2.
@joni: bro loe kan org indonesia kan,tau donk negara kita punya 5 agama? dgn u menghujat kyk gitu. apa u pikir itu suatu cermin ajaran agama u?apa agama tdk mengajarkan umat nya utk mengasihi sesama?perbedaan pendapat si fair aja.cuma dgn pkran yg jernih n hati yg tenang.bkn dgn perkata yg menghujat. salah2 org diluar agama u berpkr jelek ajaran agama u.
@nehemia n west : kita ga ush saling mengklaim siapa yg bnr or salah. biar Tuhan yg menentukan nya. ga ush kita berusaha menafsirkan sndr alkitab maupun alquran.kita manusia biasa yg kemampuan terbatas.agama itu di imani. dgn saling menghujat antara sesama itu artinya dosa. tidak ada 1 pun manusia yg berhak menghakimi,menghujat sesama nya.yg berhak cuma TUHAN YANG MAHA ESA.
Cerita gak bermutu, sejarah mencatat bahwa Yahudi dan Kristen lebih awal dari pada Islam (Agama Setan), masa Islam tahu tahuan tentang sejarah sejarah Nabi…? Ini seperti anak itik yang petantang petenteng didepan Ikan Hiu…? Bocah kemarin sore sok lebih tau dari para Guru… Kalau memang Yahudi mengotak atik isi Kitab suci, memangnya mereka tau bahwa Islam akan ada…? Jangan jangan Agama setan ini yang senang memutar balikkan sejarah kehidupan…?
Sukro, komentarmu itu yg sama sekali tidak bermutu. Islam mengakui ajaran nabi Musa dan nabi Isa (Yesus) adalah benar, tetapi ajaran yg asli bukan ajaran si Paulus yg skrg dianut umat kristen saat ini. Juga Islam mengakui Taurat dan Injil, tetapi kitab yg asli bukan kitab PL dan PB yg sdh dicampuri oleh tangan2 manusia.
Diman-mana yg terakhirlah yg sempurna. Sejarah telah membuktikan bahwa ternyata Allah mengutus banyak Nabi dan Rasul, ini menunjukkan bahwa wahyu tdk berhenti pada Musa yg diklaim Yahudi, krn ternyata Allah kemudian mengutus Daud, Sulaiman sampai Yesus. Dan ternyata tdk berhenti pada Yesus, tetapi Allah mengutus Nabi terakhir yaitu Muhammad SAW.
Semoga memberi petunjuk kpd kamu.
Dalam Al-Qur”an tidak ada agama kristen.yang ada Nasoroh (nasrani) yang kitab nya Injil.jadi kalau agama kristen itu buatan paulus orang yahudi yang diedit dari taurat.sadarilah hai kristiani,kalian kena tipu oleh paulus dimana injil yang kalian anggap benar ternyata isinya kontradisi anrtara ayat ayatnya.