Pada kesempatan ini, kita akan coba mengungkap kelemahan klaim Syi’ah mengenai ahlul bait dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab : 33. Dimana mereka mengklaim bahwa ahlul bait yang tertera dalam ayat tersebut adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum saja, sedangkan istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut. Kita akan mencoba membahasnya dan berikutnya akan kita jawab syubhat-syubhat yang dilontarkan Syi’ah.
Sebenarnya sudah banyak pembahasan dalam masalah ini dalam membuktikan kelemahan klaim mereka tersebut, tetapi tampaknya kaum Syi’ah ini sudah terlanjur terjebak doktrin para ayatollah mereka, sehingga akal jernih sudah tidak dipakai lagi oleh mereka. Mari kita buka kembali surat Al-Ahzab dari ayat 28 sampai dengan ayat 34 yang sangat jelas sekali sedang berbicara mengenai istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahkan ayat-ayat setelahnya sampai dengan ayat 59 (ayat hijab) pun masih memabahas mengenai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta ahlul bait (rumah tangga) beliau :
28. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
29. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.
30. Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.
31. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.
32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,
33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (penghuni rumah) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
34. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Perhatikanlah wahai para pembaca sekalian, jangankan orang yang berilmu, orang yang awwam pun dengan mudah bisa menarik kesimpulan bahwa ayat-ayat di atas berkenaan dengan istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada bayangan keraguan sedikitpun. Pada ayat-ayat di atas Allah memberi peringatan, kabar gembira, perintah dan larangan kepada istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tujuan akhirnya adalah dengan mereka mengikuti perintah dan larangan-Nya tersebut, Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa ahlul bait Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu istri-istri beliau) dan membersihkan mereka sebersih-bersihnya. Ini adalah alur yang begitu jelas dari apa yang difirmankan Allah dalam ayat-ayat di atas.
Perhatikan bagian ayat yang saya garisbawahi di atas yang menunjukkan hubungan diantara ayat-ayat tersebut, bahwa ayat-ayat sebelumnya termasuk ayat Thathhir (pembersihan) adalah turun di rumah istri-istri Nabi, sehingga terlihat dengan jelas mereka adalah penghuni rumah (ahlul bait) Nabi yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut. Dan Allah dalam ayat 34 mengingatkannya kembali kepada mereka, sehingga kesimpulannya adalah tidak ada pemisahan atau pemenggalan dalam ayat-ayat yang berurutan tersebut.
(-) Lantas bagaimana dengan kalimat yuthahhirakum dan ‘ankum pada ayat di atas yang menunjukkan jama’ mudzakkar (laki-laki) ?
(+) Maka dijawab : Sesungguhnya perkara yang disebutkan di awal ayat tertuju kepada para wanita secara khusus. Kemudian datang miim jama’ karena masuknya laki-laki bersama para wanita tersebut, yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai sayyidul-bait. Apabila laki-laki masuk pada kumpulan wanita, maka nun niswah berubah (kalah) menjadi miim jama’ (mudzakkar). Hal ini adalah sesuatu hal yang ma’lum (diketahui) dalam ilmu nahwu.
إذا اجتمع المذكر مع المؤنث غلب المذكر
“Apabila mudzakkar (laki-laki) dan muannats (wanita) berkumpul (dalam satu kalimat), maka dimenangkan mudzakkar”.
Istri-istri Nabi-lah yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut sesuai dengan konteks dan urutan ayat tanpa ada keraguan sedikitpun padanya.
Definisi Ahlul Bait :
Mari kita ingatkan kembali definisi dari ahlul bait:
Ahl : Keluarga yang termasuk di dalamnya adalah istri, anak-anak, saudara laki-laki, saudara perempuan, kerabat yang lain, kadang-kadang digunakan untuk merujuk sesama anggota kabilah.
Bait : Rumah, tempat tinggal
Ahlul Bait : orang-orang yang terkait dengan seorang lelaki, yang mereka tinggal di rumahnya, khususnya adalah istri-istrinya dan anak-anak yang belum menikah yang mereka tinggal dalam satu atap dengan-nya yang disediakan olehnya.
Kenyataannya, definisi utama dari ahlul bait adalah istri-istri dari seorang lelaki; dalam budaya Arab, dianggap hal yang tidak sopan memanggil istri-istri seorang lelaki dengan nama mereka yang sebenarnya, oleh sebab itu, orang akan menyebut istri seorang lelaki dengan hanya menyebut “ahlul bait-nya”
Penggunaan umum istilah “Ahlul Bait”
Al-Qur’an adalah kitab berbahasa Arab yang diturunkan kepada orang-orang yang berbahasa Arab. Kita akan salah menafsirkan Al-Qur’an jika kita berusaha untuk memahami kata-kata dengan cara yang tidak (dan tidak dapat) dipahami oleh orang yang dituju kitab ini yaitu bangsa Arab. Hari ini, jika kita meminta teman Arab kita untuk datang ke rumah kita bersama Ahlul Bait-nya, standarnya adalah bahwa ia akan datang ke rumah kita bersama istri dan anak-anak yang tinggal di rumahnya. Ia mungkin membawa anak-anak yang belum menikah atau mungkin tidak. Ia bahkan mungkin membawa teman, jika teman-nya tersebut adalah penghuni permanen rumahnya. Tapi yang utama, seorang Arab akan memahami bahwa ia harus membawa istri-istrinya, karena ini adalah inti dan definisi utama dari istilah Ahlul Bait.
Seorang lelaki Arab akan terkejut jika mengetahui bahwa kita mengartikan ahlul bait itu adalah saudara sepupunya, atau anak-anaknya yang sudah menikah, atau cucu-cucunya, yang mereka semua tinggal di rumah yang lain. Ia akan lebih sangat terkejut lagi mengetahui kita menganggap istri-istrinya yang tinggal di rumahnya adalah bukan ahlul bait-nya. Hal ini karena bagi orang Arab, kata ahlul bait (yang secara harfiah berarti mereka yang tinggal di rumah) termasuk adalah istri (istri-istri) dari seseorang. Hal ini sama sekali tidak berbeda pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini pun sama di semua negara-negara Arab. Hal yang sangat menarik, bahkan di Iran (sebagai negara yang didominasi oleh Syi’ah) orang menggunakan kata ahlul bait untuk merujuk kepada istri serta anak-anak dari seseorang. Jika kita melihat kitab-kitab popular dalam bahasa Arab, kita akan menemukan dalam definisi ahlul bait, istri diikutsertakan.
Logis dan masuk akal
Ahlul bait bermakna keluarga dari seorang lelaki yang tinggal di rumah-nya. Jika kita bertanya kepada seorang Syi’ah, siapa saja bagian dari keluarganya, ia pasti akan memasukkan ibunya atau pasangannya dalam jawabannya. Ibu dan istri adalah pondasi dasar dari sebuah keluarga. Jika kita bertanya kepada pihak ketiga yang tidak bias, siapakah keluarga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, nama-nama yang mereka akan sebutkan pertama kali adalah istri-istri beliau.
Al-Qur’an menyebut istri-istri Nabi sebagai ahlul bait.
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS 33:32-33)
Pada kenyataannya tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang mengidentifikasi Ali (رضى الله عنه), Fatima (رضى الله عنها), Hasan (رضى الله عنه), atau Hussain (رضى الله عنه) sebagai Ahlul Bait. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang telah sempurna menyebutkan 12 Imam dari Syiah, apalagi menyebut mereka Ahlul Bait. Istilah “Ahlul Bait” telah digunakan dua kali dalam Al-Quran, dan dua kali digunakan untuk merujuk kepada istri-istri. Dan istilah yang serupa, Ahlul Bait digunakan dalam Al-Qur’an untuk merujuk kepada istri Imran (Ibu Musa ‘alaihis salam). Namun, tidak sekalipun kata ahlul bait yang digunakan dalam Al-Qur’an merujuk kepada Ali (رضى الله عنه), Fatima (رضى الله عنها), Hasan (رضى الله عنه), atau Hussain (رضى الله عنه). Dan tidak pernah ada ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan “Hai saudara sepupu Nabi” melainkan yang ada “Hai istri-istri Nabi”. Jika mengikuti ahlul bait adalah dasar kepercayaan sebagaimana Syi’ah klaim, lalu mengapa Al-Qur’an tidak pernah sekalipun menyebutkan Ali sebagai ahlul bait? Jika kita meminta saudara Syi’ah untuk menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan ahlul bait, mereka akan kecewa karena menemukan ayat-ayat tersebut semuanya berhubungan dengan istri-istri Nabi.
72. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”
73. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”
(QS Huud : 72-73)
Pada ayat di atas, istri Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bertanya kepada malaikat bagaimana dia bisa mempunyai seorang anak, dan malaikat menjawabnya dan dengan memanggilnya beserta Nabi Ibrahim sebagai ahlul bait. Kata ganti kolektif digunakan untuk merujuk kepada Nabi Ibrahim dan istrinya, tidak ada orang lain di ruangan itu melainkan hanya mereka berdua.
Dalam hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil istri-istri beliau dengan sebutan Ahlul Bait
4793 – حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بُنِيَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ بِخُبْزٍ وَلَحْمٍ فَأُرْسِلْتُ عَلَى الطَّعَامِ دَاعِيًا فَيَجِيءُ قَوْمٌ فَيَأْكُلُونَ وَيَخْرُجُونَ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ فَيَأْكُلُونَ وَيَخْرُجُونَ فَدَعَوْتُ حَتَّى مَا أَجِدُ أَحَدًا أَدْعُو فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا أَجِدُ أَحَدًا أَدْعُوهُ قَالَ ارْفَعُوا طَعَامَكُمْ وَبَقِيَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ يَتَحَدَّثُونَ فِي الْبَيْتِ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَقَالَتْ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ كَيْفَ وَجَدْتَ أَهْلَكَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فَتَقَرَّى حُجَرَ نِسَائِهِ كُلِّهِنَّ يَقُولُ لَهُنَّ كَمَا يَقُولُ لِعَائِشَةَ وَيَقُلْنَ لَهُ كَمَا قَالَتْ عَائِشَةُ ثُمَّ رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا ثَلَاثَةٌ مِنْ رَهْطٍ فِي الْبَيْتِ يَتَحَدَّثُونَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيدَ الْحَيَاءِ فَخَرَجَ مُنْطَلِقًا نَحْوَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ فَمَا أَدْرِي آخْبَرْتُهُ أَوْ أُخْبِرَ أَنَّ الْقَوْمَ خَرَجُوا فَرَجَعَ حَتَّى إِذَا وَضَعَ رِجْلَهُ فِي أُسْكُفَّةِ الْبَابِ دَاخِلَةً وَأُخْرَى خَارِجَةً أَرْخَى السِّتْرَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَأُنْزِلَتْ آيَةُ الْحِجَابِ
(6/119)
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Sebuah perjamuan roti dan daging diadakan pada kesempatan pernikahan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab binti Jahsy. aku dikirim untuk mengundang orang-orang (ke perjamuan), dan sehingga orang-orang mulai datang (dalam kelompok); Mereka makan dan kemudian pergi. Sekelompok yang lain datang, makan dan pergi. Jadi aku terus mengundang orang-orang sampai aku tak menemukan seorang pun untuk diundang. Lalu aku berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku tidak menemukan orang lagi untuk diundang.” beliau berkata, “Bawa pergi makanan yang tersisa.” tiga orang masih tinggal di rumah sedang bercakap-cakap. Nabi pergi dan menuju tempat kediaman Aisyah dan berkata, “Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah” (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu), ia menjawab, “Wa alaika salam wa rahmatullah” (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu). “Bagaimana Anda menemukan istri baru Anda? Semoga Allah memberkati Anda”. Lalu beliau pergi ke tempat-tempat kediaman semua istri-istri beliau yang lain dan berkata kepada mereka sama seperti apa yang beliau katakan kepada Aisyah dan mereka pun menjawab beliau sama seperti Aisyah telah menjawab beliau. Kemudian Nabi kembali dan menemukan tiga orang masih tinggal di rumah sedang ngobrol. Nabi adalah orang yang sangat pemalu, jadi dia keluar (untuk kedua kalinya) dan pergi menuju tempat kediaman Aisyah. Aku tidak ingat apakah aku memberitahukan bahwa orang-orang itu sudah pergi. Maka beliau kembali dan begitu beliau memasuki pintu, beliau menarik tirai antara aku dan beliau, dan kemudian Ayat Al-Hijab turun”. (Shahih Bukhari 6/119 No. 4793)
Pertama, Tidak ada keraguan sedikitpun hadits di atas menunjukkan bahwa istri-istri Nabi adalah ahlul bait beliau.
Kedua, hadits di atas adalah asbabun nuzul ayat hijab (surat Al-Ahzab : 53-55) mengenai aturan memasuki rumah-rumah Nabi dan perintah hijab, sedangkan ayat tersebut termasuk dalam rangkaian ayat-ayat Al-Ahzab yang berbicara tentang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri beliau, urusan rumah tangga beliau dan kaum mukminin, yang dimulai dari ayat 28 sampai dengan ayat 59. Hal ini semakin menguatkan bahwa ahlul bait yang disebutkan dalam surat al-Ahzab : 33 adalah entitas yang sama, yaitu istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat juga tafsir Ibnu Katsir untuk Al-Ahzab : 53-55.
Selain itu, dalil yang dibawakan ulama yang merajihkan pendapat ini adalah hadits yang menyebutkan bacaan shalawat dalam tasyahud :
اللهم! صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3369 dan Muslim no. 407].
Lafadh “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafadh “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad) sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Al-Bukhari :
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3370].
Satu Pertanyaan untuk Syi’ah
Kita meminta saudara –saudara Syi’ah pikirkan, mengapa Al-Qur’an dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan istilah “Ahlul Bait” sebagai lawan dari sekedar kata “Ahl” yang berarti “keluarga”. Dengan pembatasan kata “Ahl” dengan “Al-Bait” ini sebagai pembatasan bahwa yang dimaksud adalah keluarga yang berada di bawah atap rumah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bukan Ali, Fathimah, Hasan maupun Husain yang tidak tinggal serumah dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi lain, istri-istri Nabi lah yang jelas serumah dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika Allah merujuk kepada keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak tinggal di rumah beliau, maka tentu kata “Ahl” akan lebih cocok untuk digunakan; spesifikasi tambahan “Al-Bait” akan benar-benar asing dan bahkan kontradiksi dengan sendirinya. Istilah “Ahlul Bait” membatasi para Ahl hanya untuk mereka yang tinggal di dalam Bait, dimana mereka adalah terdiri dari istri-istri Nabi. Penjelasan selain ini adalah tidak masuk akal.
Perluasan Makna Ahlul Bait dalam surat Al-Ahzab : 33 atas dasar do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
Demikianlah, begitu jelas bahwa yang dimaksud ahlul bait dalam Al-Ahzab : 33 adalah Nabi dan istri-istri beliau, hingga kemudian terdapat perluasan makna ahlul bait pada ayat tersebut atas dasar do’a beliau kepada Allah Azza wa Jalla untuk memasukkan keluarga beliau atas dasar ikatan nasab (Fathimah, Hasan, Husain dan menantu beliau Ali ra) agar juga dihilangkan dosa mereka dan dibersihkan sebersih-bersihnya oleh Allah Azza wa Jalla, hal tersebut beliau lakukan karena rasa cinta beliau yang dalam kepada mereka. Hal ini terekam dalam sebuah hadits yang terkenal dengan sebutan hadits kisa’.
Dalam Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani
عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير
Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata “ Ya Allah Mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.
Di atas tidak diragukan adalah keutamaan keluarga Fathimah radhiyallahu ‘anha, dimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam begitu mencintai mereka sehingga beliau berkeinginan agar mereka termasuk ahlul bait yang dibersihkan oleh Allah sebagaimana istri-istri Nabi. Beliau memanggil mereka dan menyelimuti mereka dengan kain adalah merupakan suatu bentuk ekspresi beliau, untuk menunjukkan bahwa mereka juga bagian dari ahlul bait beliau dan beliau pun mendo’akan mereka. Hal ini beliau lakukan karena Fathimah sudah menjadi istri Ali ra, sehingga Fathimah dan anak-anaknya tinggal bersama Ali dan menjadi ahlul bait Ali radhiyallahu ‘anhu dan dalam kesehariannya tidak lagi tinggal serumah berkumpul dengan beliau, sedangkan ayat 33:33 di atas turun untuk ahlul bait Nabi yang terikat dalam pernikahan yaitu istri-istri beliau, yang tinggal serumah dengan beliau dan ayat tersebut turun di rumah mereka. Maka tidak mengherankan jika beliau memanggil keluarga Fathimah untuk datang ke rumah salah satu istri beliau, menyelimuti dan mendo’akan mereka dengan harapan mereka juga dimasukkan oleh Allah sebagai ahlul bait beliau yang dibersihkan. Sedangkan istri-istri beliau sudah pada kedudukan mereka sendiri yaitu dalam kebaikan sebagai ahlul bait yang telah disebutkan dalam ayat tersebut, sehingga tidak perlu dido’akan lagi.
Perhatikan kalimat yang saya garisbawahi pada hadits di atas, bahwa ayat Thathhir turun di rumah Ummu Salamah (istri Nabi), maka yang berhak disebut Ahlul Bait dalam ayat tersebut adalah istri-istri Nabi yang tinggal serumah bersama Nabi, bukan keluarga beliau yang tinggal tidak serumah dengan beliau, itulah salah satu sebabnya keluarga Fathimah dipanggil untuk datang ke rumah Ummu Salamah..
Bantahan terhadap Beberapa Syubhat Syi’ah
Diantara mereka (kaum Syi’ah) mengatakan, bahwa ayat Thathhir dalam Al-Ahzab : 33 adalah hanya untuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum saja dan istri-istri Nabi tidak termasuk di dalamnya.
Pernyataan di atas adalah lemah, berdasarkan penjelasan di atas, bahwa ayat Thathhir adalah milik Nabi dan istri-istri beliau tidak diragukan lagi, maka bagaimana bisa mereka mengeluarkan istri-istri Nabi dari makna ahlul bait dalam ayat tersebut, padahal mereka adalah shahibul ayat. Ayat tersebut dimulai dengan judul “Hai istri-istri Nabi” sedangkan tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan “Hai keluarga Ali”.
Diantara mereka ada yang mengatakan, bahwa hadits kisa’ telah membatasi makna ahlul bait dalam ayat tersebut, dan ahlul bait itu adalah ahlul kisa’ saja, sedangkan istri-istri Nabi tidak termasuk.
Kita Jawab, mana buktinya bahwa hadits kisa’ membatasi makna dari ahlul bait dalam QS 33:33? Sebagaimana apa yg disampaikan Al-Akh Abul-Jauzaa :
di dalam lafadh hadits kisa’ itu tidak terdapat hal yang menuntut pembatasan kriteria ini pada orang-orang yang berada di dalam kisa’ itu. Sebab di dalam sabda beliau : ‘Mereka adalah ahlul-bait-ku’ ; tidak terdapat shighah qashr (pembatasan). Ia seperti firman-Nya tentang Ibrahim ‘alaihis-salaam, bahwa ia berkata : ‘Sesungguhnya mereka adalah tamuku’ (QS. Al-Hijr : 68). Maknanya bukan : ‘Aku tidak memiliki tamu selain mereka’. Dan ia berkonsekuensi pada terpenggalnya ayat tersebut dari apa yang sebelum dan setelahnya” [At-Tahriir wat-Tanwiir, 21/247-248]
Jika mereka mudah mengatakan seperti itu, kita pun dengan sangat mudah bisa mengatakan bahwa hadits kisa’ adalah perluasan makna ahlul bait, bukan pembatasan.
Mereka biasanya tidak mau menyerah, dan kemudian mulai mempersoalkan teks hadits kisa’, mereka akan mengatakan “dalam hadits itu jelas yang diselimuti hanya Ali, Fathimah, Hasan dan Husain saja, sedangkan Ummu Salamah (istri Nabi) ditolak oleh Nabi”
Kita jawab, jelas ditolak oleh Nabi dengan alasan yang beliau telah sampaikan sendiri, “tetaplah pada kedudukanmu, kamu dalam kebaikan” yang artinya Ummu Salamah tidak memerlukan lagi do’a dari Nabi karena memang ayat Thathhir turun untuk istri-istri Nabi, jadi kedudukan Ummu Salamah sudah dalam kebaikan. Justru dengan Nabi mendo’akan ahlul kisa’, hal itu menunjukkan bahwa ayat Thathhir pada awalnya memang bukan untuk mereka, kalau memang ayat tersebut untuk mereka, tentu ga perlu lagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berusaha sedemikian rupa menyelimuti mereka dan berdo’a untuk mereka. Berdasarkan riwayat Tirmidzi di atas, dikisahkan bahwa ayat thathhir turun terlebih dahulu, kemudian baru Nabi memanggil keluarga Ali, menyelimuti, dan mendo’akan mereka. Hal yang menjadi pertanyaan, jika ayat tersebut turun jelas untuk mereka (ahlul kisa’), mengapa Nabi kemudian masih memerlukan untuk mendo’akan mereka lagi agar Allah membersihkan mereka? Sekali lagi ini adalah bukti bahwa memang ayat tahthhir adalah bukan untuk mereka pada awalnya, tetapi untuk istri-istri Nabi, dan begitu ayat tersebut turun, Nabi langsung memanggil keluarga Ali untuk datang ke rumah Ummu Salamah, menyelimuti mereka dan mendo’akan mereka, agar mereka juga termasuk menjadi ahlul bait yang dibersihkan oleh Allah.
Di dalam hadits riwayat Ahmad yang dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir, justru Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengiyakan bahwa Ummu Salamah adalah termasuk ahlu beliau dan beliau pun menyelimuti Ummu Salamah setelah do’a beliau untuk keluarga Fathimah selesai,
حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ثنا عبد الحميد يعنى بن بهرام قال حدثني شهر بن حوشب قال سمعت أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم حين جاء نعى الحسين بن على لعنت أهل العراق فقالت قتلوه قتلهم الله غروه وذلوه لعنهم الله فإني رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم جاءته فاطمة غدية ببرمة قد صنعت له فيها عصيدة تحمله في طبق لها حتى وضعتها بين يديه فقال لها أين بن عمك قالت هو في البيت قال فاذهبي فادعيه وائتني بابنيه قالت فجاءت تقود ابنيها كل واحد منهما بيد وعلى يمشى في أثرهما حتى دخلوا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فأجلسهما في حجره وجلس على عن يمينه وجلست فاطمة عن يساره قالت أم سلمة فاجتبذ من تحتى كساء خيبر يا كان بساطا لنا على المنامة في المدينة فلفه النبي صلى الله عليه و سلم عليهم جميعا فأخذ بشماله طرفي الكساء وألوى بيده اليمنى إلى ربه عز و جل قال اللهم أهلي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قلت يا رسول الله ألست من أهلك قال بلى فادخلي في الكساء قالت فدخلت في الكساء بعد ما قضى دعاءه لابن عمه على وابنيه وابنته فاطمة رضي الله عنهم
Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasym bin Al Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid yaitu Ibnu Bahram yang berkata telah menceritakan kepadaku Syahr bin Hausab yang berkata aku mendengar Ummu Salamah istri Nabi SAW ketika datang berita kematian Husain bin Ali telah mengutuk penduduk Irak. Ummu Salamah berkata “Mereka telah membunuhnya semoga Allah membinasakan mereka. Mereka menipu dan menghinakannya, semoga Allah melaknat mereka. Karena sesungguhnya aku melihat Rasulullah SAW didatangi oleh Fatimah pada suatu pagi dengan membawa bubur yang ia bawa di sebuah talam. Lalu ia menghidangkannya di hadapan Nabi. Kemudian Beliau berkata kepadanya “Dimanakah anak pamanmu(Ali)?”. Fatimah menjawab “Ia ada di rumah”. Nabi berkata “Pergi dan panggillah Ia dan bawa kedua putranya”. Maka Fatimah datang sambil menuntun kedua putranya dan Ali berjalan di belakang mereka. Lalu masuklah mereka ke ruang Rasulullah dan Beliau pun mendudukkan keduanya Al Hasan dan Al Husain di pangkuan Beliau. Sedagkan Ali duduk disamping kanan Beliau dan Fatimah di samping kiri. Kemudian Nabi menarik dariku kain buatan desa Khaibar yang menjadi hamparan tempat tidur kami di kota Madinah, lalu menutupkan ke atas mereka semua. Tangan kiri Beliau memegang kedua ujung kain tersebut sedang yang kanan menunjuk kearah atas sambil berkata “Ya Allah mereka adalah keluargaku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Aku berkata “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau”.
(Hadits di atas, dikatakan oleh pensyarah, yaitu Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, “Sanadnya hasan.” Lihat Musnad Imam Ahmad, Syarah Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, hadits no. 26429 jilid 28, cet. I 1416H/1995)
Dalam hadits di atas dapat kita ambil beberapa faedah :
Pertama, Ummu Salamah melaknat kaum syi’ah yang ada di kufah yang telah mengkhianati Husain radhiyallahu ‘anhu sehingga menyebabkan kematian beliau.
Kedua, Ummu Salamah mencintai keluarga Ali.
Ketiga, Ummu Salamah mengkisahkan kisah yang serupa dengan hadits kisa’ riwayat Tirmidzi yang periwayatnya adalah beliau juga dengan sanad yang berbeda, dan pada kisah riwayat Ahmad ini, Nabi mengiyakan bahwa Ummu Salamah adalah termasuk keluarga beliau dan dia pun juga diselimuti oleh Nabi setelah beliau mendo’akan keluarga Fathimah.
Hal di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa Ummu Salamah sudah dalam kebaikan (karena ayat thathhir pada dasarnya turun untuk mereka istri-istri Nabi) sehingga Nabi tidak perlu mendo’akan Ummu Salamah lagi dan dia adalah termasuk keluarga beliau.
Orang Syi’ah akan mengatakan bahwa dua hadits tersebut adalah dua peristiwa yang berbeda.
Kita Jawab, bahwa kisah yang diriwayatkan dua hadits tersebut adalah peristiwa yang sama, sama-sama menceritakan peristiwa penyelimutan dan bahkan do’a yang dilafazkan pun sangat mirip. Jika terdapat sedikit perbedaan pada redaksi adalah hal yang biasa, karena jalur sanadnya juga berbeda. Dan kita dapat mensinkronkan kedua hadits tersebut dengan baik, mari kita bandingkan dan perhatikan kedua riwayat tersebut saat Ummu Salamah bertanya kepada Nabi, ternyata terlihat jelas perbedaan pertanyaan yang diajukan oleh Ummu Salamah kepada Nabi dalam dua riwayat tersebut:
Hadits Tirmidzi; “Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”
Hadits Ahmad; “Aku berkata “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau”
Pertanyaan Ummu Salamah pada hadits Tirmidzi adalah mengenai apakah dia bersama dengan mereka (keluarga Fathimah), maka Nabi menjawab, “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan” artinya Ummu Salamah sudah dalam kedudukan yang baik yaitu sebagai istri Nabi yang mendapatkan ayat Thathhir, sedangkan keluarga Fathimah adalah keluarga beliau dalam ikatan Nasab yang beliau berharap untuk memasukkan mereka juga sebagai ahlul bait pada ayat thathhir, oleh karena itu merekalah yang sememangnya dido’akan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan Ummu Salamah .
Sedangkan pertanyaan Ummu Salamah pada hadits riwayat Ahmad berbeda maknanya dengan pertanyaan Ummu Salamah pada riwayat Tirmidzi (tampaknya ini adalah pertanyaan berikutnya dari Ummu Salamah yang tidak tercatat pada riwayat Tirmidzi dan sebaliknya pertanyaan dalam riwayat Tirmidzi tidak tercatat dalam riwayat Ahmad) yaitu setelah mendapat jawaban dari Nabi bahwa Ummu Salamah tidak bersama keluarga Fathimah dan dia berada pada kedudukan tersendiri yang baik, selanjutnya dia bertanya lagi kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia termasuk keluarga beliau, maka Nabi menjawab Ya, dan membolehkan Ummu Salamah masuk dalam selimut beliau setelah selesai do’a beliau untuk keluarga Fathimah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua hadits tersebut tidak bertentangan, justru saling melengkapi dalam menggambarkan peristiwa yang sama. Allahu ‘Alam.
Syi’ah selanjutnya biasanya terus mengatakan, “Lalu mengapa Ummu Salamah tidak mengetahui akan hal itu dan malah bertanya kepada Nabi apakah beliau termasuk ahlu beliau”.
Kita jawab, hal ini bisa dimaklumi, karena tindakan Nabi yang tiba-tiba memanggil keluarga Ali dan kemudian menyelimutinya merupakan sesuatu yang mengherankan baginya, makanya dia bertanya dan dari riwayat di atas terlihat begitu ayat tersebut turun, Nabi langsung memanggil keluarga Ali dan belum sempat menjelaskan hal tersebut. Hal ini adalah wajar, jika kita menjadi Ummu Salamah, pasti kita akan menanyakan tindakan Nabi yang di luar kebiasaan tersebut, apalagi ketika dirinya tidak diperkenankan (untuk sementara) untuk ikut masuk ke dalam kain kisa’ bersama keluarga Fathimah yang sedang dido’akan oleh Nabi shalallahu ‘alihi wa sallam.
Diantara mereka ada yang akhirnya mengatakan bahwa istri-istri Nabi adalah juga ahlul bait (itu pun mereka akui setelah mereka tidak bisa membantah lagi) tetapi mereka bukan ahlul bait yang disucikan, tetapi ahlul bait yang disucikan adalah ahlul kisa’.
Kita jawab, penjelasan di atas sudah cukup menghancurkan argumentasi mereka.
Kesimpulan
Ayat Thathhir pada surat Al-Ahzab : 33 adalah untuk Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau sebagai ahlul bait beliau pada awalnya, kemudian diperluas maknanya termasuk keluarga Fathimah berdasarkan do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka yang terekam pada hadits Kisa’.
Allahu A’lam


luar biasa tulisannya, boleh dicopy nih….
Silahkan Akh..
ku perhatikan ummu SALAMah….
Ass. akhi baru kali ini ana mendapatkan penjelasan tentang syiah sangat jelas, ana salut dengan analisa-analisa antum, jika berkenan bagaimana kalo akhi ana pertemukan dengan tokoh syiah untuk membahas ini, dan ana yakin mereka akan sadar dengan penjelasan antum. trima kasih.
Wa’alaikum salam ya Akhi, Alhamdulillah jika artikel-artikel di blog ini ada manfaatnya, hal ini sangat berarti buat saya. Mengenai bertemu muka dg tokoh Syi’ah, lebih baik anda tunjukkan saja artikel blog ini kepada mereka, semoga saja hidayah Allah datang kepada mereka, jika mereka mau bantah ya silahkan, saya kira cara ini lebih efektif dr pd bertemu muka dg mereka..
Satu hal yang perlu anda yakini, bahwa syubhat2 Syi’ah itu sebenarnya adalah lemah adanya, bahkan mereka sebenarnya tidak mempunyai pegangan yg jelas.. terima kasih atas kunjungannya..
@ alfanarku……………..,
Bgmn dg HADIST RINGKASAN SAHIH MUSLIM Bab Keutamaan Ahli BAit Nabi SAW Hal 946 No. Hadist 1656
Diriwayatkan oleh AISYAH bahwa Ahlul Bayt dlm Qs33:33 adalah :
- Rosulullah
- Hasan
- Husain
- Fathimah
- Ali
terkenal dengan hadist “KISA”
Kok disini tidak disebutkan istri2 nabi termasuk dalam Ahlul Bayt yang disucikan……………….????????!
Ini yang salah AISYAH, SAHIH MUSLIM atau sampeyan???????!
hati2 ini SAHIH LHO………………,
makanya tidak usah saling menyesatkan mari kita belajar bersama, buat apa saling tuding kalau ternyata akhirnya kita sendiri yang salah.
salam
Silahkan anda baca lagi artikel di atas agar lebih paham, hadits Aisyah ra tersebut tidak ada masalah dan tidak menunjukkan sama sekali bahwa ahlul bait dalam Al-Ahzab : 33 terbatas hanya utk ahlul kisa’, justru hadits2 spt itu adalah perluasan makna dari ahlul bait dalam ayat tsb yg memang awalnya adalah untuk istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam riwayat tsb, Aisyah ra hanya menceritakan kejadian yang sama dan penjelasannya sudah ada pada artikel di atas, silahkan dibaca lagi.
pertanyaan yang lucu, baca lagi dong,.. ga usah ada penjelasan dari hadits apapun, sudah jelas ayat al-ahzab : 28 s/d 34 adalah untuk mereka (istri-istri Nabi), jadi buat apa disebutkan lagi dalam hadits? justru yang dijelaskan oleh hadits itu biasanya adalah yang tidak tercantum dalam ayat. coba cari aja, ada ga ayat Al-Qur’an yang menyebut kata “ahlul bait” merujuk kepada Ali ra, Fatimah, Hasan dan Husein ra? jika anda ga menemukan, berarti memang perlu penjelasan dari hadits untuk memasukkan mereka dalam “ahlul bait” yang dimaksud dalam ayat. sedangkan kenyataannya istri-istri para Nabi-lah yg jelas disapa oleh Allah dalam ayat2 tsb, so ya wajar kalau ga disebutkan lagi dalam hadits. jadi yang salah bukan siapa2 tapi andalah yg keliru dalam memahami hadits2 tsb..
btw jika anda seorang wanita dan menjadi istri seorang lelaki, relakah anda jika oleh suami, anda dianggap bukan ahlul bait dia?
@ amin……………,
ana setuju saran saudara Amin, bukankah tidak ada salahnya kalau kita duduk bersama untuk sama-sama belajar bersama sehingga tidak ada lagi saling tuding, Insya Allah dengan Ridho Allah kita akan menemukan titik temu.
salam
Jadi di dalam Al-Qur’an, yang namanya Ahlul Bait yaitu:
1. Nabi Ibrahim dan istrinya, berdasarkan
(QS Huud : 72-73)
2. Nabi Muhammad saw dan istri2nya berdasarkan
(QS Al- Ahzab :33)
kemudian diperluas maknanya oleh Nabi saw melalui hadits kisa’.
gituu ya akh..?
Yups.. yang dimaksud Ahlul Bait dalam ayat-ayat di atas adalah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam beserta istri beliau dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta istri-istri beliau tidak ada sedikitpun keraguan padanya. Merekalah yang hidup dalam satu bait (tempat tinggal), sedangkan Fathimah, Ali, Hasan dan Husein radhiyallahu ‘anhum menempati rumah mereka sendiri yang terpisah dengan Nabi. Karena kecintaan Nabi yang begitu besar terhadap mereka (dan ini adalah sebesar-besar keutamaan keluarga Fathimah ra), maka Rasulullah berkehendak untuk memasukkan mereka sebagai ahlul bait beliau yang dibersihkan oleh Allah, bukan hanya istri-istri beliau saja, oleh karena itu beliau memanggil mereka ke rumah Ummu Salamah dan kemudian menyelimuti mereka dan mendo’akan mereka. ini adalah bukti yang sangat jelas bahwa ayat tersebut pada asalnya sebenarnya bukan untuk mereka, karena jika memang ayat tsb turun utk keluarga Fathimah, mengapa Nabi kok masih mendo’akan (meminta kepada Allah) agar mereka dihilangkan dari kotoran dosa dan dibersihkan sebersih-bersihnya setelah ayat tersebut turun??
Sedangkan terhadap Ummu Salamah beliau mengatakan bahwa dia dalam kebaikan sehingga tidak perlu ikut dido’akan bersama keluarga Fatimah, ini sebagai bukti bahwa memang ayat tersebut berkenaan dg stri-istri Nabi. sedangkan pertanyaan Ummu Salamah kepada Nabi adalah hal yang sangat bisa dimaklumi, jika posisi kita menjadi Ummu Salamah saat itu, kita pasti akan heran dan mau ga mau akan bertanya melihat apa yang dilakukan oleh Rasul yang tiba-tiba memanggil keluarga Fatimah ke tempat kediamannya dan berdo’a kepada Allah untuk mereka tak lama setelah ayat tsb turun.
Kenyataanya dalam hadits riwayat Ahmad, Ummu Salamah akhirnya dimasukkan juga dalam selimut oleh Nabi setelah do’a utk keluarga Fatimah selesai, artinya Ummu Salamah adalah ahlul bait Nabi juga tetapi tidak perlu dido’akan karena sememangnya ayat tsb berkenaan dg istri2 Nabi. maka sungguh begitu jelas pengertian hadits tsb, hanya mereka yg sdh terdoktrin pemahaman syi’ah sajalah yang mengingkari akal sehat mereka sendiri.
Tambahan:
mari kita cermati kembali ayat di atas, bukankah Malaikat sedang berbicara dengan istri Nabi Ibrahim saat itu? pada kalimat “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?” (“kamu” dalam kalimat tsb adlh bentuk mu’anats (perempuan) bentuk kedua tunggal yaitu istri Nabi Ibrahim) dan selanjutnya Malaikat berkata dengan menggunakan jama’ muzakkar “(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” hal ini disebabkan karena ada Nabi Ibrahim di di situ sebagai sayyidul bait. sungguh lucu jika ada orang yg akan mengatakan ayat di atas terpenggal hanya karena perubahan kalimat dari Mu’anats ke jama’ Muzakkar?.
Demikian juga dalam al-Ahzab 33, jelas dari awal Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril berbicara dengan istri-istri Nabi pada kalimat “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” kemudian selanjutnya Allah menggunakan jama’ muzakkar pada kalimat berikutnya “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” karena ada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di situ sebagai penerima wahyu dan sebagai sayyidul bait. sungguh begitu jelas hal ini, jadi Allah berbicara kepada istri-istri Nabi, tetapi ketika menyinggung ahlul bait (penghuni rumah) ya otomatislah suami mereka dimasukkan ke dalamnya, bukankah para suami adalah sayyidul bait? dan mereka juga penghuni rumah (ahlul bait)? apa lagi suami tersebut adalah seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu/ayat tsb turun, maka secara otomatis berubahlah kata penunjuknya menjadi jama’ muzakkar, karena ada laki-laki yang berkumpul dengan para wanita di situ..
Singkatnya Ahlul Bait yg dibersihkan dalam ayat tsb pada awalnya adalah Nabi dan istri-istri beliau. Nabi dibersihkan oleh Allah dengan treatment tersendiri sebagai seorang Nabi, istri-istri beliau pun dibersihkan oleh Allah dengan treatment tersendiri pula, yaitu salah satunya dengan mengikuti perintah2 dan larangan2 Allah thd istri-istri Nabi yang telah disebutkan dalam ayat2 al-Ahzab, demikian juga ahlul kisa’ yg dimasukkan sebagai ahlul bait yg dibersihkan dlm ayat tsb atas do’a Rasulullah, setiap hari Nabi selalu mengingatkan Fatimah dan keluarganya shalat shubuh, ketika melewati pintu rumah Fatimah agar Allah membersihkan mereka dari kotoran dosa dan membersihkan mereka sebersih-bersihnya, ada lho haditsnya mengenai hal ini..
Jadi simple banget lho sebenarnya. kita hanya tersenyum saja membaca jawaban orang syi’ah itu, kok bisa ya jawaban spt itu dilontarkan olehnya
.. tapi sudah biasa sih, orang yg terdoktrin paham syi’ah akan meninggalkan akal sehatnya demi mengikuti hawa nafsunya, jadi Mas KAB, ga usah lah heran dg mereka itu. bersyukur aja kita kepada Allah yang masih memberikan kita akal yang sehat.
Membaca tanggapan terakhir orang yang sudah terdoktrin paham syi’ah tersebut, kita menjadi semakin tersenyum lebar karenanya
saya sih cuma bisa mengharapkan, silahkan dibaca lagi dg hati yg jernih, berilah sedikit waktu akal sehat untuk berbicara.
saya hanya mau menanggapi sedikit perkataan orang itu,
Saya kira tidak ada cela dengan hal tersebut, toh Nabi hanya mendo’akan keluarga Fatimah saja kok, yg hal ini bisa kita maklumi, dengan Nabi memanggil mereka sesegera mungkin adalah agar mereka pun masuk dalam makna ahlul bait dalam ayat yang baru turun tersebut.
Orang itu memastikan (untuk hadits kisa’ riwayat Tirmidzi) Ummu Salamah menyampaikannya saat Rasul sudah wafat, bagaimana dia bisa memastikan hal itu? kita tahu bahwa hadits Tirmidzi tersebut diriwayatkan oleh anak Ummu Salamah sendiri yaitu Umar bin Abi Salamah, apakah tidak mungkin beliau telah menceritakan peristiwa itu tak lama setelah kejadian itu kepada anaknya di saat Nabi masih hidup? dan itulah yang diingat oleh Umar bin Abi Salamah yang akhirnya dia ceritakan kepada perawi berikutnya. Sedangkan hadits Kisa’ riwayat Ahmad, jelas Ummu Salamah sendiri menceritakan di saat selepas Kematian Husein Ra. dan beliau telah menjelaskannya dalam hadits tersebut bahwa dia adalah termasuk ahlu (keluarga) Nabi, dalam hadits tersebut beliau hanya meminta konfirmasi kepada Nabi “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau”. ini adalah penjelasan yang sangat jelas dan cukup dari Ummu Salamah kepada para Tabi’in bahwa memang dia adalah termasuk keluarga Nabi. Ingat, yang Nabi tolak adalah Ummu Salamah bersama dengan keluarga Fatimah yang sedang dido’akan oleh Rasulullah dengan alasan bahwa Ummu Salamah dalam kedudukannya sendiri dan dalam kebaikan, tetapi Nabi tidak menolak bahwa Ummu Salamah merupakan Ahlul Bait beliau. Hal ini semakin membuktikan bahwa memang QS 33:33 tersebut berkenaan dengan istri-istri Nabi, karena mereka sudah dalam kebaikan dan tidak perlu dido’akan lagi ketika ayat tersebut turun, sebaliknya jika ayat tsb memang utk ahlul kisa’, mengapa Rasul masih berdo’a (meminta kepada Allah) agar Ahlul Kisa’ dibersihkan dari kotoran dosa dan dibersihkan sebersih-bersihnya?.
sedangkan komentar yang lain dari orang itu membuat saya tersenyum lebih lebar saja, rasa-rasanya tidak perlu ditanggapi
Semakin membaca komentar terakhir orang itu, makin lebar aja kita tersenyum, dia mencoba melakukan putaran balik, syubhat yg sdh dijelaskan dimunculkan lg…
ya maklum lah.. jadi ga perlu ditanggapi.. saran saya baca lagi dech artikel di atas, semua sudah dijelaskan dg mendetail & komprehensif syubhat2 macam itu.
dan seperti biasa orang Syi’ah menterjemahkan hadits sesuai selera sendiri untuk mengelabui kaum awwam, contohnya mereka menterjemahkan hadits di atas seperti ini : “Ya Allah merekalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya” lihatlah pada kalimat yg mereka gunakan “Ya Allah merekalah…” mereka ingin terlihat hadits tsb membatasi ahlul bait adalah utk ahlul kisa’ saja, padahal seharusnya terjemahannya “Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku” yang di sini tidak ada sama sekali indikasi pembatasan, dengan do’a tersebut Nabi ingin mereka dimasukkan ke dalam ahlul bait dalam QS 33:33 9lihat penjelasannya di atas).
Oho.. justru ini adalah esensi dari maksud Nabi memanggil mereka, karena pada faktanya mereka berpisah dengan Nabi dan mendiami rumah mereka sendiri, sedangkan ayat tsb menyinggung ahul bait (penghuni rumah) beliau, maka pemanggilan mereka ke rumah salah satu istri beliau dan penyelimutan mereka adalah ekspresi Nabi untuk memasukkan mereka dalam ahlul bait beliau yg dimaksud dlm ayat tsb, dan apa yang beliau lakukan adalah dalam rangka memohon dengan sebenar-benarnya kepada Allah agar do’a beliau dikabulkan. dan ini adalah sebesar-besar bukti bahwa awalnya memang ahlul kisa’ bukan termasuk dalam ahlul bait dlm ayat tsb, krn jika mereka yg dimaksud oleh ayat tsb ketika turun, mengapa Rasulullah masih memerlukan untuk berdo’a dengan segala ekspresi memohon beliau kepada Allah?? jadi jelas memang mereka sebelumnya bukanlah termasuk yg dimaksud ayat tsb.
Mengapa hanya keluarga Fatimah saja yg beliau panggil? jawabannya sangat mudah, ya karena mereka adalah keluarga terdekat beliau berdasarkan hubungan Nasab dan yang sangat dicintai oleh beliau, jelas dalam hadits Tirmidzi, Ali di taruh di belakang punggung beliau, yang menurut Al-Akh Abul-Jauzaa hal itu menunjukkan pemisahan, karena menurut bahasa, orang yang di depan lah yang dido’akan beliau, sedangkan yg dibelakang tidak termasuk. Allahu A’lam
Ah ternyata mudah sekali ditebak alur pikiran orang rafidhi sekaligus nashibi (karena diduga dia membenci ahlul bait yaitu istri2 Nabi) itu
. saya sudah pernah membaca sebagian besar dalil2 yang dibawakannya di sebuah blog syi’ah rafidhah yg sebenarnya riwayat2 tsb sebagian besar bermasalah, tidak ada yang baru.
pertama, dia masih mempermasalahkan mengapa Nabi segera memanggil keluarga Fatimah ketika ayat tsb turun, bagi kami hal itu bisa dimaklumi, agar makna ahlul bait segera mencakup keluarga beliau berdasarkan nasab yaitu keluarga Fatimah saat ayat tsb baru turun, dan itu adalah kekhususan yg Allah berikan kepada beliau, apalagi ayat tsb menyinggung ahlul bait beliau, bukan ahlul bait orang lain, sehingga hal yang wajar apabila beliau memohon kekhususan untuk urusan ahlul bait beliau tsb.. ah ada2 saja nich rafidhi nashibi.
kedua, riwayat2 yang ditampilkan oleh rafidhi nashibi tsb selain Tirmidzi adalah bukan dari kutubussittah, apalagi ternyata sebagian besar riwayat tsb bermasalah sanadnya, yg sebagian rawinya kalau ga dilemahkan oleh sebagian para ulama mutaqodimin, eh ternyata terinfeksi syi’ah.. jika bertentangan dengan Al-Qur’an yang begitu jelas bahwa ayat tsb berkenaan dengan Nabi dan istri-istri beliau pada awalnya, ga usah terlalu diperhatikan-lah.
ketiga, Justru terlihat dalil-dalil yang dibawakannya mengenai cerita Ummu Salamah dalam riwayat2 tersebut saling bertentangan, contoh riwayat dari Hakim bin Sa’ad bertentangan dg riwayat Tirmidzi dan yg lainnya dimana jelas dalam riwayat Tirmidzi ayat tsb turun terlebih dahulu, sedangkan dalam riwayat Hakim bin Sa’ad ayat tsb baru turun setelah datang keluarga Fatimah, mana yang benar? maka kita lebih merujuk kepada riwayat yg terdapat dalam kutubussittah yaitu hadits riwayat Tirmidzi. riwayat2 Ummu Salamah yg lain pun yg dibawakannya juga saling bertentangan, hal ini dimungkinkan kekeliruan terletak pada perawinya dalam memahami perkataan beliau.
Kemudian ada lagi riwayat yg musykil, dimana disebutkan Ummu Salamah bisa melihat malaikat Jibril dan Mikail, tapi begitu melihat sanadnya, saya jadi ga heran, ternyata ada rawi yg syi’ah tho..
kemudian riwayat Said Al-Khudry yang didalamnya terdapat Athiyah Al- Aufi, tidak perlu kita perhatikan riwayatnya, jelas banyak ulama2 mutaqodimin yang lebih kompeten tentunya dibandingkan dg si Rafidhi Nashibi yg bukan ulama ini, jelas telah melemahkan Athiyah dari berbagai sisi, aksi penyelamatan si rafidhi nasibhi ini thd Athiyah tidaklah ada gunanya sama sekali, yg jelas Athiyah ini memang pernah berguru & bermajelis kepada Al-Kalbi dan Athiyah ini dikenal adalah seorang syi’ah, maka jika dia meriwayatkan sesuatu yg mendukung kebid’ahannya, tidak perlulah untuk diperhatikan.
keempat, Perkataan Al-Hasan ra tidaklah ada masalah, dengan do’a Nabi, mereka (ahlul kisa’) termasuk menjadi ahlul bait yang difirmankan oleh Allah dalam QS 33:33, kami pun tidak pernah mengingkari keutamaan ahlul kisa’ dalam hal ini.
Intinya dalil-dalil yg ditampilkan si Rafidhi Nashibi ini tidaklah cukup untuk menutupi kebenaran dari ayat Al-Qur’an yang jelas dan terang.
@KAB
ada tambahan nie,
dalam hadits shahih Bukhari di atas :
Lihatlah dalam hadits shahih di atas sangat jelas sekali, bukankah Nabi SAW juga menggunakan dhamir jama’ muzakkar ketika menyebut istri-istri beliau sebagai ahlul bait. beliau menggunakan “kum” bukan “kunna”
Bukankah yang diajak bicara Nabi adalah istri-istri beliau saja, tetapi beliau menggunakan dhamir jamak muzakkar, apakah berarti ada penggalan dalam perkataan beliau di atas? Jadi dalih orang itu sangat mengada-ada dan lucu, so biarkan saja dia dengan dalih-dalih lemahnya itu.
Baarakallaahu fiik !!!
demikian juga dengan antum ya Ustadz..
Alhamdulillah, setelah membaca tulisan antum, ana semakin mengerti dan yakin seyakin-yakinnya bahwa ahlul bait yg dimaksud dalam ayat tersebut adalah termasuk istri-istri Nabi.
dan ana juga sudah membaca syubhat dari blog syi’ah, tampaknya dia melupakan bahwa ayat penyucian tersebut bersangkut paut dengan Nabi sebagai sayyidul bait seperti kata antum, bahwa Allah ingin memuliakan Nabi, makanya Allah mendidik istri-istri beliau dengan perintah dan larangan karena Allah menghendaki untuk membersihkan ahlul bait Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari dosa, karena ada ayat yang berbunyi “kuu anfusakum wa ahlikum naaro” artinya : “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. karena jika ahlul bait beliau tidak baik kan hal itu akan mengurangi keutamaan beliau yang disamping sebagai penghulu para Nabi juga sekaligus sebagai kepala keluarga. maka dengan adanya ayat tersebut benar-benar Allah menghendaki untuk memuliakan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sempurna.
Alhamdulillah, Jazakallahu khair Akh.
Subhanallah, Allah telah memberi anda kefahaman dan akal yang jernih.
memang benar ayat thathir diturunkan adalah dalam rangka memuliakan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Siapa Ahlul Bait Itu?
Pembahasan ini termasuk sejelas-jelasnya pembahsan. Karena tidak ada seorang pun manusia yang pura-pura tidak mengenal Ahlul Bait kecuali mereka para penentang yang tidak menemukan jalan keluar dari dalil-dalil yang pasti tentang wajibnya mengikuti mereka, lalu mereka pun berlindung kepada keragu-raguan tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Inilah yang dapat saya saksikan dari berbagai diskusi yang saya lakukan dengan teman-teman. Ketika salah seorang mereka tidak menemukan jalan untuk menghindar dari keharusan mengikuti Ahlul Bait, dengan serta-merta dia melontarkan berbagai pertanyaan yang meragukan,
Siapa Ahlul Bait itu?
Bukankah istri-istri Rasulullah saw termasuk Ahlul Baitnya?! Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, “Salman dari kalangan kami Ahlul Bait”?!
Bahkan, bukankah Abu Jahal juga termasuk keluarga Rasulullah saw?!
Tidak ada yang mereka inginkan dari seluruh pertanyaan ini kecuali keinginan untuk mengingkari kenyataan hadis Tsaqalain, yang merupakan salah satu hadis yang menunjukkan kepada keimamahan Ahlul Bait, mereka menduga bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan ini, mereka dapat membungkam akalnya dan membungkam seruan nuraninya. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan perkiraan mereka, dan hujjah tetap tegak berdiri meskipun dia mengingkari atau pun tidak mengingkari.
Saya pernah mengatakan kepada sebagian mereka manakala mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, “Kenapa Anda menginginkan segala sesuatunya tersedia dengan tanpa susah-payah?! Sesungguhnya pikiran-pikiran yang sudah dikemas tidak memberikan faidah. Saya mampu memberikan jawaban, namun Anda pun mampu menolak dan mengingkari jawaban saya, karena Anda tidak merasakan pahitnya melakukan pembahasan dan tidak menanggung kesulitan untuk bisa memberikan jawaban. Apakah hanya saya yang diwajibkan untuk menjawab? Apakah Rasulullah saw telah memerintahkan kepada saya secara khusus untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait?! Tidak, kita semua diwajibkan untuk menjawab pertanyaan ini. Karena telah tegak hujjah atas kita akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait dan mengambil agama dari mereka, sehingga kita wajib mengenal mereka dan untuk kemudian mengikuti mereka.”
Pada kesempatan ini pun saya tidak akan memperluas argumentasi dan dalil, melainkan saya cukup mengemukakan beberapa petunjuk yang jelas, dan bagi siapa yang menginginkan keterangan yang lebih maka dia sendiri yang harus memperdalamnya.
Ahlul Bait Di Dalam Ayat Tathhir
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab: 33)
Sesungguhnya turunnya ayat ini kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain adalah termasuk perkara yang amat jelas bagi mereka yang mengkaji kitab-kitab hadis dan tafsir. Dalam hal ini Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya mayoritas para mufassir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.”[57] Ayat ini, disebabkan penunjukkannya yang jelas terhadap kemaksuman Ahlul Bait, tidak sejalan kecuali dengan mereka. Ini dikarenakan apa yang telah kita jelaskan, yaitu bahwa mereka itu adalah pusaka umat ini dan para pemimpin sepeninggal Rasulullah saw. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengikuti mereka. Arti kemaksuman juga dengan jelas dapat disaksikan dari ayat ini, bagi mereka yang mempunyai hati dan mau mendengarkan. Hal itu dikarenakan mustahil tidak terlaksananya maksud jika yang mempunyai maksud itu adalah Allah SWT; dan huruf al-hashr (pembatasan) yaitu kata “innama” menunjukkan kepada arti ini. Yang menjadi fokus perhatian kita di dalam pembahasan ini ialah membuktikan bahwa ayat ini khusus turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Hadis Al-Kisa“ Menentukan Siapa Yang Dimaksud Dengan Ahlul Bait
Argumentasi terdekat dan terjelas yang berkenaan dengan penafsiran ayat ini ialah sebuah hadis yang dikenal di kalangan para ahli hadis dengan sebutan hadis al-Kisa“, yang tingkat kesahihan dan kemutawatirannya tidak kalah dari hadis Tsaqalain.
1. Al-Hakim telah meriwayatkan di dalam kitabnya al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain fi al-Hadis:
“Dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib yang berkata, ‘Ketika Rasulullah saw memandang ke arah rahmat yang turun, Rasulullah saw berkata, ‘Panggilkan untukku, panggilkan untukku.’ Shafiyyah bertanya, ‘Siapa, ya Rasulullah?!’ Rasulullah menjawab, ‘Ahlul Baitku, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.’ Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah saw meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah keluargaku (maka sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).’ Lalu Allah SWT menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. ‘”[58]
Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.”
2. Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku.’”[59] Kemudian, al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat Bukhari.” Di tempat lain al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dari Watsilah, dan kemudian berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat mereka berdua.”
3. Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Aisyah yang berkata, “Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husain datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah saw pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”[60]
Berita ini dapat ditemukan di dalam banyak riwayat yang terdapat di dalam kitab-kitab sahih, kitab-kitab hadis dan kitab-kitab tafsir.[61] Hadis al-Kisa` termasuk hadis yang sahih dan mutawatir, yang tidak ada seorang pun yang mendhaifkannya, baik dari kalangan terdahulu maupun kalangan terkemudian. Sungguh akan banyak memakan waktu jika kita menyebutkan seluruh riwayat ini. Saya menghitung ada dua puluh tujuh riwayat yang kesemuanya sahih.
Di antara riwayat yang paling jelas di dalam bab ini —di dalam menentukan siapa Ahlul Bait— ialah riwayat yang dinukil oleh as-Suyuthi di dalam kitab tafsirnya ad-Durr al-Mantsur, yang berasal dari Ibnu Mardawaih, dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumahku turun ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Saat itu di rumahku ada tujuh orang yaitu Jibril, Mikail, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, sementara aku berada di pintu rumah. Kemudian saya berkata, ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Rasulullah saw menjawab, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.’”[62]
Pada riwayat al-Hakim di dalam kitab Mustadraknya disebutkan, Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan, mereka itulah Ahlul Baitku. Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku yang lebih berhak.”[63]
Pada riwayat Ahmad disebutkan, “Saya mengangkat pakaian penutup untuk masuk bersama mereka namun Rasulullah saw menarik tangan saya sambil berkata, ‘Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan.’”[64] Ini cukup membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait ialah mereka Ashabul Kisa, sehingga dengan demikian mereka itu adalah padanan al-Qur’an, yang kita telah diperintahkan oleh Rasulullah saw — di dalam hadis Tsaqalain — untuk berpegang teguh kepada mereka.
Orang yang mengatakan bahwa ‘itrah itu artinya keluarga, sehingga mengubah makna, perkataannya itu tidak dapat diterima. Karena tidak ada seorang pun dari para pakar bahasa yang mengatakan demikian. Ibnu Mandzur menukil di dalam kitabnya Lisan al-’Arab, “Sesungguhnya ‘itrah Rasulullah saw adalah keturunan Fatimah ra. Ini adalah perkataan Ibnu Sayyidah. Al-Azhari berkata, ‘Di dalam hadis Zaid bin Tsabit yang berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘… lalu dia menyebut hadis Tsaqalain’ . Maka di sini Rasulullah menjadikan ‘itrahnya sebagai Ahlul Bait.’ Abu Ubaid dan yang lainnya berkata, “Itrah seorang laki-laki adalah kerabatnya.’ Ibnu Atsir berkata, “Itrah seorang laki-laki lebih khusus dari kaum kerabatnya.’ Ibnu A’rabi berkata, “Itrah seorang laki-laki ialah anak dan keturunannya yang berasal dari tulang sulbinya.’ Ibnu A’rabi melanjutkan perkataannya, ‘Maka ‘itrah Rasulullah saw adalah keturunan Fatimah.”[65] Dari makna-makna ini menjadi jelas bahwa yang dimaksud Ahlul Bait bukan mutlak kaum kerabat, melainkan kaum kerabat yang paling khusus. Oleh karena itu, di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa tatkala Zaid bin Arqam ditanya, siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait Rasulullah? Apakah istri-istrinya?
Zaid bin Arqam menjawab, “Tidak, demi Allah. Sesungguhnya seorang wanita tidak selamanya bersama suaminya, karena jika dia ditalak maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun yang dimaksud Ahlul Bait Rasulullah saw ialah keluarga nasabnya, yang diharamkan sedekah atas mereka sepeninggalnya (Rasulullah saw).”
Menjadi anggota Ahlul Bait tidak pernah diklaim oleh seorang pun dari kaum kerabat Rasulullah saw, dan begitu juga oleh istri-istrinya. Karena jika tidak, maka tentunya sejarah akan menceritakan hal itu kepada kita. Tidak ada di dalam sejarah dan juga di dalam hadis yang menyebutkan bahwa istri Rasulullah saw berhujjah dengan ayat ini. Sebaliknya dengan Ahlul Bait. Inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mengutamakan kami Ahlul Bait. Bagaimana tidak demikian padahal Allah SWT telah berfirman di dalam Kitab-Nya, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Allah SWT telah mensucikan kami dari berbagai kotoran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Maka kami berada di atas jalan kebenaran.”
Putranya al-Hasan as berkata, “Wahai manusia, barangsiapa yang mengenalku maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa yang tidak mengenalku maka inilah aku Hasan putra Ali. Akulah anak seorang laki-laki pemberi kabar gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dengan ijin-Nya, dan pelita yang bercahaya. Saya termasuk Ahlul Bait yang mana Jibril turun naik kepada mereka. Saya termasuk Ahlul Bait yang telah Allah hilangkan dosa dari mereka dan telah Allah sucikan mereka sesuci-sucinya.” Pada kesempatan yang lain al-Hasan berkata, “Wahai manusia, dengarkanlah. Kamu mempunyai hati dan telinga, maka perhatikanlah. Sesungguhnya kami ini adalah Ahlul Bait yang telah Allah muliakan dengan Islam, dan Allah telah memilih kami, maka Dia pun menghilangkan dosa dari kami dan mensucikan kami sesuci-sucinya.”
Adapun argumentasi Ibnu Katsir tentang keharusan memasukkan istri-istri Rasulullah saw tidaklah dapat diterima, karena kehujjahan zhuhur bersandar kepada kesatuan ucapan. Sebagaimana di ketahui bahwa ucapan telah berubah dari bentuk ta’nits pada ayat-ayat sebelumnya kepada bentuk tadzkir pada ayat ini. Jika yang di maksud dari ayat ini adalah istri-istri Rasulullah saw maka tentunya ucapan ayat berbunyi “Innama Yuridullah Liyudzhiba ‘Ankunnar Rijsa Ahlal Bait wa Yuthahhirakunna Tathhira “, karena ayat-ayat tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah saw. Oleh karena itu, Allah SWT memulai firmannya setelah ayat ini, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah….” (QS. al-Ahzab: 34)
Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ayat Tathhir turun kepada istri-istri Rasulullah saw selain dari Ikrimah dan Muqatil. Ikrimah mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan keluarganya maka sesungguhnya ayat ini turun kepada istri-istri Nabi saw.”[66] Perkataan Ikrimah ini tidak dapat diterima, disebabkan bertentangan dengan riwayat-riwayat sahih yang dengan jelas mengatakan bahwa Ahlul Bait itu ialah para ashabul kisa, sebagaimana yang telah dijelaskan.
Kedua, apa yang telah memicu emosi Ikrimah sehingga dia berteriak-teriak di pasar menantang mubahalah?
Apakah karena kecintaan kepada istri-istri Nabi saw atau karena kebencian kepada para Ashabul Kisa`?! Dan kenapa dia mengajak ber-mubahalah jika ayat itu tidak diragukan turun kepada istri-istri Nabi saw?! Atau apakah karena pendapat umum yang berkembang mengatakan bahwa ayat itu turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain?! Dan memang demikian. Ini dapat dilihat dari perkataannya, “Yang benar bukanlah sebagaimana pendapat Anda semua, melainkan ayat ini turun hanya kepada istri-istri Nabi saw.”[67] Ini artinya bahwa di kalangan para tabi’in ayat ini jelas turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as.
Kita juga tidak mungkin bisa menerima Ikrimah sebagai saksi dan penengah dalam masalah ini, disebabkan dia sudah sangat dikenal amat memusuhi Ali. Dia termasuk kelompok Khawarij yang memerangi Ali, maka tentunya dia akan mengatakan bahwa ayat ini turun kepada istri-istri Nabi saw. Karena jika dia mengakui bahwa ayat ini turun kepada Ali maka berarti dia telah menghancurkan mazhabnya sendiri dan telah merobohkan pilar-pilar keyakinan yang mendorong dirinya dan para sahabatnya untuk keluar memerangi Ali as. Di samping sudah sangat terkenalnya kebohongan Ikrimah atas Ibnu Abbas, sehingga Ibnu al-Musayyab sampai mengatakan kepada budaknya, “Jangan kamu berbohong atasku sebagaimana Ikrimah telah berbohong atas Ibnu Abbas.” Di dalam kitab Mizan al-I’tidal disebutkan bahwa Ibnu Ummar pun mengatakan yang sama kepada budaknya yang bernama Nafi’.
Ali bin Abdullah bin Abbas telah berusaha mencegah Ikrimah dari perbuatan berdusta kepada ayahnya. Salah satu cara yang dilakukannya ialah dengan cara menggantung Ikrimah ke atas dinding supaya dia tidak berdusta lagi atas ayahnya. Abdullah bin Abi Harits berkata, “Saya menemui Ibnu Abdullah bin Abbas, dan saya mendapati Ikrimah tengah diikat di atas pintu dinding. Kemudian saya berkata kepadanya, ‘Beginikah kamu memperlakukan budakmu?’ Ibnu Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Dia telah berdusta atas ayahku.’”[68]
Adapun Muqatil, dia tidak kalah dari Ikrimah di dalam permusuhannya terhadap Amirul Mukminin dan reputasi kebohongannya, sehingga an-Nasa’i memasukkannya ke dalam kelompok pembohong terkenal pembuat hadis.[69]
Al-Juzajani di dalam kitab Mizan adz-Dzahab berkata di dalam biografi Muqatil, “Muqatil adalah seorang pembohong yang berani.”[70]
Muqatil pernah berkata kepada Mahdi al-’Abbasi, “Jika Anda mau, saya bisa membuat hadis-hadis tentang keutamaan Abbas.” Namun Mahdi al-’Abbasi menjawab, “Saya tidak perlu itu.”[71]
Kita tidak mungkin mengambil perkataan dari orang-orang seperti mereka. Karena perbuatan yang demikian adalah tidak lain bersumber dari kesombongan dan kebodohan. Karena hadis-hadis sahih yang mutawatir bertentangan dengannya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Dan ini selain dari riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa setelah turunnya ayat ini Rasulullah saw mendatangi pintu Ali bin Abi Thalib setiap waktu salat selama sembilan bulan berturut-turut dengan mengatakan, “Salam, rahmat Allah dan keberkahan atasmu, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hal Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-suci-nya.”‘ Itu dilakukan oleh Rasulullah saw sebanyak lima kali dalam sehari.[72]
Di dalam Sahih Turmudzi, Musnad Ahmad, Musnad ath-Thayalisi, Mustadrak al-Hakim ‘ala ash-Shahihain, Usud al-Ghabah, tafsir ath-Thabari, Ibnu Katsir dan as-Suyuthi disebutkan bahwa Rasulullah saw mendatangi pintu rumah Fatimah selama enam bulan setiap kali keluar hendak melaksanakan salat Subuh dengan berseru, “Salat, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’”[73] Dan riwayat-riwayat lainnya yang serupa yang berkenaan dengan bab ini.
Dengan keterangan-keterangan ini menjadi jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait ialah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Dan tidak ada tempat bagi siapa pun untuk mengingkarinya. Karena orang yang meragukan hal ini adalah tidak ubahnya seperti orang yang meragukan matahari di siang hari yang cerah.
AHLUL BAIT DIDALAM AYAT MUBAHALAH
Sesungguhnya pertarungan antara front kebenaraan dengan front kebatilan di medan peperangan adalah perkara yang sulit, namun jauh lebih sulit lagi jika dilakukan di medan mihrab. Yaitu manakala masing-masing orang membuka dirinya di hadapan Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib, dan menjadikan-Nya sebagai hakim di antara mereka. Pada keadaan ini tidak akan menang orang yang di dalam hatinya terdapat keraguan.
Mungkin saja seseorang merupakan petempur yang gagah di medan peperangan, dan oleh karena itu kita mendapati Rasulullah saw menyeru kepada setiap orang yang mampu memanggul senjata, meski pun dia seorang munafik, untuk berjihad menghadapi orang-orang kafir. Namun, ketika bentuk pertarungan telah berubah dari bentuk peperangan ke dalam bentuk mubahalah dengan orang-orang Nasrani, Rasulullah saw tidak memanggil seorang pun dari para sahabatnya untuk ikut terjun ke dalam bentuk pertarungan yang baru ini. Karena pada pertarungan yang semacam ini tidak akan ada yang bisa maju kecuali orang yang mempunyai hati yang lurus dan telah disucikan dari segala macam dosa dan kotoran. Mereka itulah manusia-manusia pilihan. Orang-orang yang semacam itu tidak banyak jumlahnya di tengah-tengah manusia. Jumlah mereka sedikit, namun mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi.
Siapakah orang-orang yang terpilih itu?
Ketika Rasulullah saw berdebat dengan cara yang paling baik dengan para pendeta Nasrani, Rasulullah saw tidak mendapati dari mereka kecuali kekufuran, pengingkaran dan pembangkangan, dan tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain dari bermubahalah. Yaitu dengan cara masing-masing dari mereka memanggil orang-orang mereka, dan kemudian menjadikan laknat Allah menimpa orang-orang yang dusta. Pada saat itulah datang perintah dari Allah SWT,
“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah kepadanya, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali ‘lmran: 61)
Ketika para pendeta menerima tantangan Rasulullah saw ini, sehingga akan menjadi peperangan penentu di antara mereka, maka para pendeta mengumpulkan orang-orang khusus mereka untuk bersiap-siap menghadapi hari yang telah ditentukan. Ketika telah tiba hari yang ditentukan maka berkumpullah sekelompok besar dari kalangan kaum Nasrani. Mereka maju dengan keyakinan bahwa Rasulullah saw akan keluar menghadapi mereka dengan sekumpulan besar para sahabatnya, sementara istri-istrinya di belakang dia. Namun, Rasulullah saw maju dengan langkah pasti bersama bintang kecil dari Ahlul Bait, yaitu Hasan di sebelah kanannya dan Husain di sebelah kirinya, sementara Ali dan Fatimah di belakangnya. Ketika orang-orang Nasrani melihat wajah-wajah yang bercahaya ini, mereka gemetar ketakutan. Maka mereka semua pun menoleh ke arah Uskup, pemimpin mereka seraya bertanya,
“Wahai Abu Harits, bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?”
Uskup itu menjawab, “Saya melihat wajah-wajah yang jika salah seorang dari mereka memohon kepada Allah supaya gunung dihilangkan dari tempatnya, maka Allah akan menghilangkan gunung itu.”
Bertambahlah ketercengangan mereka. Ketika Uskup merasakan yang demikian itu dari mereka, maka dia pun berkata, “Tidakkah engkau melihat Muhammad sedang mengangkat kedua tangannya sambil menunggu terkabulnya doanya. Demi al-Masih, jika dia menggerakkan mulutnya dengan satu kata saja, maka kita tidak akan bisa kembali kepada keluarga dan harta kita.”[74]
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang dan meninggalkan arena mubahalah. Mereka rela walau pun harus menanggung kehinaan dan memberikan jizyah (denda).
Dengan mereka yang lima Rasulullah saw mampu mengalahkan orang-orang Nasrani dan menjadikan mereka kecil. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya azab tengah bergantung di atas kepala para penduduk Najran. Kalaulah tidak ada ampunan-Nya niscaya mereka telah diubah menjadi kera dan babi, dan dinyalakan atas mereka lembah menjadi lautan api, serta Allah binasakan perkampungan Najran dan seluruh para penghuninya, bahkan burung-burung yang berada di pepohonan sekali pun.”
Namun, kenapa Rasulullah saw menghadirkan mereka yang lima saja, dan tidak menghadirkan para sahabat dan istri-istrinya?
Pertanyaan itu dapat dijawab dengan satu kalimat, yaitu bahwa Ahlul Bait adalah seutama-utamanya makhluk setelah Rasulullah, dan manusia-manusia yang paling suci. Sifat-sifat yang telah Allah SWT tetapkan bagi Ahlul Bait di dalam ayat Tathhir ini tidak diberikan kepada selain mereka. Oleh karena itu, di dalam menerapkan ayat ini kita mendapati bagaimana Rasulullah menarik perhatian umat kepada kedudukan Ahlul Bait. Rasulullah menafsirkan firman Allah yang berbunyi “abna’ana” (anak-anak kami) dengan Hasan dan Husain, “nisa’ana” (istri-istri kami) dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra as, dan “anfusana” (diri-diri kami) dengan Ali as. Itu dikarenakan imam Ali tidak masuk ke dalam kategori istri-istri dan tidak termasuk ke dalam kategori anak-anak, melainkan hanya masuk ke dalam kata “diri-diri kami”. Karena ungkapan “anfusana” (diri-diri kami) akan menjadi buruk jika seruan itu hanya ditujukan kepada diri Rasulullah saw saja.
Bagaimana mungkin Rasulullah saw memanggil dirinya?! Ini diperkuat dengan hadis Rasulullah saw yang berbunyi, “Aku dan Ali berasal dari pohon yang sama, sedangkan seluruh manusia yang lain berasal dari pohon yang bermacam-macam.”
Jika Imam Ali adalah diri Rasulullah saw sendiri, maka Imam Ali memiliki apa yang dimiliki oleh Rasulullah saw, berupa kepemimpinan atas kaum Muslimin, kecuali satu kedudukan yaitu kedudukan kenabian. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah saw di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, “Wahai Ali, kedudukan engkau di sisiku tidak ubahnya sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku.”[75]
Sesungguhnya argumentasi kita dengan ayat ini bukan untuk menjelaskan peristiwa mubahalah, melainkan semata-mata dalam rangka menjelaskan siapakah Ahlul Bait itu. Dan alhamdulillah, tidak ada perbedaan pendapat bahwa ayat ini turun kepada Ashabul Kisa`. Terdapat banyak riwayat dan hadis di dalam masalah ini. Muslim dan Turmudzi telah meriwayatkan di dalam bab keutamaan-keutamaan Ali:
Dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Katakanlah, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu…’ Rasulullah saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu Rasulullah saw berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku.”‘[76]•
@alfanarku
Silahkan dibaca dan dipahami artikel tsb diatas. Wassalmu’alaikum Wr. Wb.
@shohib,
Pertama, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya
kedua, copas yg anda munculkan di atas sudah sering saya baca dr blog orang syi’ah imamiyah
ketiga, sebagian besar syubhat dari tulisan itu sudah banyak dibantah, dan anda dapat menemukannya di artikel di atas ataupun artikel yg lain di blog ini, silahkan dibaca lagi dg hati & akal yg jernih.
keempat, kita sama sekali tidak mengingkari bahwa keluarga Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum adalah ahlul bait Nabi dan mempunyai keutamaan2, tetapi ahlul bait bukan hanya keluarga Ali saja, tetapi istri2 Nabi, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas pun adalah ahlul bait Nabi, dan kita memuliakan mereka semua dengan tidak mengkultuskan mereka.
kelima, kita meyakini bahwa al-ahzab : 33 turun untuk Nabi, istri-istri beliau dan keluarga Ali, sedangkan ayat tersebut sama sekali bukanlah dalil kemaksuman ahlul bait Nabi, yang maksum hanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam saja.
keenam, pembersihan dari Allah tidak sertamerta diberikan kepada ahlul bait Nabi, tetapi didahului dengan perintah dan larangan yg harus dita’ati oleh mereka, termasuk keluarga Ali, dan hal tsb juga menunjukkan besarnya harapan & antusias Nabi agar keluarga Ali dimasukkan dalam ayat pembersihan tsb, disamping dengan do’a juga dg dorongan kepada mereka. lihat kembali copas an anda di atas ”
ketujuh, hadits tsaqalain sudah dibahas dalam blog ini silahkan dibaca.
kedelapan, kebiasaan syi’ah imamiyah memakai dalil ahlus sunnah hanya sepotong-sepotong, hanya yang sesuai dg pahamnya saja dan mengabaikan dalil-dalil shahih yang lainnya, bahkan riwayat2 yg lemah dan mungkarpun dijadikan hujjah jg oleh mereka.
Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.
1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah isteri dari Nabi Ibrahim.
2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah Ibu Nabi Musa As. atau ya Saudara Nabi Musa As.
3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sesudah ayar 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. isteri plus anak-anak beliau.
Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu KELUARGA RUMAHTANGGA RASULULLAH SAW. Berarti, anak Nabi SAW terakhir yang berkedudukan sebagai halulbait ya Bunda Fatimah, lalu apakah bunda Fatimah ini mempunyai hak bernasab sebagaimana dimaksud dlm QS. 33:4-5 dimana nasab keturunan itu diambul dari nasab bapaknya?
Berarti, anak-anak dari Bunda Fatimah tetap saja bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib bukan pada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, perebutan mahkota ‘ahlul bait’ antara kedua golongan yakni Syiah dengan Habaib, tak perlu diteruskan karena mahkota ahlul bait itu sudah terhenti sampai pada Bunda Fatimah saja, tidak berlanjut ke anak cucunya.
Alfanar yang pintar
pertanyaannya adalah:
1. apakah ayat 28-34 Al Ahzab tsb. turun sekaligus?
2. kenapa anda tidak menyertakan asbab an nuzul khususnya terkait dg. “Innama yuridullahu ………………wayuthohirokum tathiiro, karena banyak sekali hadist2 sahih yg terkait dg siapa yg dimaksud Ahlul bait diayat tsb.
3. pembahasan seharusnya juga dengan pendekatan tata bahasa arab, ternyata tidak anda tampilkan selengkapnya?
Sesungguhnya disitu ada Iradah Allah, Kehendak-Nya yang pasti terjadi, dan bukan sekedar angan-angan.
Apa itu kehendak-Nya? yaitu mensucikan sesuci-sucinya.
Apa yg disucikan? yakni Rijs yang berada dalam dada/batin manusia; (menurut yg ahli tata bahasa adalah kotoran batiniah– bukan najis-najis dlm Fiqh praktis sebab beliau SAW pasti sudah terbimbing dan melaksanakannya dlm hal itu)
Siapa yang pasti disucikan sesuci-sucinya? Yakni Ahlul Bait.
Nah sekarang tinggal siapakah Ahlul Bait itu?
Jadi menurut ayat itu sendiri Ahlul Bait yang dimaksud Allah SWT adalah khusus dan terbatas.
Apa yang membatasinya? yakni kata2 : Innamaa….. (tanyakan saja kpd yg ahli tata bahasa Arab)
Nalar kita dimana? kalo kita masukkan seluruh istri2 dan paman (yg kafir pula) sebagai ahlul bait yang dimaksud ayat, padahal kita tahu kehendak Allah SWT tsb pasti terpenuhi, karena jaminan “wayuthohhirokum tathiiro” = disucikan sesuci sucinya pasti melekat pada Ahlul Bait yang dimaksud hingga akhir hayat mereka secara lahiriah maupun batiniyahnya (ma’shum).
Sebagai contoh salah seorang istri Nabi SAW, mengaku telah melanggar perintah Allah & Rasul-Nya, setelah beliau SAW wafat, ini tercatat dalam riwayat-riwayat yang sahih.
Jadi bisa saja ahlulbait dipahami secara umum; siapa saja gak masalah.
Akan tetapi Ahlul Bait yang “disucikan sesuci sucinya” adalah tertentu, karena Allah berkehendak dan pasti terjadi.
Jadi kita harus mencermati “kehendak Allah SWT” yang terpenting di ayat tersebut permasalahannya apa……
Bukan berbangga-bangga sekedar menjadi termasuk Ahlul Bait…….
PRAWACANA
DALAM TRADISI umat Islam di sepanjang zaman, mereka me¬nyebut anak keturunan Rasulullah saw. dari putri tercintanya Fatimah dan menantu kesayangannya Ali as. dengan sebutan Dzurriyah Rasul saw.
Mereka juga disebut dengan gelar Ahlulbait, Alulbait, Itrah Nabi saw., awliid atau abnii’ Rasul saw.
Di sini perlu sedikit diperjelas makna bahasa dan penggunaan kata-kata tersebut di atas.
A) Ahlu
Kata ini berasal dari kata ahila, ahlan, yang berarti akrab, mesra dalam bergaul, tidak menggusarkan. Kata ahlu artinya keluarga dan kerabat. Mereka disebut demikian karena mereka¬lah yang akan hidup damai dan mesra dengan kepala rumah tangga misalnya.
Ahlur Rajuli, adalah sesiapa yang disatukan oleh nasab dengannya, atau oleh agama atau yang semisalnya, seperti rumah, profesi atau daerah.
B) Alu
Kata ini berasal dari kata kerja ala, yaUlu, artinya kembali, kata al madi arti tempat kembali. Kata Alu Rajuli adalah ahlu-nya. Kata ini tidak dipergunakan kecuali dalam sesuatu yang me-ngandung kemuliaan, karenanya tidak benar kita mengatakan misalnya, dia pemungut sampah (keluarga pemungut sampah).
Kata alu rasul artinya anak keturunan dan kerabat yang disatukan oleh nasab dengan beliau.
Dalam Mufraddt-nya, Raghib al Isfahani menerangkan, “Alu adalah bentuk rubahan dari kata Ahlu, ia di-taqshir-kan (dikecilkan) menjadi Uhail. Hanya saja (perbedaannya dengan ahlu) ia digandengkan dengan nama tidak boleh digandengkan dengan kata benda (bukan nama) yang tidak tertentu, atau masa atau tempat. Boleh dikatakan Alu si fulan, dan tidak boleh dikatakan alu seorang (tanpa menyebut pasti namanya).”
alu Nabi saw. adalah kerabat beliau yaitu semua yang kembali kepada Nabi saw.
C) Itrah
Kata itrah adalah anak, keturunan atau keluarga seorang. Al Jauhari dalam kamus ash Shihah-nya, mengatakan: “Itrah seorang adalah keturunannya dan keluarga de¬katnya.”
Ibnu al Atsir dalam Nihayah-nya ketika menyebut hadis tsaqalain, berkata:
“Itrah seseorang adalah famili yang sangat khusus/ dekat.”
Ibnu Mandzur dalam LisanuZ Arab-nya, setelah meriwa¬yatkan hadis tsaqalain clan menukil ucapan Ibnu al Atsir di atas, ia mengatakan, “Ibnu al ‘Arabi berkata: al itrah adalah anak dan keturunan seorang dari sulbinya sendiri. Ia melanjutkan: Adapun itrah Nabi saw. adalah putra-putra Fathimah al Batul as.
As Suyuthi dalam kitab an Natsir-nya berkata: “Itrah seseorang adalah famili yang sangat khusus/ dekat.”
Al Fairuz Abadi dalam kitab aZ Qamus-nya mengatakan: “AI itrah (dengan dibaca kasrah huruf ‘ain-nya) adalah keturunan seorang, golongan dan keturunan terdekat¬nya.”
Az Zabidi dalam kitab T lijul :4rz1s-syarah kitab al Qamus di atas-menerangkan pendapat -pendapat di atas.
D) Nasl
Kata ini terambil dari kata keIja nasala, yansilu, naslan, seperti contoh nasala ashshuf artinya menghempaskan atau menjatuhkan bulu domba. Kata nasala ar rajulu, artinya orang itu banyak anaknya. Naslu arajuli artinya anak seorang, disebut demikian karena ia jatuh dari ayahnya.
E) Dzurriyah
Kata dzurriyah berasal dari kata kerja dzarri artinya mencipta dan berarti juga membanyakkan. Atau bisa jadi diambil dari kata kerja dzarri artinya terbang dan mencecer. Contoh dzarat ar rfh at turlib artinya angin itu menerbangkan debu dan men¬cecerkannya. Atau boleh jadi diambil dari kata dzarara artinya anak -anak kecil.
Kata dzurriyah dipergunakan untuk arti anak-anak dan keturunan hingga hari kiamat, tidak terbatas hanya pada anak langsung.
Penggunaan Istilah Ahlulbait
Kata Ahlulbait dalam riwayat-riwayat yang datang dari Nabi mulia saw. dan para imam suci dapat dipergunakan dalam empat arti sesuai dengan luas atau sempitnya cakupan.
Nalar anda yang dimana? istri-istri Nabi adalah wanita-wanita pilihan yang dipilih oleh Allah untuk mendamping rasul-Nya, mereka juga ahlul bait beliau. sedangkan istri-istri beliau tidak ada yang kafir. siapa yg anda maksud paman (yg kafir pula)?. ayat di atas pada dasarnya adalah ayat untuk istri-istri beliau
Tidak ada yang ma’shum selain Nabi SAW.
@sandi
bila anda simak baik2 prawacana diatas, ahlulbait dapat diartikan :
1. secara umum
2. secara khusus
3. secara lebih khusus dan terbatas
secara umum, bisa saja seluruh istri dan keluarga besarnya, dan keturunannya hingga hari kiamat.
secara khusus, didalam hadist Nabi SAW pun menyebut beberapa sahabat sebagai ahlul baitnya.
secara lebih khusus dan terbatas, yakni Ahlul Bait yang memang itu adalah kehendak Allah SWT untuk “mensucikan se suci2nya”.
Disini anda harus pahami bahwa ayat ini terdapat IRADAH ALLAH SWT.
Al Qur’an lah yang membatasi “Ahlul Bait” yang disucikan se suci2nya.
Suci se suci2nya, bukan sekedar sebagai Muslim/at saja atau tidak keluar dari agama, tapi mereka yang disucikan se suci2nya, adalah mampu menjaga Imannya tidak tercemar sedikitpun oleh kezaliman.
Adanya orang2 yang maksum setelah Nabi SAW diisyaratkan QS 6:82, QS 4:59 dll.
Logikanya begini…….
Kalau anda percaya sekarang ini ada makhluk yang paling bejat.
Maka tentunya Allah SWT, pasti menjadikan makhluk yang paling tinggi kwalitatas imannya………..
Dan mana pilihan aql dan nalar anda terhadap 4 kemungkinan kondisi manusia dibawah ini ?
1. manusia yang berbuat kezaliman selama hidupnya
2. manusia yang belum pernah berbuat kezaliman selama hidupnya.
3. manusia yang berbuat kezaliman pada awal hidupnya tetapi tidak pada akhirnya.
4. manusia yang tidak berbuat kezaliman pada awal hidupnya tetapi berbuat kezaliman pada akhirnya.
Prinsip keutamaan/pembatasan/kekhususan itu merupakan Sunnatullah, dari sekian ratus ribu Nabi/Rasul yang ditunjuk-Nya, Al Qur’an menyatakan hanya 5 (lima) Nabi/Rasul Ulul Azmi, kemudian Allah SWT. menetapkan penghulu para Nabi/Rasul yakni Muhammad SAW.
Siapa yang terbaik kwalitas spiritual, ilmu dan amalnya setelah Rasul SAW wafat? Tentunya hanya 1 (satu) sebagai pengemban Ulil Amri yang wajib dita’ati (QS 4:59)
Semoga anda tidak salah menetapkan keyakinan….., karena nanti akan di tanyakan-Nya.
@ Saiful,
Sekali lagi tidak ada ada yang ma’shum selain Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein ra adalah manusia biasa yang bisa berbuat keliru.
Janganlah anda seperti Yahudi dan Nashrani yang suka mengkultuskan manusia.
Semoga anda tidak salah menetapkan keyakinan….., karena nanti akan di tanyakan-Nya.
Ralat:
Sekali lagi tidak ada yang ma’shum selain Nabi SAW. Sedangkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husein ra adalah manusia biasa yang bisa berbuat keliru.
Janganlah anda seperti Yahudi dan Nashrani yang suka mengkultuskan manusia.
Semoga anda tidak salah menetapkan keyakinan….., karena nanti akan di tanyakan-Nya
Al Qur’an adalah penjelas segala sesuatu…….,
Kalau kita berdialog mari ajukan argumentasi masing-masing, dan setiap pertanyaan hendaknya harus dijawab. (pertanyaan yang saya postingkan seluruhnya belum dijawab….)
Bila cara dialog anda seperti ini, ini bukanlah dialog untuk mencari kebenaran. Disini anda sekedar mengklaim pandangan andalah yang paling benar…..
Istilah ma’sum (ya’shimu) itu bukan dari Yahudi/nasrani, tapi murni istilah Qur’ani, coba periksa dan bacalah Al Qur’an.
Saya tidak menulis soal mengkultuskan manusia, tapi andalah yang memunculkan istilah tsb. Apakah anda tidak sadar, bahwa andapun sedang “mengkultuskan manusia” yakni Ulama2 yang anda ikuti????????
Yang saya kemukakan adalah:
Prinsip keutamaan/pembatasan/kekhususan itu merupakan Sunnatullah, dari sekian ratus ribu Nabi/Rasul yang ditunjuk-Nya, Al Qur’an menyatakan hanya 5 (lima) Nabi/Rasul Ulul Azmi, kemudian Allah SWT. menetapkan penghulu para Nabi/Rasul yakni Muhammad SAW.
….. dan tiada perubahan terhadap Sunnatullah……
Jadi saya berharap anda tanggapi ini dulu, kalau anda memang ingin melanjutkan dialog dengan saya…….
yang anda kemukakan selalu prinsip-prinsip yg masih umum yg anda gunakan untuk menjustifikasi paham anda, terlalu banyak kemungkinan dr apa yg anda kemukakan dan sama sekali tidak bisa mendukung hujjah anda. Bukankah itu bagi Nabi dan Rasul? apakah kemudian begitu saja kita bisa terapkan kepada yg lain? jangan mengeneralisir lah.
Ahlul bait dan juga sahabat Nabi SAW adalah bukan orang-orang yang ma’shum terlalu banyak hal utk membuktikan hal tsb, contoh satu, silahkan baca artikel terbaru blog ini tentang Imam Ali, ternyata beliau manusia biasa yang bisa berbuat keliru, tetapi bagi kami ahlussunnah hal tsb sama sekali tidak mengurangi keutamaan beliau sebagai salah satu keluarga dan sahabat Nabi SAW. berbeda dengan Syi’ah yg mempunyai keyakinan bahwa Imam mereka ga boleh keliru sama sekali.
http://alfanarku.wordpress.com/2010/11/02/%E2%80%98aliy-bin-abi-thaalib-shalat-sambil-mabuk/
[...] Sumber: http://alfanarku.wordpress.com/2010/01/24/ahlul-bait-surat-al-ahzab-33/ [...]
[...] Wasallam DUNIA AKHIRATKisah Islamnya Bocah AmerikaKitab-kitab Samawi (dari Buku-buku Syi’ah)Ahlul Bait dalam Surat Al-Ahzab : 33Diantara Bukti Keabsahan Kekhalifahan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma [...]
perebutan tahta yang tak bermahkota lagi!
http://pemikiranislam.net/2011/12/menggugat-sekte-ahlul-bait/comment-page-1/#comment-713
“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ” Tidak, Demi Allah seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]
kata demi allah nya zaid adalah sumpah kepada allah,bahwa beliau mengatakan istri nabi bukan ahl bait nabi…adakah riwayat lain yg memakai sumpah kepada allah yg menyatakan istri nabi adalah ahl bait…
@Hai Ubaid Malahayati,
فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده
Kami bertanya “siapakah ahlul baitnya?” apakah istri istrinya?. Zaid menjawab “tidak, demi Allah seorang istri bisa saja ia terus bersama suaminya kemudian bisa juga ditalaknya hingga akhirnya ia kembali kepada ayahnya dan kaumnya. Yang dimaksud Ahlul baitnya adalah keturunan dan keluarga Beliau yang diharamkan menerima sedekah sepeninggalnya [Shahih Muslim 4/1873 no 2408]
Zaid menjawab tidak , karena menurut pendapatnya seorang istri bisa saja ia terus bersama suaminya kemudian bisa juga ditalaknya hingga akhirnya ia kembali kepada ayahnya dan kaumnya. Tetapi pada kenyataannya hal itu tidak berlaku terhadap istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, Nabi tidak pernah mentalak istri-istri beliau selama beliau masih hidup, demikian juga sepeninggal Nabi mereka tidak menikah dengan lelaki lain karena memang dilarang oleh Allah dan kedudukan mereka adalah ummahatul mukminin, Bahkan salah satu istri beliau yaitu Aisyah adalah istri beliau di dunia ini dan di akhirat nanti sebagaimana diriwayatkan dengan jelas mengenai hal ini. Ammar bi Yasir saja mengakui hal ini di saat perang Jamal. Sehingga dengan demikian istri-istri Nabi tetap terus bersama Nabi dan termasuk yang diharamkan menerima sedekah.
Disamping terdapat riwayat Zaid dalam shahih Muslim juga, yang menyebutkan bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah juga ahlul bait Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.
Riwayat Zaid bin Arqam yang lain dalam riwayat Muslim adalah sebagai berikut :
وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ
Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya. (Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali)
Pertanyaan Hushain di atas mengapa langsung mengarah ke istri-istri Nabi , jelas kita bisa memahaminya karena Hushain memahami Ahlul Bait adalah orang-orang yang menghuni rumah Nabi dan mereka adalah istri-istri Nabi, maka kemudian Zaid membenarkan memang istri-istri Nabi adalah termasuk ahlul bait beliau, tetapi ahlul bait yang dimaksud oleh Zaid adalah bukan hanya istri-istri Nabi tetapi ahlul bait dalam pengertian yang lebih luas yaitu mereka yang diharamkan menerima sedekah, yang termasuk di dalamnya adalah Keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas. Jika keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas adalah keluarga yang tidak boleh menerima sedekah, apalagi keluarga Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam harus tidak boleh menerima sedekah dan keluarga beliau adalah termasuk di dalamnya istri-istri beliau. Itulah pengertian yang dapat kami ambil dari hadits di atas.
Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri memanggil istri-istri beliau dengan sebutan ahlul bait :
“….Nabi pergi dan menuju tempat kediaman Aisyah dan berkata, “Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah” (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu), ia menjawab, “Wa alaika salam wa rahmatullah” (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu).“Bagaimana Anda menemukan istri baru Anda? Semoga Allah memberkati Anda”. Lalu beliau pergi ke tempat-tempat kediaman semua istri-istri beliau yang lain dan berkata kepada mereka sama seperti apa yang beliau katakan kepada Aisyah dan mereka pun menjawab beliau sama seperti Aisyah telah menjawab beliau…..” (Shahih Bukhari 6/119 No. 4793) sebagaimana sudah dituliskan dalam artikel di atas.
Pilih mana, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam atau ijtihad Zaid bin Arqam?
Ingat, Zaid dalam riwayat yang lain dalam Shahih Muslim justru mengatakan bahwa Istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah ahlul bait.
Bahkan Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wasalam yang memanggil mereka ahlul bait :
“….Nabi pergi dan menuju tempat kediaman Aisyah dan berkata, “Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah” (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu), ia menjawab, “Wa alaika salam wa rahmatullah” (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu)…“Bagaimana Anda menemukan istri baru Anda? Semoga Allah memberkati Anda”. Lalu beliau pergi ke tempat-tempat kediaman semua istri-istri beliau yang lain dan berkata kepada mereka sama seperti apa yang beliau katakan kepada Aisyah dan mereka pun menjawab beliau sama seperti Aisyah telah menjawab beliau…” (Shahih Bukhari 6/119 No. 4793) sebagaimana sudah dituliskan dalam artikel di atas.
Apakah tidak cukup Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam buat anda?