Pada kesempatan ini kita akan banyak membahas tentang kaum munafik di masa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdasarkan berita dari Al-Qur’an, Sunnah dan atsar sahabat, sehingga diharapkan akan memberikan gambaran lebih jelas kepada kita mengenai kaum munafik tersebut dan sekaligus dapat menepis syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh kaum syi’ah rafidhah. dan bahwa agama Islam bersih dari campur tangan kaum munafik.
Sebenarnya di dalam Al-Qur’an telah dengan jelas membedakan antara kaum munafik dan kaum mukminin (sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam) dengan ayat-ayat yang diturunkan-Nya. Mengapa kita katakan bahwa kaum mukminin adalah sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam? Ya karena tidaklah mungkin Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam menjadikan kaum munafik menjadi sahabat beliau dalam mempertahankan dan menegakkan dienul Islam. Jika ada yang tidak setuju dengan hal ini berarti dia telah menghina Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.
Kaum Munafik adalah kelompok minoritas yang terhina
Kaum Munafik belum muncul pada periode Mekkah, Kaum Munafik mulai muncul setelah kaum muslimin berhasil mengalahkan kaum kafir Quraisy di perang Badar, yang sebelum itu mereka termasuk orang kafir di Madinah, pentolan mereka adalah seorang yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang penduduk Madinah yang hampir dinobatkan menjadi pemimpin di Madinah tetapi gagal karena kedatangan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam dan akhirnya terpaksa masuk Islam karena kaum Muslimin menang dalam perang Badar. Hal ini juga membuktikan bahwa dalam perang Badar tidak ada kaum munafik yang turut serta, karena memang kaum munafik belum ada saat itu, yang ada kafir atau mukmin. Dan tentunya kemunculan kaum munafik setelah kemenangan Islam di perang Badar ini membuktikan bahwa jumlah mereka masih di bawah jumlah kaum muslimin dan kekuatan mereka di bawah kaum muslimin, karena jika sebaliknya tentu tidak ada yang menghalangi mereka untuk menyerang kaum muslimin saat itu.
Allah Menyingkap Kedok Kaum Munafik
Al-Qur’an al-Karim menyingkap kedok orang-orang munafik dengan menyebutkan perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap mereka, hingga seakan-akan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabatnya melihat mereka bahkan mengenali mereka :
Allah berfirman:
Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka Katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (at-Taubah:83)
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (at-Taubah:84)
Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘uzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: “Janganlah kamu mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (at-Taubah:94)
Contoh ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa beliau mengenali mereka. Sebab bila tidak, bagaimana beliau melaksanakan perintah-perintah Allah terhadap orang yang tidak dikenalinya? Bagaimana beliau tidak mengizinkan orang yang tidak dikenalinya? Bagaimana beliau menolak menshalati orang yang tidak dikenalinya? Bagaimana beliau mengatakan kepada orang yang tidak dikenalinya, “Kami tidak percaya kepada kamu”?.
Allah berfirman :
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin) (at-Taubah:107)
Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. (at-Taubah:64)
Ayat-ayat tersebut terdapat dalam surat At-Taubah, dan ia termasuk surat di dalam Al-Qur’an yang turun terakhir. Allah telah mengancam akan menampakkan kemunafikan dan perbuatan yang mereka sembunyikan.
Allah Menguji Kaum Munafik dan menyisihkan dan membedakan mereka dari Kaum Mukmin
Cobaan berturut-turut yang dihadapi dakwah Islamiyyah di Madinah mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menyingkap hakekat orang-orang munafik di mana mereka bukan kelompok misterius di mata umat, melainkan kelompok minoritas yang terhina yang telah Allah hina di dunia ini dan Allah singkapkan tabir mereka bagi umum.
Dimulai dari perang Uhud Allah berfirman mengenai tingkah laku kaum munafik :
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.”(Ali-Imran:167-168)
Perang Uhud adalah ujian pertama Allah untuk menyingkap kedok kaum munafik, dan mereka adalah yang tidak turut serta dalam peperangan Uhud tanpa ada uzur.
Dan dari ujian pertama ini sekaligus Allah melakukan pemisahan antara orang-orang munafik dan orang-orang yang beriman. Allah berfirman :
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (Ali-Imran;179)
Dalam perang Ahzab terlihat jelas sikap orang-orang mukmin dan orang-orang munafik.
Orang-orang mukmin berkata, seperti disinyalir firman Allah tentang mereka:
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzab:22)
Sedangkan orang-orang munafik, keadaan mereka seprti disinyalir firman Allah :
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.”
Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (At-Taubah:12-13)
Maka ujian telah menyingkap hakikat mereka dan menampakkan kemunafikkan mereka kepada umum.
Dalam perang Tabuk, orang-orang munafik telah berbuat ingkar, mereka berkata kepada sahabat : “Janganlah kamu sekalian berangkat berperang dalam panas terik!”, Namun para sahabat tidak menghiraukan seruan tersebut, mereka tetap berangkat meskipun mereka sukar mendapatkan bekal dan air dan walaupun panas matahari menyengat mereka pada hari itu. Ini menandakan tebalnya iman mereka kepada Allah dan kepercayaan penuh akan janji-Nya.
Allah berfirman tentang orang-orang Munafik:
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (At-Taubah:81-82)
Allah berfirman tentang orang-orang Mukmin:
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Allah telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:88-89)
Ujian-ujian ini tidaklah sedikit dan jarang terjadi, bahkan dalam setahun terjadi sekali atau dua kali. Semuanya berkisar dalam upaya penyingkapan dan pemisahan.
Allah berfirman:
Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (At-Taubah:126)
Lalu dimanakah posisi orang-orang yang menarik diri dari medan peperangan dari orang-orang yang berhijrah dan berjihad dengan harta dan diri mereka pada jalan Allah atau posisi mereka dari orang-orang yang berjuang dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya?
Dan dimanakah pula posisi orang-orang yang ditelantarkan sejarah dari peristiwa-peristiwa besar dan penting? Mereka hanya diam dan berpangku tangan bahkan suka berbuat kekacauan. Lain halnya dengan para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dari Muhajirin dan Anshar, mereka telah mengukir sejarah Islam dengan darah-darah mereka. Diantara mereka ada yang gugur di jalan Allah sebagai Syuhada’ dan diantara mereka ada yang tetap hidup dan mendapat kemuliaan dari Allah.
Allah Menyingkap Hakekat Kaum Munafik Dari Kiasan dan Perkataan Mereka
Jikalau cobaan dan ujian mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menyingkap hakikat orang-orang munafik, maka salah ucap dan kiasan perkataan mereka juga mempunyai pengaruh yang sama dalam menyingkap kebusukan dan rahasia yang tersembunyi di dada mereka.
Allah berfirman:
Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (Muhammad:30)
Ketika sebagian Muhajirin dan Anshar saling berebut mengambil air sumber, pada saat itu pulalah Abdullah bin Ubay tidak mampu menutupi kedengkiannya, bahkan ia sempat mengucapkan kata kufur seperti yang direkam ayat Al-Qur’an berikut ini.
Allah berfirman:
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (Al-Munafiqun:8)
Yang lain berkata: “Saya tidak menganggap mereka sebagai ahli-ahli ibadah, kecuali hanya sekedar pengakuan lisan”. Kemudian hal tersebut dikabarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Setelah orang tersebut mengetahui bahwa Rasulullah telah dikabarkan, segera ia datangi Rasulullah dengan menunggang keledainya, seraya berkata : “Hai Rasulullah! kami hanya bergurau dan main-main. Lalu, Rasulullah membaca ayat Al-Qur’an:
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At-Taubah:65-66)
Kedua kaki orang tersebut tersandung batu. Dan ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menoleh ke arahnya, langsung saja ia bergantung pada pedang beliau. Demikianlah cara Allah menyingkap kejelekan orang tersebut dengan perkataan ini serta merekamnya dalam Al-Qur’an, yang akan dibaca sepanjang abad.
Maksudnya, bahwa hamba manapun yang menyembunyikan suatu rahasia, pasti akan ditampakkan oleh Allah rahasia tersebut lewat raut wajah atau kekeliruan lisannya. Dan mereka yang menyembunyikan kemunafikan, telah Allah keluarkan kedengkian mereka serta Dia tampakkan kedengkian mereka lewat raut wajah dan kekeliruan lisan mereka sendiri. Hal mereka ini tidak dapat ditutup-tutupi kepada siapapun.
Lalu, dimanakah posisimereka yang jelas-jelas telah Allah tetapkan hakikat iman mereka, dan Dia sifati dengan kejujuran dan kebenaran serta Dia pastikan bagi mereka kemenangan, kebahagiaan, rahmat dan keridhaan daripada-Nya? Mungkinkah disamakan antara mereka yang mendapat pengakuan kufur dan kemunafikan dari Allah dan mereka yang Dia tetapkan hakikat Imannya. Jawablah wahai orang-orang yang berakal!.
Metode Mu’amalah (Bergaul) Dengan Orang-Orang Munafik Berbeda Dari Yang Lain
Allah Azza wa Jalla telah membuat suatu metode tentang mu’amalah dengan golongan munafik, yang berbeda dari metode yang Dia tetapkan dalam mu’amalah antara sesama mukmin yang benar.
Allah memerintahkan agar berlaku keras terhadap mereka
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah:73)
Allah menghilangkan (menghapus) unsur kasih sayang dalam bermu’amalah dengan mereka dan Dia memerintahkan agar memperlakukan orang-orang mu’min dengan lemah lembut dan merendahkan diri.
Allah berfirman:
dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (Asy-Syu’ara’:215)
Allah memberitahu bahwa kaum munafik bukanlah orang-orang yang berhak dimohonkan ampunan.
Allah brfirman:
Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At-Taubah:80)
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Al-Munafiqun:6)
Sedangkan untuk kaum mukminin, Allah memerintahkan beliau untuk memohonkan ampun bagi mereka
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (Muhammad:19)
Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah:12)
Allah melarang untuk menshalatkan seseorang dari kaum munafik yang mati atau berdiri di atas kubur-nya.
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (at-Taubah:84)
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tidak pernah menyembahyangkan orang munafik serta berdiri di kuburnya setelah ayat ini turun. Tetapi sebaliknya bagi kaum mukmin, beliau selalu menshalatkan mereka.
Allah melarang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam untuk menemani sebagian mereka dalam perang atau membolehkan mereka untuk berperang.
Allah berfirman:
Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka Katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (at-Taubah:83)
Sedangkan orang-orang mukmin dianjurkan untuk berperang dan berjihad, seperti difirmankan Allah:
Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya). (An-Nisaa’:84)
Pemisahan antara kedua metode ini dimaksudkan untuk membedakan kedua golongan tersebut.
Golongan kaum munafik adalah golongan yang terkalahkan dan Agama ini bersih dari tangan-tangan mereka atas Jaminan Allah Azza wa Jalla
Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. (Al-Ahzab:60-61)
Ayat di atas adalah ancaman dari Allah bagi kaum munafik, jika mereka tidak berhenti dari kemunafikan dan usaha mereka mengganggu rasul-Nya, Allah akan memerintahkan rasul-Nya untuk bertindak terhadap mereka, baik dengan mengusir atau membunuh mereka, tetapi ternyata Allah tidak memerintahkan demikian kepada rasul-Nya, yang artinya kaum munafik telah menghentikan aktifitas negative mereka dan mereka tidak lagi berbahaya bagi umat Islam.
Allah berfirman:
Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (At-Taubah:48)
Ayat di atas adalah jaminan dari Allah bahwa tipu daya kaum munafik telah mental atas pertolongan Allah dan Allah telah memenangkan agama-Nya. Sehingga tidak ada hujjah bagi orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit untuk menuduh bahwa Islam yang datang dan menguasai dunia beberapa abad tercampuri oleh tangan-tangan munafik.
Blockade terhadap orang-orang munafik terus dilancarkan oleh masyarakat Islam saat itu. Mereka (orang-orang munafik) merupakan golongan yang dipojokkan dan tidak diberi kesempatan untuk menduduki tahta kepemimpinan. Mereka tidak pernah memperoleh kemenangan. Mereka adalah golongan yang diterlantarkan begiru saja serta selalu dihina oleh pasukan Mujahidin yang benar.
Lalu, bagaimana mungkin posisi semacam ini berubah secara drastic seperti yang dipretensikan oleh orang-orang yang licik (orang-orang yang ingin mengambil keuntungan tertentu), bahwa mereka (orang-orang munafik) adalah pemimpin-pemimpin umat, penegak hukum dan pembaharu, yang mengatur semua masalah dan yang memutuskan setiap perkara menurut kehendaknya sendiri?
Kapankah itu terjadi? Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam wafat dan sebelum jasad beliau diantarkan ke kubur? Apakah kaum muslimin pernah menyaksikkan dusta yang paling buruk melebihi dusta mereka yang berpretensi demikian? Laknat Allah pasti diperuntukkan bagi para pendusta.
Nasib Orang-Orang Munafik Sepeninggal Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam
Telah dipaparkan sebelumnnya bahwa Allah mengancam orang-orang munafik bila mereka tidak mau berhenti, akan mendorong rasul-Nya untuk mengusir mereka atau mereka akan dibunuh. Manakala dorongan dan pemunuhan tersebut tidak terjadi, maka diketahuiah bahwa mereka telah berhenti, bisa jadi diantara mereka ada yang bertaubat, binasa atau terhinakan. Berikut ini adalah beberapa atsar dari sahabat Hudzaifah yang hidup sampai tahun 36H.
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ الْأَحْدَبِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ الْيَوْمَ شَرٌّ مِنْهُمْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا يَوْمَئِذٍ يُسِرُّونَ وَالْيَوْمَ يَجْهَرُونَ
Bukhari, 72.55/6580. Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil Al Ahdab dari Abu Wa`il dari hudzaifah bin Yaman mengatakan; ‘kaum munafikin hari ini jauh lebih buruk daripada mereka yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab dahulu mereka sembunyi-sembunyi, namun sekarang mereka lakukan secara terang-terangan.’
Al-Firyabi dengan sanad-nya, dari Hudzaifah, ia berkata, “Orang-orang munafik yang berada di tengah-tengah kalian sekarang ini lebih buruk daripada orang-orang munafik yang dulu hidup di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam”. Lalu kami berkata, “Wahai Abu Abdillah, bagaimana itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang munafik di masa Rasulullah) menyembunyikan kemunafikan mereka, sementara mereka (orang-orang munafik yang berada di tengah kalian) menyatakan secara terang-terangan”. (Shifah al-Munafiq, No. 53 dan Ibnu Abi Syaibah, 15/109)
Disini ada isyarat bahwa orang-orang munafik pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam telah berakhir, orang-orang munafik setelah itu adalah orang-orang yang menyatakan kemunafikannya secara terang-terangan sehingga terindikasi mereka telah dikenali dari keterusterangan mereka tersebut. Atau atsar berikut ini menjelaskannya:
حَدَّثَنَا خَلَّادٌ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ إِنَّمَا كَانَ النِّفَاقُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الْيَوْمَ فَإِنَّمَا هُوَ الْكُفْرُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
Bukhari, 72.56/6581. Telah menceritakan kepada kami Khallad telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abu Sya’sya` dari Hudzaifah mengatakan; ‘Kemunafikan itu terjadi dimasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Adapun yang terjadi hari ini adalah kekufuran setelah beriman.’
Ibnu at-Tin berkata, “Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam beriman dengan lisan mereka tetapi hati mereka tidak beriman sedangkan orang yang datang setelah mereka, maka ia dilahirkan dalam Islam dan di atas fitrah; siapa yang kafir dari mereka maka ia murtad. Oleh karena itu, vonis terhadap orang-orang munafik dan murtad berbeda.” (Diketengahkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 13/74)
Teks hadits tersebut sudah jelas, di mana ia mengatakan, “Adapun sekarang maka ia adalah kekufuran setelah beriman,” yakni ada orang-orang yang beriman, kemudian merubah (agama mereka). dan kita ketahui kemurtadan terjadi setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam wafat.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ حُذَيْفَةَ فَقَالَ مَا بَقِيَ مِنْ أَصْحَابِ هَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ وَلَا مِنْ الْمُنَافِقِينَ إِلَّا أَرْبَعَةٌ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ إِنَّكُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُخْبِرُونَا فَلَا نَدْرِي فَمَا بَالُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَبْقُرُونَ بُيُوتَنَا وَيَسْرِقُونَ أَعْلَاقَنَا قَالَ أُولَئِكَ الْفُسَّاقُ أَجَلْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَرْبَعَةٌ أَحَدُهُمْ شَيْخٌ كَبِيرٌ لَوْ شَرِبَ الْمَاءَ الْبَارِدَ لَمَا وَجَدَ بَرْدَهُ
Buhari, 45.178/4291. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb dia berkata; Kami pernah bersama Hudzaifah, lalu ia berkata; Tidak tersisa orang yang di sebutkan ayat ini (At Taubah: 12) kecuali hanya tiga orang. Dan tidak tersisa dari orang munafik kecuali hanya empat orang. Seorang arab badui berkata; Kalian adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak tahu apa yang kalian kabarkan. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merusak rumah-rumah kami dan mencuri perhiasan kami? Hudzaifah menjawab: mereka itu adalah orang-orang yang fasik. Ya, tidak tersisa dari mereka (kaum munafik) kecuali hanya empat orang, salah satunya seorang yang sudah tua yang seandainya dia minum air dingin tentu dia tidak akan mendapatkan rasa dinginnya.
Dari atsar-atsar tersebut dapat disimpulkan bahwa kaum munafik pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah berakhir dan tidak ada andil sedikitpun dalam agama ini.
Sedangkan apa yang dilakukan Umar dalam suatu atsar dengan mengikuti Hudzaifah berkenaan dalam menshalatkan atau tidak menshalatkan seseorang yang meninggal adalah merupakan bentuk kehati-hatian Umar, karena yang paling mengetahui nama-nama orang munafik adalah Hudzaifah, ini bukan berarti Umar tidak bisa mengetahui orang-orang yang terindikasi munafik, tetapi dia tidak bisa memastikan karena kemunafikan adalah urusan hati sehingga Umar perlu Hudzaifah untuk memastikannya.
Kesimpulan : Kaum Munafik di jaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah kelompok minoritas yang terhina dan terkalahkan, Allah telah menyingkap kedok mereka, membedakan mereka dengan kelompok orang beriman dan menjamin bahwa agama ini bersih dari tangan-tangan mereka, sehingga jika ada seorang yang mengaku muslim di hari ini masih meragukan kemurnian ajaran Islam yang sampai kepada kita melalui generasi awal Islam, maka dia adalah termasuk orang-orang yang terkena syubhat yang perlu dikasihani.


@alfanar
pembahasan yg panjang
tapi sayang tdk mengena.
itu sdh pasti semua faham pun mengakui itu,
adakah bukti bhw syiah mengatakan bhw agama islam tdk bersih dari campur tangan kaum munafik? analisa yg bodoh ketika mengkritisi ada sahabat yg munafik,lalu membuat kesimpulan bodoh.
justru wahabi nashibi lah yg mencampur adukan agama islam ini sehingga terlihat bhw agama ini sprt tdk murni lg,krn kalian mengambil ajaran2 dr orang munafik
Persoalan dari semua ini adalah kalian tdk tahu siapa orang yg munafik itu,
Pdhal alquran sdh memberi ciri2x sedang rosul lebih mempertajamnya dgn kalimat “tidak membenci engkau yaa..Ali kecuali orang2 munafik”
tnggal kita lihat saja sejarah siapa saja yg memusuhi Ali..
tentu saja sdh nyata bagi kami salah satunya orang yg kalian agung2kan yaitu muawiyah,sedang kalian mengambil ilmu darinya
Maka kalianlah wahai wahabi nashibi yg memang berbuat hendak membuat agama ini jadi ada campur tangan kaum munafik.
sedang kami pencinta ahlulbait jelas2 berpegang kpd Tsaqalain, mentaati allah,mentaati rosul n ulil amri(ahlulbait)
kalian justru sebaliknya mentaati musuh2 ahlulbait
@aldj
Komentar yang panjang tapi tidak mengena, maksud mas Alfanar dari artikelnya kalau yang saya tangkap adalah kemurnian ajaran agama Allah yang disampaikan Rasul-Nya ke kita umatnya melalaui para sahabat adalah murni tidak terkontaminasi munafik, justru syi’ah rafidhah yang ambil ajaran agama-nya dari si Munafik Ibnu Saba’ hehehe
Wah kalau anda main antem dengan logika kayak gitu berarti siapa saja yang saat itu bermusuhan/berperang dengan Imam Ali karena perbedaan ijtihad adalah munafik? pikiran yang cupet ala rafidhah itu namanya, bukankah yang pernah berperang dengan Ali ada Aisyah, Zubair, Thalhah dan banyak kaum muslimin lainnya bukan hanya Mu’awiyah? apakah mereka adalah munafik juga? ati2 kalau bicara..
Bukankah juga ada hadits shahih yang mengatakan :
Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah mencintai kaum Anshar melainkan seorang mukmin dan tidaklah membenci mereka melainkan seorang munafik. Barangsiapa mencintai mereka niscaya Allah akan mencintainya dan barangsiapa membencinya niscaya Allah akan membencinya’,” (HR Bukhari [3783] dan Muslim [75]).
Dari Anas bin Malik r.a, dari Rasulullah saw. bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar,” (HR Bukhari [3784 dan Muslim [74]). Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah membenci kaum Anshar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir’,” (HR Muslim [77]).
@toni
1.main logika?mksd anda anda tdk punya logika..

2.anda bilang pikiran cupet ya… apa hadits itu tdk bermakna buat anda? atw rosul berbohong?
wah yg cupet itu anda
3.soal sejarah sahabat berperang dgn ali tinggal anda sj yg pilih,apakah mereka membenci ali atw tdk,
klu menurut sy mereka hanya termakan hasutan muawiyah ko
klu muawiyah jelas membenci,krn walaw pun ali telah wafat sidurjana muawiyah msh melaknat ali,
MUAWIYAH BERIJTIHAD… ???? he..he..he..
Padahal banyak dalil hadits yg menyatakan bhw muawiyahlah yg terlaknat.
Jd silahkan anda pilih saja apakah perkataan rosul itu tdk ada artinya?
4.Mengenai kaum anshar,wah berarti banyak jg yg munafik ya?
ataw kaum anshar juga munafik?krn diantara mereka jg berselisih…
Pertanyaan sy keanda Apakah makna hadits rosul tsb ttg membenci ali? sehingga anda katakan pikiran sy cupet?
Tapi sy yakin habis ini anda kabur(sprt biasa)kan anda kaya pepatah lempar batu sembunyi tangan
he..he..he.. parah anda ini,sdh sy sampaikan kalian tdk bisa membedakan mana sahabat yg munafik mana yg tdk,sehingga orang seperti anda tdk tau klu faham yg anda pegang ini ternyata berasal dr kaum nashibi.
lagu lama n sdh banyak dibahas disitus2 yg lain atw anda berusaha mau ngeles?
buktikan saja dikitab2 syiah ada ga hadits yg perawinya dr ibnu saba?
atw buktikan sj adakah ucapan dr ibnu saba yg dipakai oleh kitab2 syiah?lgian diahlusunnah jg sosok ibnu saba sj msh diragukan
Tp sy tdk heran ko memang sdh jadi bag dr wahabi nashibi bhw memfitnah adalah akidah kalian
Artikel yang mencerahkan..
Syukron katsiir
aldj adalah si secondprin……c…e….tai. hehehe
toni adalah si abul jau…….z…a. he he